Sabtu, 10 Mei 2008

Pengantin Pamitan Pada Sultan

Yogyakarta, Kedua mempelai pamitan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X. Setelah menikah GKR Maduretno dan KPH Purbodiningrat tidak akan tinggal di kraton tapi di rumahnya sendiri di kawasan Maguwoharjo, Sleman.

Sebeluma acara pamitan Sultan sempat bercakap-cakap dengan besan Hj Handayati Djuwanto. Dia sempat menanyakan kepada Handayati apakah bisa beristirah cukup di Dalem Kesatriyan. "Saged sare? Saged ngaso?" tanya Sultan.

"Inggih, saged ngantos dalu (sampai malam-red)" jawa Handayati pelan.

Acara pamitan dimulai dengan permohonan dari KGPH Hadiwino sebagai pimpinan rombongan yang mengungkapkan bila keluarga besan akan pamitan pulang ke rumah setelah 3 hari berada di kraton untuk nyantri.

Saat acara pamitan raja Kraton Yogyakarta itu berpesan agar keduanya tidak saling merendahkan atau menguasai, namun duduk sama rendah dan berdiri sama atau saling menjaga diri dan menjaga martabat. Sebab keduanya sudah menjadi sebuah keluarga besar.

Pesan itu disampaikan Sultan didampingi permaisuri GKR Hemas saat acara pamitan di Gedhong Jene kraton, Sabtu (10/5/2008). Hadir dalam acara itu adik Sultan, KGPH Hadiwinoto, GBPH Prabukusumo, putri sulung Sultan, GKR Pembayun bersama suami KPH Wironegoro, GKR Condrokirono, GRAj Nurabra Juwita, GRAj Nur Astuti Wijareni. Sedang dari besan, ibunda Hj Handyati Djuwanto dan Didik Nugrahanto.

Kepada kedua mempelai Sultan mengatakan sebagai orangtuanya hanya bisa mengucapkan selamat dan memberi restu. Sebab pernikahan yang dilakukan adalah pilihan mereka berdua bukan pilihan orangtua. Mulai saat ini, keduanya sudah menjadi sebuah keluarga yang resmi. Perkawinan itu bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk keluarga besar.

"Sebagai orangtua, kami punya kewajiban untuk mengawinkan anak dan hanya bisa mengantarkan anakn sebagai keluarga. Orangtua sudah tidak ikut campur lagi sebab semuanya juga sudah sama dewasa," pesan Sultan.

Sultan juga berpesan agar keduanya berbuat baik, tidak melakukan hal-hal yang bisa merugikan orang lain. Kedua mempelai harus bisa saling menerima perbedaan, saling menjaga, saling menghargai, tidak saling menguasai serta menjaga martabat.

"Bisa saling membangun dialog. Semua harus jujur, itu penting dan jalan yang laing baik. Jangan ada yang saling menyalahkan, duduk sama rendah berdiri sama tinggi," kata Sultan.

Seusai memberikan pesan, kedua mempelai kemudian meminta doa dan restu dari Sultan dan Hemas. GKR Maduretno kemudian mencium lutut Sultan dan Hemas yang dilanjutkan oleh KPH Purbodiningrat. GKR Hemas juga sempat mencium kedua mempelai. Sedangkan kepada paman, kakak dan adiknya, kedua mempelai hanya berjabat tangan dan saling berpelukan memberikan ucapan. Mereka juga meminta restu kepada semua yang hadir di Gedhong Jene, termasuk kepada kakak Purbodiningrat, Didik Nugrahanto dan ibu Hj Handayati Djuwanto.

Seusai pamintan, rombongan yang dipimpin KGPH Hadiwinoto dan GBPH Joyokusumo kembali ke Dalem Kesatriyan. Rombongan besan selanjutnya pamit pulang ke rumah melalui regol/pintu belakang Magangan.

Tidak ada komentar: