Kamis, 30 Agustus 2007

105 Perupa Pameran Bersama Peringati 100 Tahun Affandi

Yogyakarta, Memperingati 100 tahun maestro lukis Affandim, para perupa di Yogyakarta menggelar pameran bersama. Pameran akan dibuka oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik pada hari Sabtu 1 September di Bentara Budaya Yogyakarta.

Pameran yang akan berlangsung di tiga tempat yakni Bentara Budaya di Jl Suroto Kotabaru, Museum Affandi Jl Laksda Adisucipto dan Taman Budaya Yogyakarta di Jl Sriwedani. Pameran akan diikuti 105 perupa dari berbagai daerah dan generasi. Pameran dengan mengambil tema 'Boeng Ajo Boeng' tersebut, digelar selama setengah bulan penuh ini yang dimulai dari tanggal 1 hingga 14 September 2007.

Tema ini diambil dari judul poster yang dibuat Affandi tahun 1945, yaitu 'Boeng Ajo Boeng: Tafsir Ulang Nilai-nilai Manusia Affandi'.

Usai pembukaan, para seniman yang dimotori pelukis Djoko Pekik, akan menyuguhkan pementasan kethoprak perupa dengan lakon 'Gambar Nyalawadhi'. 90 persen pemain kethoprak tersebut, berasal dari kalangan perupa dan kurator antara lain Djoko Pekik, Romo Sindhunata, I Wayan Cahya, Yuswantoro Adi, dan Bambang Heras.

Menurut panitia peringatan 100 Tahun Affandi, Helfi Dirix, pameran 105 perupa dari berbagai generasi yang digelar mulai 1-14 September merupakan rangkaian peringatan 100 Tahun Affandi yang sudah dimulai sejak awal Mei lalu.

Selain itu, kata Helfi Dirix salah seorang cucu Maestro Lukis Affandi, juga akan digelar seminar tentang Affandi. Melalui kegiatan ini, kata dia, diharapkan bisa menjadi jembatan harmonis sesama seniman dan budayawan yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya.

"Pameran senirupa yang melibatkan dari beragam generasi dan media ekspresi visual, merupakan kesengajaan untuk menciptakan pola hubungan yang lebih humanis di kalangan masyarakat. Namun semuanya dibingkai dalam satu semangat, yaitu tentang semangat nilai-nilai kemanusiaan," kata Helfi Dirix disela-sela mempersiapkan pameran di Museum Affandi, Jalan Laksda Adisutjipto, Yogyakarta, siang tadi (30/8).

Sejumlah perupa yang terlibat dalam pameran tersebut, antara lain Abdi Setyawan, Ade Darmawan, Agapetus Kristiandana, Agung Kurniawan, Agus Burhan, Agus Kamal, Agus Leonardus, Agus Yulianto, Ahmad Gani, Ali Umar, Altje Ully, Amrianis, Amrus Natalsya, Andre Tanama, Anusapati, Arahmalani, Arie Dyanto, AS Kurnia, Asmudjo Jono Irianto, Ay Tjoe Christine, Bambang Pramudyanto, Bambang Soekarno, Bambang “Toko” Wicaksono, Cadio Tarompo, Didik Nurhadi, Didit Budi Karyawan, Djoko Pekik, Dona Prawita Arrisuta, Dyan Anggraini, Edi Prabandono, Edi Sulistyo, Edi Sunaryo, Edward 'Edo' Pop, Eko Nugroho, Eko Prawoto, Endang Lestari, Entang Wiharso, Erizal, Fadjar Djunaedi, Gusmen Heriadi, Hanafi, Hedi Hariyanto, Heri Dono, Heri Purwanto, I Gusti Ngurah Udiantara, Iriantine Kamaya, Irwan Ahmett, Ivan Sagito, Iwan Effendi, Januri, Julnaidi MS, Kartika Affandi, Komunitas Seni Belanak, Koni Herawati, Laksmi Shitaresmi, Lian Sahar, Made Toris Mahendra, Mella Jaarsma, Melodia, Mess 56, Nasirun, Nico Siswanto, Niko Rikardi, Nindityo Adipurnomo, Noor Sudiyati, Nurkholis, Nyoman Gunarsa, Ojite Budi Sutarno, Oskar Matano, Pande Ketut Taman, Pramono Pinunggul, Putu Sutawijaya, Putu Wirantawan, Putut Wahyu Widodo, Riduan, Robi Fathoni, Ronald Manullang, Rosid, Ruangrupa, Rudi Mantofani, Rukmini Affandi, Slamet “Soneo” Santoso, S. Teddy D, Samsul Arifin, Setyo Priyo Nugroho, Sigit Santoso, Soeprapto Soedjono, Stefan Buana, Suatmadji, Sudargono, Sudarisman, Suklu, Syahrizal Pahlevi, Taufan St., Teguh Wiyatno, Terra Bajragosha, Tisna Sanjaya, Ugie Sugiarto, Ugo Untoro, Wara Anindyah, Wedhar Riyadi, Yani Mariani Sastranegara, Yuli Prayitno, Zirwen Hasri

Dengan keikutsertaan para perupa dari beragam generasi ini, tentunya makin menambah variasi lukisan yang dipamerkan. Karena karya-karya mereka yang bakal dipamerkan, tentunya beragam media ekspresi visualnya.

Pameran perjalanan pelukis Maestro Affandi ini, diharapkan tidak serta merta hanya akan menghasilkan rentetan karya yang harus memvisualkan figur atau wajah Affandi secara 'Wadag'. Biar semua ekspresi yang ada itu mengalir bagai air, toh akhirnya akan sampai ke muara.

Karena yang terpenting, tambah Helfi Dirix, dari rancangan pameran ini adalah berimplikasi pada sebuah cara pandang publik khususnya seniman dalam melihat kembali nilai-nilai kemanusiawian kita (hari ini), yang diberangkatkan dari kasus manusia Affandi.

Sedangkan menurut Kuss Indarto salah satu kurator pameran menyatakan, tema ini diangkat karena secara tematik pameran tersebut terinspirasi dari satu slogan yang cukup kental di masa awal kemerdekaan.

Ketika itu Affandi pernah diminta secara khusus oleh Presiden Soekarno mewakili golongan seniman untuk turut mengobarkan semangat nasionalisme dan membela negeri di awal kemerdekaan.

"Waktu itu inspirasi muncul dari penyair Chairil Anwar, satu teman baik Affandi. Maka jadilah poster legendaris yang kami ambil spiritnya untuk masa sekarang," kata Kuss Indarto mencoba menjelaskan.

Rangkaian puncak peringatan akan dibuka 1 September di Bentara Budaya Yogyakarta sekaligus bersamaan dengan perayaan HUT ke-25 Bentara.

Acara tersebut akan diisi pula dengan pentas ketoprak perupa yang dimainkan oleh perupa dan kritikus seni dengan Sutradara Nano Asmorondono dengan judul cerita "Gambar Nyolowadi".

Tidak ada komentar: