Yogyakarta, Sidang kode etik kasus perselingkuhan dua Kapolsek di wilayah Polres Sleman segera digelar. Sebelumnya jabatan dua kapolsek yakni Kapolsek Sleman, AKP Rahmawati Wulansari dan Kapolsek Mlati AKP Adib Rojikan sudah dicopot dari jabatannya.
Serah terima jabatan (sertijab) keduanya sudah dilakukan pada hari Kamis 29 Mei 2008 di Mapolres Sleman di Jl Magelang Km 15. Acara sertijab dilakukan bersamaan sertijab lainnya yang dipimpin langsung Kapolres Sleman AKBP Suharsono.
AKP Rahmawati Wulansari digantikan AKP Haryanto yang semula sebagai Perwira Unit Narkoba Polda DIY. Sedangkan AKP Adib Rojikan digantikan oleh AKP Verro Arya yang semula adalah Kapolsek Bulak Sumur, Depok. Namun dalam acara itu keduanya Kapolsek yang terlibat selingkuh tidak hadir karena masih menjalani penahanan.
"Sidang kode etik akan dilakukan kesatuan masing-masing. Polda nantinya hanya akan menjadi pengawas proses persidangan," kata Kapolda DIY Brigjen Untung Suharsono Radjab kepada wartawan di Mapolda DIY, Ringroad Utara, Condongcatur Depok Sleman, Jumat (30/5/2008).
Namun kata dia, apabila yang bersangkutan tidak menerima putusan Ankum (Atasan Menghukum) yang berlaku dalam sidang kode etik, mereka bisa dilakukan banding.
"Dalam hal ini pelaksananya adalah Wakapolres, lha nantinya kalau ada pihak yang tidak menerima keputusan sidang kode eti, banding bisa ke atasan Ankum atau ke Polda DIY," kata dia.
Dia mengatakan sanksi secara kode etik memiliki sifat yang lebih berat. Sedang mengenai pidananya harus ada laporan dari pihak yang menjadi korban. Selain itu, dirinya tidak bisa memprediksikan, sanksi apa yang bakal diterima kedua perwira itu.
"Kalau kode etik sanksinya bisa lebih berat bisa sampai dipecat, tergantung hasil penyelidikan dan pembuktian di persidangan kode etik, termasuk tergantung dari Ankum dalam memberikan sanksi. Kita tidak akan intervensi hanya mengawasi saja," pungkas Untung.
Jumat, 30 Mei 2008
Berburu Harta Karun Soekarno Hingga Ahmad Zaini
Yogyakart, Kasus penipuan harta karun peninggalan Presiden Soekarno baik dalam
bentuk emas lantakan, surat-surat berharga di Bank Swiss, di Batu Tulis Bogor hingga harta 17 triliun milik Ahmad Zaini sampai sekarang masih ramai dibicarakan. Orang yang menjadi korbanpun tidak hanya masyarakat tingkat bawah yang mengalami kesulitan ekonomi, tapi orang-orang kaya/pengusaha.
Mereka percaya harta karun peninggalan Soekarno yang berupa emas lantakan, perhiasan emas permata dan platina peninggalan zaman-zaman kerajaan di nusantara tersimpan di Bank of Switzerland atau di Union Bank of Switzerland. Sedang surat-surat deposito, surat colateral dikabarkan tersimpan di sana dan hanya orang-orang tertentu yang masuk jaringan kelompok/mafia itu yang bisa mencairkannya.
Embel-embel yang selalu didengungkan kepada calon sasaran, bila dana itu cair bisa untuk bayar hutang Indonesia dan menyantuni rayat miskin seluruh Indonesia. Untuk mendapatkannya bumbu-bumbu klenik dan mistik pun muncul. Selain itu orang yang ingin mendapat hibah itu juga harus mengeluarkan uang tidak sedikit jumlahnya.
Berdasarkan penulusuran detikcom, kasus-kasus seperti sudah mulai muncul sejak tahun 1998 hingga sekarang. Selain hibah harta karun Soekarno, yang masih ramai dicari adalah samurai-samurai peninggalan tentara Jepang di Indonesia yang bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Konon samurai-samurai itu masih banyak disimpan oleh orang-orang tertentu baik
di Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku yang pernah diduduki tentara
Jepang. Caranya memperolehnya juga secara gaib lewat puasa, sesajen dll. Bahkan di kawasan Pantai Jalasutra Kabupaten Blitar Jawa Timur dipercaya tempat pahlawan tentara PETA Supradi menyimpan samurai sebelum dibunuh tentara Jepang.
Untuk bisa bertransaksi dan mengetahui mana yang asli atau palsu, kelompok ini juga sudah menyebarkan berbagai brosur fotokopian. Lagi-lagi tebusan uang atau mahar disertai bumbu aroma klenik dan magis juga tersebar.
Cara-cara menggaet masyarakat untuk ikut pun bermacam-macam. Ada yang berkedok menggunakan nama sebuah yayasan. Adapula pula dengan cara perseorangan yang mendapat wasiat atau amanah dapat mencairkan dana. Aroma magis dan bumbu klenik seperti laku tapa dan prihatin juga selalu menyertai.
Orang yang sudah masuk anggota yayasan dan diberikan sertifikat serta membayar uang mulai ratusan ribu hingga puluhan jutaan rupiah. Setelah itu dijanjikan akan mendapat hibah atau warisan dari harta tersebut.
Tidak hanya itu, untuk menyakinkan orang, mereka juga menunjukkan fotokopian surat-surat berharga tersebut. Namun kalau ditanya mengapa hanya fotokopian. Jawabanya yang asli masih disimpan seseorang yang paling dipercaya dan alasan
keamanan. Surat-surat yang beredar itu biasanya Certificate of AO Metal Deposite, Certificate of Family Heritage dan Certificate of Gold Deposite berwarna kecoklatan seolah-olah asli dan benar-benar sudah lama tersimpan.
Di wilayah Jawa Tengah kasus pertama yang pernah mencuat di media massa adalah tahun 1998 di Solo. Pada tahun 2003 di Yogyakarta yang menjadi korban adalah seorang Sultan dari Kerajaan Zulu di Philipina. Sultan Maulana Jamilul Kiram III dan seorang warga Brunei yang sudah mengeluarkan uang puluhan juta sudah tertipu mentah-mentah kelompok Suparman asal Klaten. Dia dijanjikan akan mendapat warisan 10 ton emas lengkap dengan surat-suratnya. Namun semua itu palsu.
Sedang pada tahun 2005 warga ratusan Sleman, Kulonprogo, Purworejo dan Magelang yang digaet dengan cara masuk sebuah yayasan amal yang dijanjikan akan mendapat hibah harta karun Soekarno yang masih tersimpan di luar negeri.
Belum lagi cerita Asmo Suwito (80) warga Dusun Gergunung Desa Sendangsari Kecamatan Pengasih. Kakek ini mengaku mendapat harta karun sebanyak 40 batang emas lantakan beserta surat-suratnya. Harta karun itu katanya didapatkan secara gaib. Emas itu di
Asmo mengaku mendapat emas batangan bergambar lambang Vereningde Oostindische Compagnie (VOC) dengan berbagai ukuran. Barang itu dilengkapi surat-surat tanda keabsahan dari Union Bank of Switzerland.
Emas batangan yang dimiliki Asmo itu sebagian besar berukuran sebesar bungkus rokok dengan berat sekitar 500 gram. Sebagian lagi berukuran lebih kecil sebesar korek api.
Namun ketika dibandingan dengan uang benggol dari tembaga zaman Hindia Belanda berbeda sekali. Uang zaman Belanda ada gambar mahkota lengkap dengan tulisan Vereenigde Oostindische Compagnie serta tahun pembuatan. Sedang emas milik Asmo bertuliskan VOC, ada lambang padi kapas, gambar Soekarno pakai peci dan
tulisan 999 yang menunjukkan kadar karat emas.
"Jelas palsu kalau emas peninggalan Soekarno ada gambar Bung Karno. Lambang mahkota dengan uang benggol VOC berbeda. Apa zaman VOC sudah mengenal lambang padi kapas," kata Hari Cahyono seorang kolektor uang kuno kepada detikcom.
Bisa jadi kasus harta 17 triliun milik warga Tasikmalaya, Ahmad Zaini itu hanya berupa surat-surat berharga yang seolah-olah asli dikeluarkan oleh Bank Swiss. Karena dia menganggap sebagai pemegang amanah atau kuasa, dia bisa mencairkan kemudian membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan lewat proposal yang masuk.
bentuk emas lantakan, surat-surat berharga di Bank Swiss, di Batu Tulis Bogor hingga harta 17 triliun milik Ahmad Zaini sampai sekarang masih ramai dibicarakan. Orang yang menjadi korbanpun tidak hanya masyarakat tingkat bawah yang mengalami kesulitan ekonomi, tapi orang-orang kaya/pengusaha.
Mereka percaya harta karun peninggalan Soekarno yang berupa emas lantakan, perhiasan emas permata dan platina peninggalan zaman-zaman kerajaan di nusantara tersimpan di Bank of Switzerland atau di Union Bank of Switzerland. Sedang surat-surat deposito, surat colateral dikabarkan tersimpan di sana dan hanya orang-orang tertentu yang masuk jaringan kelompok/mafia itu yang bisa mencairkannya.
Embel-embel yang selalu didengungkan kepada calon sasaran, bila dana itu cair bisa untuk bayar hutang Indonesia dan menyantuni rayat miskin seluruh Indonesia. Untuk mendapatkannya bumbu-bumbu klenik dan mistik pun muncul. Selain itu orang yang ingin mendapat hibah itu juga harus mengeluarkan uang tidak sedikit jumlahnya.
Berdasarkan penulusuran detikcom, kasus-kasus seperti sudah mulai muncul sejak tahun 1998 hingga sekarang. Selain hibah harta karun Soekarno, yang masih ramai dicari adalah samurai-samurai peninggalan tentara Jepang di Indonesia yang bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Konon samurai-samurai itu masih banyak disimpan oleh orang-orang tertentu baik
di Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku yang pernah diduduki tentara
Jepang. Caranya memperolehnya juga secara gaib lewat puasa, sesajen dll. Bahkan di kawasan Pantai Jalasutra Kabupaten Blitar Jawa Timur dipercaya tempat pahlawan tentara PETA Supradi menyimpan samurai sebelum dibunuh tentara Jepang.
Untuk bisa bertransaksi dan mengetahui mana yang asli atau palsu, kelompok ini juga sudah menyebarkan berbagai brosur fotokopian. Lagi-lagi tebusan uang atau mahar disertai bumbu aroma klenik dan magis juga tersebar.
Cara-cara menggaet masyarakat untuk ikut pun bermacam-macam. Ada yang berkedok menggunakan nama sebuah yayasan. Adapula pula dengan cara perseorangan yang mendapat wasiat atau amanah dapat mencairkan dana. Aroma magis dan bumbu klenik seperti laku tapa dan prihatin juga selalu menyertai.
Orang yang sudah masuk anggota yayasan dan diberikan sertifikat serta membayar uang mulai ratusan ribu hingga puluhan jutaan rupiah. Setelah itu dijanjikan akan mendapat hibah atau warisan dari harta tersebut.
Tidak hanya itu, untuk menyakinkan orang, mereka juga menunjukkan fotokopian surat-surat berharga tersebut. Namun kalau ditanya mengapa hanya fotokopian. Jawabanya yang asli masih disimpan seseorang yang paling dipercaya dan alasan
keamanan. Surat-surat yang beredar itu biasanya Certificate of AO Metal Deposite, Certificate of Family Heritage dan Certificate of Gold Deposite berwarna kecoklatan seolah-olah asli dan benar-benar sudah lama tersimpan.
Di wilayah Jawa Tengah kasus pertama yang pernah mencuat di media massa adalah tahun 1998 di Solo. Pada tahun 2003 di Yogyakarta yang menjadi korban adalah seorang Sultan dari Kerajaan Zulu di Philipina. Sultan Maulana Jamilul Kiram III dan seorang warga Brunei yang sudah mengeluarkan uang puluhan juta sudah tertipu mentah-mentah kelompok Suparman asal Klaten. Dia dijanjikan akan mendapat warisan 10 ton emas lengkap dengan surat-suratnya. Namun semua itu palsu.
Sedang pada tahun 2005 warga ratusan Sleman, Kulonprogo, Purworejo dan Magelang yang digaet dengan cara masuk sebuah yayasan amal yang dijanjikan akan mendapat hibah harta karun Soekarno yang masih tersimpan di luar negeri.
Belum lagi cerita Asmo Suwito (80) warga Dusun Gergunung Desa Sendangsari Kecamatan Pengasih. Kakek ini mengaku mendapat harta karun sebanyak 40 batang emas lantakan beserta surat-suratnya. Harta karun itu katanya didapatkan secara gaib. Emas itu di
Asmo mengaku mendapat emas batangan bergambar lambang Vereningde Oostindische Compagnie (VOC) dengan berbagai ukuran. Barang itu dilengkapi surat-surat tanda keabsahan dari Union Bank of Switzerland.
Emas batangan yang dimiliki Asmo itu sebagian besar berukuran sebesar bungkus rokok dengan berat sekitar 500 gram. Sebagian lagi berukuran lebih kecil sebesar korek api.
Namun ketika dibandingan dengan uang benggol dari tembaga zaman Hindia Belanda berbeda sekali. Uang zaman Belanda ada gambar mahkota lengkap dengan tulisan Vereenigde Oostindische Compagnie serta tahun pembuatan. Sedang emas milik Asmo bertuliskan VOC, ada lambang padi kapas, gambar Soekarno pakai peci dan
tulisan 999 yang menunjukkan kadar karat emas.
"Jelas palsu kalau emas peninggalan Soekarno ada gambar Bung Karno. Lambang mahkota dengan uang benggol VOC berbeda. Apa zaman VOC sudah mengenal lambang padi kapas," kata Hari Cahyono seorang kolektor uang kuno kepada detikcom.
Bisa jadi kasus harta 17 triliun milik warga Tasikmalaya, Ahmad Zaini itu hanya berupa surat-surat berharga yang seolah-olah asli dikeluarkan oleh Bank Swiss. Karena dia menganggap sebagai pemegang amanah atau kuasa, dia bisa mencairkan kemudian membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan lewat proposal yang masuk.
Tim UGM : Air Tak Dapat Diubah Jadi Hidrokarbon
Yogyakarta, Masalah blue energy dan sejenisnya (bahan bakar berbasis air) yang simpang siur, tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) menyatakan air tidak dapat diubah menjadi hidrokarbon. Meski secara prinsip air dapat diubah menjadi hidrogen, tapi butuh energi yang besar.
Hal itu diungkapkan dosen jurusan Kimia Fakultas MIPA UGM, Wega Tri Sunaryanti MS, Meng, PhDEng di ruang rektor, Kantor Pusat UGM, Bulaksumur Yogyakarta, Jumat (30/5/2008).
Dalam pertemuan itu tim peneliti yang hadir diantaranya Dr Tumiran Teknik Elektro, Rita Kristiyani, PSE UGM, Dr Jayan Sentanu Hady Teknik Mesin Industri, Ketua Senat Akademik UGM, Prof Dr Sutaryo dan Kepala Humas Suryo Baskoro. Mereka juga membantah bila UGM akan dipanggil presiden ataupun sekretariat negera untuk menjelaskan masalah itu.
"Air sebagai sumber energi memang betul, namun untuk mengubahnya juga sudah dan masih banyak kendala," kata Wega yang intensif meneliti mengenai masalah tersebut.
Menurut dia, energi berbasis bukanlah hal baru sehingga kurang pada tempatnya jika penemua teknologi energi berbasis air ini diklaim sebagai inovasi atau temuan baru. Pada prinsipnya air dapat diubah menjadi hidrogen dengan teknik elektrolisis. Gas hidrogen inilah yang dapat digunakan sebagai bahan bakar.
"Tapi proses elektrolisis air menjadi gas hidrogen butuh energi sangat besar," kata Wega dibenarkan oleh Tumiran.
Wega yang meneliti sejak lama saat studi di Jepang menagatakan mengubah air menjadi bensin (premium), minyak solar, minyak tanah (kerosine) dan avtur adalah sesuatu yang tidak mungkin. Air (H2O) terdiri atas komponen hidrogen dan oksigen dan untuk mengubahnya menjadi hidrokrabon adalah sesuatu yang mustahil.
Sifat air yang polar itu katanya sangat berlainan dengan hidrokarbon yang non-polar. Dengan demikian secara hukum logis energi ini jelas sangat tidak rasional, karena hidrogen yang memiliki sensivitas tinggi harus diubah jad hidrokarbon yang memiliki sensivitas rendah. "Tingkat efesiensinya bagaimana, itu mustahil," tegas Wega.
Sementara itu Jayan yang ahli/peneliti hidroeksplosion menambahkan teknologi seperti ini telah puluhan tahun ditemukan. Orang pertama yang membuat dokumentasi tentang elektrolisis ini adalah dr William Rhodes tahun 1960-an. Kemudian dilanjutkan Prof Yull Brown yang serius mempopulerkan metode ini.
Namun kata dia, di dunia scientist banyak pakar meragukan efisiensi proses ini karena dipandang sebagai sesuatu yang besar pasak daripada tiang. Artinya proses elektrolisis yang umumnya menggunakan electric pulse ini masih terlalu mahal dibandingkan energi yang didapatkan.
"Dengan kata lain biaya produksi dengan energi value yang dihasilkan belum seimbang secara ekonomis. Selain itu sifat hidrogen itu reaktif sehingga akan sangat sulit dan tidak semudah itu untuk diproduksi," kata Jayan.
Hal itu diungkapkan dosen jurusan Kimia Fakultas MIPA UGM, Wega Tri Sunaryanti MS, Meng, PhDEng di ruang rektor, Kantor Pusat UGM, Bulaksumur Yogyakarta, Jumat (30/5/2008).
Dalam pertemuan itu tim peneliti yang hadir diantaranya Dr Tumiran Teknik Elektro, Rita Kristiyani, PSE UGM, Dr Jayan Sentanu Hady Teknik Mesin Industri, Ketua Senat Akademik UGM, Prof Dr Sutaryo dan Kepala Humas Suryo Baskoro. Mereka juga membantah bila UGM akan dipanggil presiden ataupun sekretariat negera untuk menjelaskan masalah itu.
"Air sebagai sumber energi memang betul, namun untuk mengubahnya juga sudah dan masih banyak kendala," kata Wega yang intensif meneliti mengenai masalah tersebut.
Menurut dia, energi berbasis bukanlah hal baru sehingga kurang pada tempatnya jika penemua teknologi energi berbasis air ini diklaim sebagai inovasi atau temuan baru. Pada prinsipnya air dapat diubah menjadi hidrogen dengan teknik elektrolisis. Gas hidrogen inilah yang dapat digunakan sebagai bahan bakar.
"Tapi proses elektrolisis air menjadi gas hidrogen butuh energi sangat besar," kata Wega dibenarkan oleh Tumiran.
Wega yang meneliti sejak lama saat studi di Jepang menagatakan mengubah air menjadi bensin (premium), minyak solar, minyak tanah (kerosine) dan avtur adalah sesuatu yang tidak mungkin. Air (H2O) terdiri atas komponen hidrogen dan oksigen dan untuk mengubahnya menjadi hidrokrabon adalah sesuatu yang mustahil.
Sifat air yang polar itu katanya sangat berlainan dengan hidrokarbon yang non-polar. Dengan demikian secara hukum logis energi ini jelas sangat tidak rasional, karena hidrogen yang memiliki sensivitas tinggi harus diubah jad hidrokarbon yang memiliki sensivitas rendah. "Tingkat efesiensinya bagaimana, itu mustahil," tegas Wega.
Sementara itu Jayan yang ahli/peneliti hidroeksplosion menambahkan teknologi seperti ini telah puluhan tahun ditemukan. Orang pertama yang membuat dokumentasi tentang elektrolisis ini adalah dr William Rhodes tahun 1960-an. Kemudian dilanjutkan Prof Yull Brown yang serius mempopulerkan metode ini.
Namun kata dia, di dunia scientist banyak pakar meragukan efisiensi proses ini karena dipandang sebagai sesuatu yang besar pasak daripada tiang. Artinya proses elektrolisis yang umumnya menggunakan electric pulse ini masih terlalu mahal dibandingkan energi yang didapatkan.
"Dengan kata lain biaya produksi dengan energi value yang dihasilkan belum seimbang secara ekonomis. Selain itu sifat hidrogen itu reaktif sehingga akan sangat sulit dan tidak semudah itu untuk diproduksi," kata Jayan.
UGM SiapJelaskan Blue Energy pada SBY
Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM) siap memberikan penjelasan secara ilmiah mengenai masalah blue energy kepada presiden bila diperlukan. Namun lebih baik presiden meminta bantuan lembaga-lembaga riset negara terlebih dulu.
Hal itu diungkapkan Ketua Senat Akademik UGM, Prof Dr Sutaryo kepada wartawan di ruang rektor di Gedung Pusat UGM, Bulaksumur Yogyakarta, Jumat (30/5/2008).
"Sebagai warga negara yang baik, kami akan datang untuk menjelaskan secara ilmiah kalau memang diperlukan," kata Sutaryo.
Dalam kesempatan itu Sutaryo yang didampingi tim peneliti diantaranya Dr Tumiran Teknik Elektro, Rita Kristiyani, PSE UGM, Dr Jayan Sentanu Hady Teknik Mesin Industri dan Kepala Humas Suryo Baskoro membantah bila tim UGM hari ini dipanggil presiden.
"Belum ada itu, kalau ada nanti ada tim yang siap berdiskusi secara ilmiah, baik dari PSE, teknik elektro, mesin, kimia dll," katanya.
Dia meminta tim peneliti dari PSE maupun jurusan terkait untuk menjelaskan masalah itu agar masyarakat tidak bingung. Dia juga mengimbau kepada masyarakat luas, pengusaha dan pemerintah daerah agar melakukan cross check bila ada klaim tentang penemuan sumber energi air atau pembangkit listrik ddl.
"Silakan menghubungi pihak-pihak terkait yang berkompeten dan tidak ragu melakukan pengujian guna menghindari kerugian material," katanya.
Sementara itu Tumiran menambahkan sebagai masyarakat ilmiah, selalu menjunjung tinggi etika penelitian. Hasil penemuan seorang peneliti bisa saja tidak selalu benar namun tetap menjunjung tinggi kejujuran ilmiah dan tidak berbohong."Apalagi secara sengaja membohongi publik dengan berkedok rahasia riset atau rahasia perusahaan," imbuh Tumiran.
Hal itu diungkapkan Ketua Senat Akademik UGM, Prof Dr Sutaryo kepada wartawan di ruang rektor di Gedung Pusat UGM, Bulaksumur Yogyakarta, Jumat (30/5/2008).
"Sebagai warga negara yang baik, kami akan datang untuk menjelaskan secara ilmiah kalau memang diperlukan," kata Sutaryo.
Dalam kesempatan itu Sutaryo yang didampingi tim peneliti diantaranya Dr Tumiran Teknik Elektro, Rita Kristiyani, PSE UGM, Dr Jayan Sentanu Hady Teknik Mesin Industri dan Kepala Humas Suryo Baskoro membantah bila tim UGM hari ini dipanggil presiden.
"Belum ada itu, kalau ada nanti ada tim yang siap berdiskusi secara ilmiah, baik dari PSE, teknik elektro, mesin, kimia dll," katanya.
Dia meminta tim peneliti dari PSE maupun jurusan terkait untuk menjelaskan masalah itu agar masyarakat tidak bingung. Dia juga mengimbau kepada masyarakat luas, pengusaha dan pemerintah daerah agar melakukan cross check bila ada klaim tentang penemuan sumber energi air atau pembangkit listrik ddl.
"Silakan menghubungi pihak-pihak terkait yang berkompeten dan tidak ragu melakukan pengujian guna menghindari kerugian material," katanya.
Sementara itu Tumiran menambahkan sebagai masyarakat ilmiah, selalu menjunjung tinggi etika penelitian. Hasil penemuan seorang peneliti bisa saja tidak selalu benar namun tetap menjunjung tinggi kejujuran ilmiah dan tidak berbohong."Apalagi secara sengaja membohongi publik dengan berkedok rahasia riset atau rahasia perusahaan," imbuh Tumiran.
Kamis, 29 Mei 2008
Tim Banyugeni Gencar Roadshow
Yogyakarta - Di tengah polemik bahan bakar berbahan baku air atau hydrofuel alias blue energy, tim Banyugeni dari Pusat Studi Pengembangan Energi Regional (Pusper) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) gencar melakukan roadshow sosialisasi penggunaaan energi alternatif. Roadshow antara lain digelar di Kabupaten Sleman, Provinsi DI Yogyakarta.
Sosialisasi energi berbahan baku air laut itu dilakukan terakhir kali pada hari Senin 26 Mei 2008 di Aula Bappeda Kabupaten Sleman di Beran. Hadir dalam acara itu tim peneliti dipimpin langsung konsultan ahli Drs Purwanto dan ketua tim peneliti Ir Bledug Kusumo Prasodjo MT.
Pemkab Sleman yang hadir adalah Kepala Bappeda P. Suyanto, Kepala Dinas Kimpraswilhub Ir Yuni Zafria dan Kepala Dinas Pengairan, Pertambangan dan Penanggulangan Bencana Alam (P3BA) Sleman Widi Sutikno, kepala camat se Sleman, LSM dan lain-lain.
Dalam acara itu, Purwanto mengatakan sejak Banyugeni dilaunching pada tanggal 13 Februari hingga bulan Mei ini, baru Pemkab Sleman yang merespons-nya. Selama ini belum ada respons positif dari pemerintah pusat maupun instansi terkait lainnya.
Saat roadshow, tim Banyugeni juga membawa produk banyugeni sekitar 5 liter yang ditaruh dalam sebuah jeriken. Mereka memperagakan sebuah kompor, lampu teplok dan mesin pemotong rumput yang diisi menggunakan banyugeni. Kompor dan lampu teplok langsung menyala. Demikian pula mesin pemotong rumput juga bisa distarter.
Saat sesi tanya jawab, kata salah seorang peserta Dheva, banyak peserta yang menanyakan kepada tim peneliti mengenai proses kimia air laut hingga menjadi bahan bakar serta ongkos produksi. Namun tim belum bisa menjawab
secara rinci, hanya mengatakan menggunakan teknologi mekanotermal-elektrokemis.
Hal senada juga dikatakan Victorianus SP yang mengaku penasaran dengan penemuan itu. Dia merelakan sepeda motor akan dijadikan ujicoba banyugeni. Namun ujicoba itu tidak jadi dilakukan.
Menurut dia, saat itu bensin yang ada ditangki sepeda motornya tinggal setengah liter. Dia kemudian meminta kepada Purwanto untuk mengetes langsung. Namun oleh Purwanto, dia diminta menguras isi tangki terlebih dulu sebelum diisi banyugeni.
"Saya waktu itu tanya, kalau sudah isi banyugeni kemudian diisi bensin lagi, apakah ada pengaruhnya atau tidak, atau harus dikuras dulu lagi. Tapi pertanyaan saya belum dijawab dan akhirnya tidak jadi, entah kenapa," kata dia.
Sementara itu, Kepala P3BA Sleman, Widi Sutikno mengatakan pihaknya hanya memfasilitasi adanya pertemuan sosialisasi itu. Namun Pemkab Sleman belum bisa memutuskan apakah akan memberikan bantuan untuk riset tersebut atau akan menggunakan bahan bakar alternatif itu.
"Kita belum tahu secara jelas, apa yang diinginkan, apakah hanya sekedar sosialisasi saja atau dukungan lainnya," kata Widi.
Sosialisasi energi berbahan baku air laut itu dilakukan terakhir kali pada hari Senin 26 Mei 2008 di Aula Bappeda Kabupaten Sleman di Beran. Hadir dalam acara itu tim peneliti dipimpin langsung konsultan ahli Drs Purwanto dan ketua tim peneliti Ir Bledug Kusumo Prasodjo MT.
Pemkab Sleman yang hadir adalah Kepala Bappeda P. Suyanto, Kepala Dinas Kimpraswilhub Ir Yuni Zafria dan Kepala Dinas Pengairan, Pertambangan dan Penanggulangan Bencana Alam (P3BA) Sleman Widi Sutikno, kepala camat se Sleman, LSM dan lain-lain.
Dalam acara itu, Purwanto mengatakan sejak Banyugeni dilaunching pada tanggal 13 Februari hingga bulan Mei ini, baru Pemkab Sleman yang merespons-nya. Selama ini belum ada respons positif dari pemerintah pusat maupun instansi terkait lainnya.
Saat roadshow, tim Banyugeni juga membawa produk banyugeni sekitar 5 liter yang ditaruh dalam sebuah jeriken. Mereka memperagakan sebuah kompor, lampu teplok dan mesin pemotong rumput yang diisi menggunakan banyugeni. Kompor dan lampu teplok langsung menyala. Demikian pula mesin pemotong rumput juga bisa distarter.
Saat sesi tanya jawab, kata salah seorang peserta Dheva, banyak peserta yang menanyakan kepada tim peneliti mengenai proses kimia air laut hingga menjadi bahan bakar serta ongkos produksi. Namun tim belum bisa menjawab
secara rinci, hanya mengatakan menggunakan teknologi mekanotermal-elektrokemis.
Hal senada juga dikatakan Victorianus SP yang mengaku penasaran dengan penemuan itu. Dia merelakan sepeda motor akan dijadikan ujicoba banyugeni. Namun ujicoba itu tidak jadi dilakukan.
Menurut dia, saat itu bensin yang ada ditangki sepeda motornya tinggal setengah liter. Dia kemudian meminta kepada Purwanto untuk mengetes langsung. Namun oleh Purwanto, dia diminta menguras isi tangki terlebih dulu sebelum diisi banyugeni.
"Saya waktu itu tanya, kalau sudah isi banyugeni kemudian diisi bensin lagi, apakah ada pengaruhnya atau tidak, atau harus dikuras dulu lagi. Tapi pertanyaan saya belum dijawab dan akhirnya tidak jadi, entah kenapa," kata dia.
Sementara itu, Kepala P3BA Sleman, Widi Sutikno mengatakan pihaknya hanya memfasilitasi adanya pertemuan sosialisasi itu. Namun Pemkab Sleman belum bisa memutuskan apakah akan memberikan bantuan untuk riset tersebut atau akan menggunakan bahan bakar alternatif itu.
"Kita belum tahu secara jelas, apa yang diinginkan, apakah hanya sekedar sosialisasi saja atau dukungan lainnya," kata Widi.
Rabu, 28 Mei 2008
Melacak Banyugeni dan Blue Energy
Yogyakarta, Penemuan bahan bakar menggunakan air yang disebut Banyugeni yang dikembangkan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Blue Energy oleh Joko Suprapto ada kemiripan. Namun sampai sekarang belum diketahui secara teknis prosesnya.
Ada dua nama yang menjadi tokoh perjalanan mistery blue energy yakni Joko Suprapto asal Nganjuk Jawa Timur dan Purwanto asal Delanggu, Klaten Jawa Tengah. Dua nama itu beserta kelompoknya pernah mendatangi kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk memperoleh surat pengakuan. Namun usaha itu gagal dan para ilmuwan UGM tidak bisa mempercayai secara ilmiah.
Karena gagal, Purwanto dan Joko mencoba masuk ke kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menemui Rektor UMY Dr Khoiruddin Bashori. Di UMY tim itu berhasil meyakinkan rektor sehingga pada tanggal 13 Februari 2008 dilaunching di kampus terpadu di Ringroad Selatan, Tamantirto Kasihan Bantul.
Nama Purwanto dalam tim Banyugeni masuk menjadi konsultan ahli. Sedangkan para staf pengajar di UMY seperti Ir Bledug Kusuma Prasadja, MT, Ir Tony K. Haryadi, Ir Lilik Utari, dan Nike Triwahyuningsih menjadi anggota tim peneliti. Purwanto juga dipercaya untuk mengurus proses pendaftara paten di kantor Departemen Hukum dan HAM.
Saat launching di UMY, rektor bersama tim peneliti di hadapan Bupati Bantul HM Idham Samawi memperlihatkan bila banyugeni itu bisa menyalakan kompor dan lampu teplok. Tidak hanya itu, sebotol banyugeni ditumpahkan dilantai kemudian tumpahan itu dinyalakan dengan korek api langsung terbakar.
"Pak Idham, tamu undangan dan wartawan yang meliput itu, langsung berdecak kagum," kata Sigit Purwita koresponden RCTI Yogyakarta kepada detikcom.
Sementara itu, Kepala Pusat Energi UGM, Sudiartono tidak bisa memastikan secara pasti apakah Purwanto yang datang ke UGM itu sama dengan yang menjadi konsultan ahli di proyek Banyugeni UMY.
"Namanya sama Purwanto, gelarnya juga sama Drs tapi saya tidak bisa memastikan secara pasti apakah itu sama. Cuma dulu pernah ada dosen UMY yang datang ke PSE UGM untuk menanyakan soal temuan banyugeni dan nama itu," kata Sudiartono kepada detikcom dikantornya.
Jauh hari sebelum ribut soal blue energy dan banyugeni, pada pertengahan tahun 2007 puluhan orang yang mengaku sebagai anggota kelompok Masyarakat Cinta Energi yang dipimpin Ajikusumo melakukan demo di halaman DPRD DIY di Jl Malioboro. Demo itu mempraktekkan bila air laut dan biota laut bisa dijadikan bahan bakar untuk motor. Saat demo, lengkap dengan acara hiburan musik dangdut.
Ada dua sepeda motor bebek diberi sebotol bbm dari bahan air laut berwarna kuning itu dapat menyala mesinnya. Namun sayangnya ketika wartawan akan meraba dari sisa yang ada dibotol tidak diperbolehkan.
Dari penelusuran detikcom, nama Joko Suprapto tidak ada ada dalam tim Banyugeni. Yang ada adalah nama Purwanto, padahal keduanya berjalan bersama ke UGM saat menawarkan proyek kotak ajaib Pembangkit Listrik Tenaga Jin (PLTJ). Nama Joko Suprapto kemudian diketahui berada di PT SHI di Cikeas.
Selain itu, saat melakukan penelusuran di UMY, tidak ada satupun pejabat/pimpinan kampus yang bersedia memberikan keterangan soal proyek itu. Di kampus itu juga tidak terlihat lagi aktivitas laboratorium Pusat Studi Pengembangan Energi Regional (Pusper). Semua orang bungkam dan tak mau berkomentar. Rektor UMY Dr Khoiruddin Bashori hanya mengatakan UMY masih terus melakukan pengkajian dan belum perlu publikasi. "Kita cooling down dulu," kata Khoiruddin.
Ada dua nama yang menjadi tokoh perjalanan mistery blue energy yakni Joko Suprapto asal Nganjuk Jawa Timur dan Purwanto asal Delanggu, Klaten Jawa Tengah. Dua nama itu beserta kelompoknya pernah mendatangi kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk memperoleh surat pengakuan. Namun usaha itu gagal dan para ilmuwan UGM tidak bisa mempercayai secara ilmiah.
Karena gagal, Purwanto dan Joko mencoba masuk ke kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menemui Rektor UMY Dr Khoiruddin Bashori. Di UMY tim itu berhasil meyakinkan rektor sehingga pada tanggal 13 Februari 2008 dilaunching di kampus terpadu di Ringroad Selatan, Tamantirto Kasihan Bantul.
Nama Purwanto dalam tim Banyugeni masuk menjadi konsultan ahli. Sedangkan para staf pengajar di UMY seperti Ir Bledug Kusuma Prasadja, MT, Ir Tony K. Haryadi, Ir Lilik Utari, dan Nike Triwahyuningsih menjadi anggota tim peneliti. Purwanto juga dipercaya untuk mengurus proses pendaftara paten di kantor Departemen Hukum dan HAM.
Saat launching di UMY, rektor bersama tim peneliti di hadapan Bupati Bantul HM Idham Samawi memperlihatkan bila banyugeni itu bisa menyalakan kompor dan lampu teplok. Tidak hanya itu, sebotol banyugeni ditumpahkan dilantai kemudian tumpahan itu dinyalakan dengan korek api langsung terbakar.
"Pak Idham, tamu undangan dan wartawan yang meliput itu, langsung berdecak kagum," kata Sigit Purwita koresponden RCTI Yogyakarta kepada detikcom.
Sementara itu, Kepala Pusat Energi UGM, Sudiartono tidak bisa memastikan secara pasti apakah Purwanto yang datang ke UGM itu sama dengan yang menjadi konsultan ahli di proyek Banyugeni UMY.
"Namanya sama Purwanto, gelarnya juga sama Drs tapi saya tidak bisa memastikan secara pasti apakah itu sama. Cuma dulu pernah ada dosen UMY yang datang ke PSE UGM untuk menanyakan soal temuan banyugeni dan nama itu," kata Sudiartono kepada detikcom dikantornya.
Jauh hari sebelum ribut soal blue energy dan banyugeni, pada pertengahan tahun 2007 puluhan orang yang mengaku sebagai anggota kelompok Masyarakat Cinta Energi yang dipimpin Ajikusumo melakukan demo di halaman DPRD DIY di Jl Malioboro. Demo itu mempraktekkan bila air laut dan biota laut bisa dijadikan bahan bakar untuk motor. Saat demo, lengkap dengan acara hiburan musik dangdut.
Ada dua sepeda motor bebek diberi sebotol bbm dari bahan air laut berwarna kuning itu dapat menyala mesinnya. Namun sayangnya ketika wartawan akan meraba dari sisa yang ada dibotol tidak diperbolehkan.
Dari penelusuran detikcom, nama Joko Suprapto tidak ada ada dalam tim Banyugeni. Yang ada adalah nama Purwanto, padahal keduanya berjalan bersama ke UGM saat menawarkan proyek kotak ajaib Pembangkit Listrik Tenaga Jin (PLTJ). Nama Joko Suprapto kemudian diketahui berada di PT SHI di Cikeas.
Selain itu, saat melakukan penelusuran di UMY, tidak ada satupun pejabat/pimpinan kampus yang bersedia memberikan keterangan soal proyek itu. Di kampus itu juga tidak terlihat lagi aktivitas laboratorium Pusat Studi Pengembangan Energi Regional (Pusper). Semua orang bungkam dan tak mau berkomentar. Rektor UMY Dr Khoiruddin Bashori hanya mengatakan UMY masih terus melakukan pengkajian dan belum perlu publikasi. "Kita cooling down dulu," kata Khoiruddin.
Joko Suprapto CC Kayak Jualan Keris Bertuah
Yogyakarta - Didatangi Joko Suprapto dan Purwanto Cs yang membeberkan pembangkit listrik 'ajaib' dan bahan bakar air, pihak Universitas Gadjah Mada (UGM) pun melakukan penelusuran. Hasilnya, temuan-temuan mereka mengenai energi tak bisa dijelaskan secara ilmiah. Selain itu, mereka adalah penipu.
Penilaian ini bukan basa-basi, tapi didasarkan sejumlah fakta. Kepala Pusat Studi Energi (PSE) UGM Sudiartono yang terlibat diskusi dengan kelompok Joko Suprapto cs sempat diberi kartu nama oleh mereka dalam pertemuan di tahun 2005/2006 itu. Di kartu nama mereka tertulis PT Darma Brahmana, bergerak dalam bidang energi alternatif berteknologi Mata Hati.
Nah, suatu hari di hari Sabtu setelah pertemuan itu, Sudiartono bertolak ke Surakarta untuk mencari tahu alamat PT Darma Brahmana ini. "Kita cek alamat-alamat yang tertera di dalam kartu nama itu, dan ternyata semua palsu," kata Sudiartono saat ditemui detikcom di kantor PSE UGM, Sekip Yogyakarta, Rabu (28/5/2008).
Alamat perusahaan tersebut ternyata alamat Direktur PDAM Surakarta. Orang-orang di sekitar tersebut juga tidak mengenal Purwanto dan PT Darma Brahmana. "Di kartu nama ada nomor faks dengan kode wilayah Klaten (0272), nomor tersebut saya kontak, yang menerima anak kecil perempuan. Dan nomor tersebut berada di wilayah Pakis-Delanggu," kata Sudiartono.
Sudiartono juga mengecek alamat workshop kotak ajaib yang disebut mereka sebagai trafo untuk pembangkit tenaga listrik. Alamat yang mereka sebut adalah Jalan Serengan Surakarta. "Ternyata alamat workshop itu juga palsu," kata Sudiartono.
Karena tak menemukan alamat-alamat tersebut, Sudiartono pun akhirnya menelepon HP Purwanto. "Saat saya telepon, dia mengaku di Magelang. Saat itu saya katakan, Anda penipu, alamat workshop yang ditunjukkan adalah rumah Direktur PDAM Surakarta. Dan saya katakan putus komunikasi, karena Anda penipu," ujar Sudiartono berang.
Sudiartono menyayangkan adanya potret-potret saat pertemuan pertama di rumah dinas Rektor UGM. "Waktu itu dia mengambil foto-foto rektor dan yang lain. Yang kami khawatirkan, dengan foto-foto tersebut mungkin akan digunakan untuk mencari mangsa di tempat lain," kata dia.
Dalam pertemuan dengan pihak UGM, Joko Suprapto cs juga menunjukkan surat pemesanan pembangkit listrik dari pabrik kertas Leces di Probolinggo dengan harga jutaan hingga miliaran rupiah. Sudiartono meragukan klaim mereka dan sempat meminta staf PSE untuk mengecek kepada PT Leces mengenai surat pemesanan itu.
Sudiartono berharap masyarakat untuk berhati-hati menyikapi klaim penemuan energi alternatif ini. "Jangan sampai dimanfaatkan pihak-pihak tertentu yang sengaja mencari keuntungan dan popularitas di saat krisis energi seperti saat ini. Kita hanya bisa mengimbau agar selalu terbuka dalam melakukan riset tanpa ada yang ditutup-tutupi," pinta Sudiartono.
Kasus blue energy yang berujung pada berita menghilangnya Joko Suprapto selama 13 hari dinilai Sudiartono sebagai bentuk kepanikan masyarakat dan pimpinan pemerintahan berkaitan krisis energi. "Mari kita jalin kebersamaan dan keterbukaan baik keilmuan maupun yang lain untuk melakukan riset berbasis produk nyata yang dapat digunakan untuk mengatasi krisis energi dan krisis segalanya," ajak Sudiartono.
Penilaian ini bukan basa-basi, tapi didasarkan sejumlah fakta. Kepala Pusat Studi Energi (PSE) UGM Sudiartono yang terlibat diskusi dengan kelompok Joko Suprapto cs sempat diberi kartu nama oleh mereka dalam pertemuan di tahun 2005/2006 itu. Di kartu nama mereka tertulis PT Darma Brahmana, bergerak dalam bidang energi alternatif berteknologi Mata Hati.
Nah, suatu hari di hari Sabtu setelah pertemuan itu, Sudiartono bertolak ke Surakarta untuk mencari tahu alamat PT Darma Brahmana ini. "Kita cek alamat-alamat yang tertera di dalam kartu nama itu, dan ternyata semua palsu," kata Sudiartono saat ditemui detikcom di kantor PSE UGM, Sekip Yogyakarta, Rabu (28/5/2008).
Alamat perusahaan tersebut ternyata alamat Direktur PDAM Surakarta. Orang-orang di sekitar tersebut juga tidak mengenal Purwanto dan PT Darma Brahmana. "Di kartu nama ada nomor faks dengan kode wilayah Klaten (0272), nomor tersebut saya kontak, yang menerima anak kecil perempuan. Dan nomor tersebut berada di wilayah Pakis-Delanggu," kata Sudiartono.
Sudiartono juga mengecek alamat workshop kotak ajaib yang disebut mereka sebagai trafo untuk pembangkit tenaga listrik. Alamat yang mereka sebut adalah Jalan Serengan Surakarta. "Ternyata alamat workshop itu juga palsu," kata Sudiartono.
Karena tak menemukan alamat-alamat tersebut, Sudiartono pun akhirnya menelepon HP Purwanto. "Saat saya telepon, dia mengaku di Magelang. Saat itu saya katakan, Anda penipu, alamat workshop yang ditunjukkan adalah rumah Direktur PDAM Surakarta. Dan saya katakan putus komunikasi, karena Anda penipu," ujar Sudiartono berang.
Sudiartono menyayangkan adanya potret-potret saat pertemuan pertama di rumah dinas Rektor UGM. "Waktu itu dia mengambil foto-foto rektor dan yang lain. Yang kami khawatirkan, dengan foto-foto tersebut mungkin akan digunakan untuk mencari mangsa di tempat lain," kata dia.
Dalam pertemuan dengan pihak UGM, Joko Suprapto cs juga menunjukkan surat pemesanan pembangkit listrik dari pabrik kertas Leces di Probolinggo dengan harga jutaan hingga miliaran rupiah. Sudiartono meragukan klaim mereka dan sempat meminta staf PSE untuk mengecek kepada PT Leces mengenai surat pemesanan itu.
Sudiartono berharap masyarakat untuk berhati-hati menyikapi klaim penemuan energi alternatif ini. "Jangan sampai dimanfaatkan pihak-pihak tertentu yang sengaja mencari keuntungan dan popularitas di saat krisis energi seperti saat ini. Kita hanya bisa mengimbau agar selalu terbuka dalam melakukan riset tanpa ada yang ditutup-tutupi," pinta Sudiartono.
Kasus blue energy yang berujung pada berita menghilangnya Joko Suprapto selama 13 hari dinilai Sudiartono sebagai bentuk kepanikan masyarakat dan pimpinan pemerintahan berkaitan krisis energi. "Mari kita jalin kebersamaan dan keterbukaan baik keilmuan maupun yang lain untuk melakukan riset berbasis produk nyata yang dapat digunakan untuk mengatasi krisis energi dan krisis segalanya," ajak Sudiartono.
UGM Cuekin Temuan Joko Sutrisno
Yogyakarta - Joko Suprapto cs mendatangi Universitas Gadjah Mada (UGM) tidak hanya mempresentasikan dan mendemokan 'Pembangkit Listrik Tenaga Jin'. Saat datang ke UGM tahun 2005/2006, Joko cs juga sudah menyinggung mengenai bahan bakar berbahan baku air yang saat ini menjadi berita heboh.
Kedatangan Joko Suprapto cs ke UGM ini sempat disambut dengan istimewa. Rektor UGM saat itu, Prof Sofyan Effendi, langsung menemui mereka. Sofyan didampingi oleh Kepala Pusat Studi Energi (PSE) UGM Sudiartono, staf PSE Kusnanto, dan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Dr Chairil Anwar.
Pertemuan pertama kali digelar di rumah dinas Rektor UGM. Dalam pertemuan itu, Joko Suprapto didampingi Purwanto dan sejumlah orang yang berjumlah 8 orang. Setelah pertemuan perdana, UGM dan Joko Suprapto cs menindaklanjutinya dengan pertemuan kedua di kantor Pusat Studi Energi (PSE) UGM.
Dalam pertemuan kedua, diskusi lebih intensif dilakukan, baik mengenai pembangkit listrik ajaib yang ditemukan Joko Suprapto Cs, maupun mengenai bahan bakar air. Dari PSE UGM yang hadir untuk melayani diskusi ini adalah Kepala PSE UGM yang juga pengajar di Fisika/Geofisika UGM dan Kusnanto pengajar Teknik Fisika UGM.
Menurut Sudiartono, dalam diskusi itu, Joko Suprapto dan Purwanto cs kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan secara ilmiah. Salah satu yang ditanyakan mengenai pembangkit listrik ajaib yang mereka temukan adalah mengenai hukum kekekalan tenaga, terkait tidak adanya accu di dalam trafo (kotak ajaib) yang mereka temukan.
"Mereka mulai kesulitan menjawab hukum kekekalan tenaga, dengan mengatakan dan menceritakan perputaran elektron di orbit suatu atom serta tenaga eksitasi elektron yang pindah orbit, dan lain-lain, yang intinya menceritakan tabel atom di kuliah Kimia Dasar," ujar Sudiartono saat ditemui detikcom di kantor PSE UGM, Sekip Yogyakarta, Rabu (28/5/2008).
Dalam diskusi itu, Joko Suprapto dan Purwanto cs juga mengaku telah menciptakan pembangkit listrik tenaga matahari berkapasitas Giga Watt dengan cara melubangi ozon. "Dari sini kami mulai sudah tidak menanggapi lagi pernyataan mereka," kata dia.
Setelah itu, mereka juga melontarkan penemuan bahan bakar air itu. "Tapi, kami saat itu juga tidak menanggapi," ujar Sudiartono.
Karena tidak mendapat respons dari UGM, Joko Suprapto cs pun mencoba mendekati universitas-universitas lainnya, salah satunya Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Apakah Banyugeni yang kini dikembangkan oleh UMY terkait dengan temuan Joko Suprapto itu? Tapi, yang pasti, saat itu Joko Suprapto cs gagal mendapat pengakuan atas hasil ciptaannya dari UGM, baik mengenai pembangkit listrik ajaibnya atau mengenai bahan bakar airnya.
Kedatangan Joko Suprapto cs ke UGM ini sempat disambut dengan istimewa. Rektor UGM saat itu, Prof Sofyan Effendi, langsung menemui mereka. Sofyan didampingi oleh Kepala Pusat Studi Energi (PSE) UGM Sudiartono, staf PSE Kusnanto, dan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Dr Chairil Anwar.
Pertemuan pertama kali digelar di rumah dinas Rektor UGM. Dalam pertemuan itu, Joko Suprapto didampingi Purwanto dan sejumlah orang yang berjumlah 8 orang. Setelah pertemuan perdana, UGM dan Joko Suprapto cs menindaklanjutinya dengan pertemuan kedua di kantor Pusat Studi Energi (PSE) UGM.
Dalam pertemuan kedua, diskusi lebih intensif dilakukan, baik mengenai pembangkit listrik ajaib yang ditemukan Joko Suprapto Cs, maupun mengenai bahan bakar air. Dari PSE UGM yang hadir untuk melayani diskusi ini adalah Kepala PSE UGM yang juga pengajar di Fisika/Geofisika UGM dan Kusnanto pengajar Teknik Fisika UGM.
Menurut Sudiartono, dalam diskusi itu, Joko Suprapto dan Purwanto cs kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan secara ilmiah. Salah satu yang ditanyakan mengenai pembangkit listrik ajaib yang mereka temukan adalah mengenai hukum kekekalan tenaga, terkait tidak adanya accu di dalam trafo (kotak ajaib) yang mereka temukan.
"Mereka mulai kesulitan menjawab hukum kekekalan tenaga, dengan mengatakan dan menceritakan perputaran elektron di orbit suatu atom serta tenaga eksitasi elektron yang pindah orbit, dan lain-lain, yang intinya menceritakan tabel atom di kuliah Kimia Dasar," ujar Sudiartono saat ditemui detikcom di kantor PSE UGM, Sekip Yogyakarta, Rabu (28/5/2008).
Dalam diskusi itu, Joko Suprapto dan Purwanto cs juga mengaku telah menciptakan pembangkit listrik tenaga matahari berkapasitas Giga Watt dengan cara melubangi ozon. "Dari sini kami mulai sudah tidak menanggapi lagi pernyataan mereka," kata dia.
Setelah itu, mereka juga melontarkan penemuan bahan bakar air itu. "Tapi, kami saat itu juga tidak menanggapi," ujar Sudiartono.
Karena tidak mendapat respons dari UGM, Joko Suprapto cs pun mencoba mendekati universitas-universitas lainnya, salah satunya Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Apakah Banyugeni yang kini dikembangkan oleh UMY terkait dengan temuan Joko Suprapto itu? Tapi, yang pasti, saat itu Joko Suprapto cs gagal mendapat pengakuan atas hasil ciptaannya dari UGM, baik mengenai pembangkit listrik ajaibnya atau mengenai bahan bakar airnya.
Pembangkit Listrik Tenaga Jin
Yogyakarta - Joko Suprapto mendadak terkenal setelah blue energy yang digagasnya tidak sukses, meski orang-orang lingkaran Presiden SBY menindaklanjutinya. Joko yang saat ini sakit keras, ternyata juga pernah mendatangi kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2005-2006. Joko dan kelompoknya memamerkan 'Pembangkit Listrik Tenaga Jin.'
Saat itu, Joko dan rombongan yang berjumlah 8 orang diterima pertama kali oleh Rektor UGM saat itu, Prof Sofyan Effendi di rumah dinas rektor. Joko dan rombongan ini dibawa oleh teman Sofyan Effendi dari Magelang. Dalam pertemuan itu, hadir juga Kepala Pusat Studi Energi (PSE) UGM Sudiartono, staf PSE Kusnanto, dan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Dr Chairil Anwar.
"Yang paling banyak bicara saat itu adalah Purwanto, sedang Joko Suprapto tidak pernah ngomong sama sekali," kata Sudiartono saat ditemui detikcom di kantor PSE UGM, Sekip Yogyakarta, Rabu (28/5/2008).
Joko cs memperlihatkan temuannya mengenai sebuah pembangkit tenaga listrik. Intinya, menurut Sudiartono, dalam pertemuan itu mereka meminta agar UGM memberikan surat pengakuan atas penemuan sebuah alat pembangkit listrik atau trafo berkapasitas 25 Kilo Watt yang mereka temukan.
Bagaimana alat yang ditemukan Joko cs? Alat itu berbentuk seperti almari kecil dan portabel. Namun, kotak seperti almari itu memang aneh. Kotak itu diberi nama kotak ajaib dan tersegel rapat. Di bagian pojok kotak diklem, sehingga tidak bisa dibuka.
Joko Suprapto dan Purwanto Cs pun menjelaskan dan mendemokan alat tersebut. "Mereka bilang kotak ajaib. Hanya menggunakan 4 buah baterai kecil dan ada lampu (+/- 60 Watt), serta panel surya. Kata Purwanto, alat itu merupakan pembangkit listrik berkapasitas 25 Kilo Watt," kata dia.
Sofyan Effendi sempat tertarik dengan alat itu dan berniat membelinya untuk keperluan listrik di perumahan UGM. "Tapi, mereka tidak membolehkan," kata Tono, panggilan akrab Sudiartono.
Dalam pertemuan itu, Tono menanyakan kepada mereka, apakah di dalam kotak ajaib itu ada accu dan inverter. Tapi, mereka menjawab tidak ada. "Kemudian saya tanya lagi berapa jam lampu akan menyala, dia jawab selamanya. Dari sini saya tidak percaya dengan kotak ajaib ini karena menyalahi hukum kekekalan tenaga," ujar Tono.
Pertanyaan-pertanyaan lain seputar pembangkit listrik juga disampaikan kepada Joko Suprapto dan Purwanto Cs. Tapi, mereka kesulitan memberikan jawaban secara ilmiah. Akhirnya, pihak UGM sempat bergurau menanyakan jangan-jangan temuan mereka itu adalah Pembangkit Listrik Tenaga Jin.
"Mereka jawab tidak. Kemudian saya sempat bertanya di mana workshop kota ajaib, mereka bilang di Surakarta Jalan Serengan," kata Tono. Singkat cerita, setelah pihak UGM mengeceknya ternyata alamat yang mereka berikan adalah palsu. Akhirnya, UGM pun tidak memberikan surat pengakuan terhadap penemuan Joko Suprapto cs hingga sekarang.
Saat itu, Joko dan rombongan yang berjumlah 8 orang diterima pertama kali oleh Rektor UGM saat itu, Prof Sofyan Effendi di rumah dinas rektor. Joko dan rombongan ini dibawa oleh teman Sofyan Effendi dari Magelang. Dalam pertemuan itu, hadir juga Kepala Pusat Studi Energi (PSE) UGM Sudiartono, staf PSE Kusnanto, dan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Dr Chairil Anwar.
"Yang paling banyak bicara saat itu adalah Purwanto, sedang Joko Suprapto tidak pernah ngomong sama sekali," kata Sudiartono saat ditemui detikcom di kantor PSE UGM, Sekip Yogyakarta, Rabu (28/5/2008).
Joko cs memperlihatkan temuannya mengenai sebuah pembangkit tenaga listrik. Intinya, menurut Sudiartono, dalam pertemuan itu mereka meminta agar UGM memberikan surat pengakuan atas penemuan sebuah alat pembangkit listrik atau trafo berkapasitas 25 Kilo Watt yang mereka temukan.
Bagaimana alat yang ditemukan Joko cs? Alat itu berbentuk seperti almari kecil dan portabel. Namun, kotak seperti almari itu memang aneh. Kotak itu diberi nama kotak ajaib dan tersegel rapat. Di bagian pojok kotak diklem, sehingga tidak bisa dibuka.
Joko Suprapto dan Purwanto Cs pun menjelaskan dan mendemokan alat tersebut. "Mereka bilang kotak ajaib. Hanya menggunakan 4 buah baterai kecil dan ada lampu (+/- 60 Watt), serta panel surya. Kata Purwanto, alat itu merupakan pembangkit listrik berkapasitas 25 Kilo Watt," kata dia.
Sofyan Effendi sempat tertarik dengan alat itu dan berniat membelinya untuk keperluan listrik di perumahan UGM. "Tapi, mereka tidak membolehkan," kata Tono, panggilan akrab Sudiartono.
Dalam pertemuan itu, Tono menanyakan kepada mereka, apakah di dalam kotak ajaib itu ada accu dan inverter. Tapi, mereka menjawab tidak ada. "Kemudian saya tanya lagi berapa jam lampu akan menyala, dia jawab selamanya. Dari sini saya tidak percaya dengan kotak ajaib ini karena menyalahi hukum kekekalan tenaga," ujar Tono.
Pertanyaan-pertanyaan lain seputar pembangkit listrik juga disampaikan kepada Joko Suprapto dan Purwanto Cs. Tapi, mereka kesulitan memberikan jawaban secara ilmiah. Akhirnya, pihak UGM sempat bergurau menanyakan jangan-jangan temuan mereka itu adalah Pembangkit Listrik Tenaga Jin.
"Mereka jawab tidak. Kemudian saya sempat bertanya di mana workshop kota ajaib, mereka bilang di Surakarta Jalan Serengan," kata Tono. Singkat cerita, setelah pihak UGM mengeceknya ternyata alamat yang mereka berikan adalah palsu. Akhirnya, UGM pun tidak memberikan surat pengakuan terhadap penemuan Joko Suprapto cs hingga sekarang.
Joko Suprapto Pernah Datangi UGM
Yogyakarta, Joko Suprapto dan kawan-kawan pada tahun 2005-2006 pernah mendatangi Universitas Gadjah Mada (UGM). Mereka bertemu rektor saat ini dijbata Prof Dr Sofian Effendi untuk meminta surat rekomendasi/pengakuan atas hasil ciptaan semacam trafo (Pembangkit Listrik Tenaga?).
Namun dalam pembicaraan dengan Ketua Pusat Studi Energi (PSE) UGM, Sudihartono dan Kusnanto dikantornya, mereka juga menyinggung penemuan bahan bakar menggunakan air. Karena tidak percaya, omongan itu tidak digubris bahkan para ilmuwan UGM berkesimpulan itu hanya bohong-bohongan.
"Joko Suprapto pernah datang bertemu rektor Pak Sofian waktu di rumah dinas. Saat itu rombongan berjumlah 8 orang. Yang paling banyak bicara adalah Purwanto, sedang Joko tidak pernah ngomong sama sekali," kata Sudihartono kepada detikcom di kantor PSE UGM, Sekip Yogyakarta, Rabu (28/5/2008).
Menurut Tono panggilan akrabnya, saat pertemuan mereka meminta agar UGM memberikan surat pengakuan atas penemuan sebuah alat pembangkit listrik atau trafo berkapasitas 25 Kilo Watt. Alat itu berbentuk seperti almari kecil dan portabel. Namun kotak yang dinamakan kotak ajaib itu tersegel rapat, dibagian pojoko semua di klem sehingga tidak bisa dibuka.
"Saat demo, mereka bilang kotak ajaib. Hanya menggunakan 4 buah baterai kecil dan ada lampu (+/- 60 watt) sudah bisa menyala. Pak Sofian saat itu tertarik, alat itu sempat mau dibeli tapi tak boleh," kata Tono mengingat pertemuan itu.
Karena tidak percaya karena menyalahi hukum kekekalan energi, Tono bersama staf PSE, Kusnanto mengajak berdiskusi Purwanto dan Joko Suprapto di kantor. Mereka membagikan karta nama PT Darma Brahmana yang bergerak dalam bisang energi alternatif berteknologi Mata Hati.
Rupanya tidak hanya alat pembangkit listrik saja yang ditawarkan. Mereka juga memperlihatkan pabrik kertas Leces di Probolinggo juga akan memesan dengan harga jutaan hingga miliaran rupiah itu.
"Yang banyak omong adalah Purwanto. Sedang Joko diam seperti tidak bisa menjelaskan. Saat arah diskusi ngalor-ngidul tidak jelas dan mereka tidak bisa menjelaskan secara logis," katanya.
Dia mengatakan hal itu tidak mungkin kalau tidak ada alat penyimpan tenaga semacam aki atau baterai. Dengan bergurau, alat itu oleh Tono dikatakan alat Pembangkit Listrik Tenaga Jin (PLTJ).
Dalam pembicaraan selama lebih kurang 2 jam itu, Purwanto dan Joko juga membicarakan masalah energi berbahan baku air laut. Namun semuanya tidak dipercayainya. Mereka pun kemudian dipersilakan pulang.
"Kita dicek dan dilacak alamat-alamat yang tertera dalam kartu nama ataupun tempat workshop ternyata semua palsu. Saya sempat telpon HP Purwanto dan saya katakan putus hubungan karena anda penipu," ungkap Tono.
Menurut Tono karena tidak digubris, kelompok tersebut kemudian meminta rekomendasi perguruan tinggi swasta lainnya di Yogyakarta. Karena UGM menyatakan menolak dan tidak mempercayai penemuannya.
"Kami hanya berharap masyarakat berhati-hati saja. Jangan sampai dimanfaatkan pihak-pihak tertentu yang sengaja mencari keuntungan disaat krisis energi seperti saat ini. Kita hanya bisa mengimbau agar selalu terbuka dalam melakukan riset tanpa ada yang ditutup-tutupi," pungkas Tono.
Namun dalam pembicaraan dengan Ketua Pusat Studi Energi (PSE) UGM, Sudihartono dan Kusnanto dikantornya, mereka juga menyinggung penemuan bahan bakar menggunakan air. Karena tidak percaya, omongan itu tidak digubris bahkan para ilmuwan UGM berkesimpulan itu hanya bohong-bohongan.
"Joko Suprapto pernah datang bertemu rektor Pak Sofian waktu di rumah dinas. Saat itu rombongan berjumlah 8 orang. Yang paling banyak bicara adalah Purwanto, sedang Joko tidak pernah ngomong sama sekali," kata Sudihartono kepada detikcom di kantor PSE UGM, Sekip Yogyakarta, Rabu (28/5/2008).
Menurut Tono panggilan akrabnya, saat pertemuan mereka meminta agar UGM memberikan surat pengakuan atas penemuan sebuah alat pembangkit listrik atau trafo berkapasitas 25 Kilo Watt. Alat itu berbentuk seperti almari kecil dan portabel. Namun kotak yang dinamakan kotak ajaib itu tersegel rapat, dibagian pojoko semua di klem sehingga tidak bisa dibuka.
"Saat demo, mereka bilang kotak ajaib. Hanya menggunakan 4 buah baterai kecil dan ada lampu (+/- 60 watt) sudah bisa menyala. Pak Sofian saat itu tertarik, alat itu sempat mau dibeli tapi tak boleh," kata Tono mengingat pertemuan itu.
Karena tidak percaya karena menyalahi hukum kekekalan energi, Tono bersama staf PSE, Kusnanto mengajak berdiskusi Purwanto dan Joko Suprapto di kantor. Mereka membagikan karta nama PT Darma Brahmana yang bergerak dalam bisang energi alternatif berteknologi Mata Hati.
Rupanya tidak hanya alat pembangkit listrik saja yang ditawarkan. Mereka juga memperlihatkan pabrik kertas Leces di Probolinggo juga akan memesan dengan harga jutaan hingga miliaran rupiah itu.
"Yang banyak omong adalah Purwanto. Sedang Joko diam seperti tidak bisa menjelaskan. Saat arah diskusi ngalor-ngidul tidak jelas dan mereka tidak bisa menjelaskan secara logis," katanya.
Dia mengatakan hal itu tidak mungkin kalau tidak ada alat penyimpan tenaga semacam aki atau baterai. Dengan bergurau, alat itu oleh Tono dikatakan alat Pembangkit Listrik Tenaga Jin (PLTJ).
Dalam pembicaraan selama lebih kurang 2 jam itu, Purwanto dan Joko juga membicarakan masalah energi berbahan baku air laut. Namun semuanya tidak dipercayainya. Mereka pun kemudian dipersilakan pulang.
"Kita dicek dan dilacak alamat-alamat yang tertera dalam kartu nama ataupun tempat workshop ternyata semua palsu. Saya sempat telpon HP Purwanto dan saya katakan putus hubungan karena anda penipu," ungkap Tono.
Menurut Tono karena tidak digubris, kelompok tersebut kemudian meminta rekomendasi perguruan tinggi swasta lainnya di Yogyakarta. Karena UGM menyatakan menolak dan tidak mempercayai penemuannya.
"Kami hanya berharap masyarakat berhati-hati saja. Jangan sampai dimanfaatkan pihak-pihak tertentu yang sengaja mencari keuntungan disaat krisis energi seperti saat ini. Kita hanya bisa mengimbau agar selalu terbuka dalam melakukan riset tanpa ada yang ditutup-tutupi," pungkas Tono.
Selasa, 27 Mei 2008
Jangan Langsung Percaya Alat Baru Penghemat Energi
Yogyakarta, Jangan langsung percaya atau membeli sebuah alat penghemat energi yang belum di uji coba atau di tes secara ilmiah. Bisa jadi alat itu hanya sebuah alat semacam baterai yang mampu menyimpan energi beberapa saat, namun setelah itu habis atau rusak.
Hal itu diungkapkan oleh pakar jurusan Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr Tumiran kepada wartawan di Kantor Pusat UGM d Bulaksumur Yogyakarta, Selasa (27/5/2008).
"Yang pernah kita jumpai, seperti alat penghemat energi listrik, alat itu ada semacam baterai yang bisa menyimpan energi dan output lebih besar dari input," katanya.
Dia kemudian menceritakan pengalamannya saat diminta seorang pengusaha di Jawa Timur untuk mengetes semua alat penghemat energi. Harga alat itu mencapai miliaran rupiah. Alat itu sudah ditawarkan ke banyak pihak baik kepada pengusaha maupun pejabat. Semua orang mempercayainya alat itu penghemat energi.
Pada saat akan dites alat itu ternyata dalam keadaan tertutup atau terselubung. Orang tidak boleh dibuka dan dikatakan rahasia agar tidak ditiru orang lain. Namun setelah di tes, faktanya alat itu tidak bisa digunakan dan bukan penghemat energi atau menghasilkan kelipatan energi.
"Saya saat itu tanda tanya, kok bisa dan keluar dari kaidah-kaidah hukum kekekalan energi. Pasti ada sesuatu dibalik alat yang tertutup itu," kata Tumiran.
Ternyata dugaannya benar, alat itu membuktikan tidak bisa bekerja dalam waktu lama. Alat itu dalam waktu singkat alat itu diberi input yang bisa mengeluarkan energi besar. Ternyata di dalam alat itu ada storage energi seperti baterai yang mampu menyimpan. Setelah itu dikeluarkan banyak lebih besar dari input.
"Memang besar tapi setelah itu akan mengecil. Kalau dalam jangka panjang tidak bisa dan saat kita tes selama 2 jam ternyata terbakar," katanya.
Dia mengimbau agar masyarakat hati-hati, harus dites lebih dulu alat itu mampu bekerja berapa lama untuk menghasilkan energi. Bila ada alat atau bahan yang hasilkan energi tambahan tanpa bahan atau poses tambahan dari segi pengetahuan sangat sulit diterima. "Kasus semacam itu sudah banyak masyarakat yang jadi korban," pungkas dia.
Hal itu diungkapkan oleh pakar jurusan Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr Tumiran kepada wartawan di Kantor Pusat UGM d Bulaksumur Yogyakarta, Selasa (27/5/2008).
"Yang pernah kita jumpai, seperti alat penghemat energi listrik, alat itu ada semacam baterai yang bisa menyimpan energi dan output lebih besar dari input," katanya.
Dia kemudian menceritakan pengalamannya saat diminta seorang pengusaha di Jawa Timur untuk mengetes semua alat penghemat energi. Harga alat itu mencapai miliaran rupiah. Alat itu sudah ditawarkan ke banyak pihak baik kepada pengusaha maupun pejabat. Semua orang mempercayainya alat itu penghemat energi.
Pada saat akan dites alat itu ternyata dalam keadaan tertutup atau terselubung. Orang tidak boleh dibuka dan dikatakan rahasia agar tidak ditiru orang lain. Namun setelah di tes, faktanya alat itu tidak bisa digunakan dan bukan penghemat energi atau menghasilkan kelipatan energi.
"Saya saat itu tanda tanya, kok bisa dan keluar dari kaidah-kaidah hukum kekekalan energi. Pasti ada sesuatu dibalik alat yang tertutup itu," kata Tumiran.
Ternyata dugaannya benar, alat itu membuktikan tidak bisa bekerja dalam waktu lama. Alat itu dalam waktu singkat alat itu diberi input yang bisa mengeluarkan energi besar. Ternyata di dalam alat itu ada storage energi seperti baterai yang mampu menyimpan. Setelah itu dikeluarkan banyak lebih besar dari input.
"Memang besar tapi setelah itu akan mengecil. Kalau dalam jangka panjang tidak bisa dan saat kita tes selama 2 jam ternyata terbakar," katanya.
Dia mengimbau agar masyarakat hati-hati, harus dites lebih dulu alat itu mampu bekerja berapa lama untuk menghasilkan energi. Bila ada alat atau bahan yang hasilkan energi tambahan tanpa bahan atau poses tambahan dari segi pengetahuan sangat sulit diterima. "Kasus semacam itu sudah banyak masyarakat yang jadi korban," pungkas dia.
Air Jadi Bahan Bakar Harus Ada Alat Bantu
Yogyakarta, Pakar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Tumiran mengatakan untuk mengubah air menjadi sebuah bahan bakar memrlukan suatu alat bantu yang besar, bahkan prosesnya akan memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Negara maju seperti Jepang yang tidak punyai energi pun belum bisa membuat riset yang mampu mengubah secara besar-besaran. Jepang yang tidak punya sumber energi seperti minyak, pasti mempunyai kepentingan sangat besar untuk mencari alternatif energi selain minyak dan gas. Namun mereka belum bisa sampai sekarang.
"Kita tidak bermaksud mengunggulkan ilmu pengetahuan barat atau negara lain. Tapi kita belajar dari sejarah. Tapi contohnya Jepang negara yang tidak punya sumber energi, tidak punya minyak sehingga punya kepentingan sangat besar bagaimana untuk memanfaatkan energi lain agar bisa jadi energi," kata Tumiran kepada wartawandi Kantor Pusat UGM, Bulaksumur Yogyakarta, Selasa (27/5/2008).
Menurut dia, sampai sekarang kalau air akan diubah jadi energi lain pasti akan ada pertolongan lain. Misalnya air di sebuah pembangkit listrik, air dijatuhkan dengan gunakan energi gaya tarik bumi. Air yang jatuh menjadi energi potensial yang mampu jadi energi penggerak.
Kalau air laut secara ilmiah misalnya ada unsur H2O dan NaCl. Namun air laut dari segi konten air laut itu berenergi rendah, sehingga untuk memisah-misah komponennya pasti membutuhkan usaha yang sangat besar. "Berarti butuh energi lagi untuk pemisahan. Kalau itu kita lakukan butuh alat dan biaya besar," kata Tumiran didampingi ahli fisika UGM Dr Srihana.
Soal blue energy ataupun banyugeni kata dia, dirinya belum bisa memberikan justifikasi, sebab belum mengetahui dan melihat secara langsung produknya. Bagaimana prosesnya air itu bisa jadi minyak sebab air itu unsurnya H2O. Unsur H2 bisa dipisah, namun hal itu tetap memakai teknologi cukup mahal untuk memisah H2+O2.
"Kita belum tahu bagaimana air jadi minyak, prosesnya bagaimana. Ini masih jadi tanda tanya, mungkin saja pakai stimulan unsur kapur dimasukkan. Tapi itu masih butuh proses pemanasan, butuh proses refinary, apa itu malah tidak mahal," katanya.
Sementara itu Srihana menambahkan secara enginering, sesuatu yang dihasilkan dari sebuah proses itu semuanya bisa diukur dan dijelaskan secara logis. Misalnya melalui elektrolisa tetap membutuhkan energi dulu.
"Energinya, energi apa. Lihat bahannya katoda dan elektrodanya. Kita lihat semua dan diukur output input dan kadarnya seperti apa. Kemudian efesiensinya bagaimana. Jangan hanya sisi produk luarnya saja," kata Srihana mengingatkan.
Negara maju seperti Jepang yang tidak punyai energi pun belum bisa membuat riset yang mampu mengubah secara besar-besaran. Jepang yang tidak punya sumber energi seperti minyak, pasti mempunyai kepentingan sangat besar untuk mencari alternatif energi selain minyak dan gas. Namun mereka belum bisa sampai sekarang.
"Kita tidak bermaksud mengunggulkan ilmu pengetahuan barat atau negara lain. Tapi kita belajar dari sejarah. Tapi contohnya Jepang negara yang tidak punya sumber energi, tidak punya minyak sehingga punya kepentingan sangat besar bagaimana untuk memanfaatkan energi lain agar bisa jadi energi," kata Tumiran kepada wartawandi Kantor Pusat UGM, Bulaksumur Yogyakarta, Selasa (27/5/2008).
Menurut dia, sampai sekarang kalau air akan diubah jadi energi lain pasti akan ada pertolongan lain. Misalnya air di sebuah pembangkit listrik, air dijatuhkan dengan gunakan energi gaya tarik bumi. Air yang jatuh menjadi energi potensial yang mampu jadi energi penggerak.
Kalau air laut secara ilmiah misalnya ada unsur H2O dan NaCl. Namun air laut dari segi konten air laut itu berenergi rendah, sehingga untuk memisah-misah komponennya pasti membutuhkan usaha yang sangat besar. "Berarti butuh energi lagi untuk pemisahan. Kalau itu kita lakukan butuh alat dan biaya besar," kata Tumiran didampingi ahli fisika UGM Dr Srihana.
Soal blue energy ataupun banyugeni kata dia, dirinya belum bisa memberikan justifikasi, sebab belum mengetahui dan melihat secara langsung produknya. Bagaimana prosesnya air itu bisa jadi minyak sebab air itu unsurnya H2O. Unsur H2 bisa dipisah, namun hal itu tetap memakai teknologi cukup mahal untuk memisah H2+O2.
"Kita belum tahu bagaimana air jadi minyak, prosesnya bagaimana. Ini masih jadi tanda tanya, mungkin saja pakai stimulan unsur kapur dimasukkan. Tapi itu masih butuh proses pemanasan, butuh proses refinary, apa itu malah tidak mahal," katanya.
Sementara itu Srihana menambahkan secara enginering, sesuatu yang dihasilkan dari sebuah proses itu semuanya bisa diukur dan dijelaskan secara logis. Misalnya melalui elektrolisa tetap membutuhkan energi dulu.
"Energinya, energi apa. Lihat bahannya katoda dan elektrodanya. Kita lihat semua dan diukur output input dan kadarnya seperti apa. Kemudian efesiensinya bagaimana. Jangan hanya sisi produk luarnya saja," kata Srihana mengingatkan.
Ilmuwan Desak Presiden Fungsikan Lembaga Riset Negara
Yogyakarta, Kasus Blue Energy, ilmuwan Universitas Gadjah Mada (UGM) mendesak presiden agar memfungsikan lembaga-lembaga riset milik negara maupun yang ada di perguruan tinggi.
Kasus penemua blue energy harus bisa dijelaskan secara ilmiah proses perubahan air menjadi bahan bakar, bukan malah ditutup-tutupi.
Hal itu diungkapkan Ketua Jurusan Teknik Elektro UGM, Dr Tumiran didampingi Dr Srihana kepada wartawan di Kantor Pusat UGM, Bulaksumur Yogyakarta, Selasa (27/5/2008).
"Harus ada penjelasan secara ilmiah dan logis soal air menjadi bahan bakar. Jangan malah ditutup-tutupi dan kita mendukung kalau ada penemuan dari masyarakat," kata Tumiran.
Menurut dia, kasus blue energy yang pernah diujikan beberapa waktu lalu dihadapan presiden bisa menjadi preseden yang buruk bagi dunia ilmu pengetahuan.
"Mestinya kalau sampai presiden sudah sampai mempercayainya, presiden diharapkan menfungsikan lembaga-lemba riset negara dan di perguruan tinggi. Sebab para ilmuwan bekerja di tempat itu seperti LIPI, BPPT dan perguruan tinggi yang menjadi tempat para ilmuwan," kata Tumiran.
Menurut dia, dalam dunia ilmu pengetahuan sebuah penemuan itu bisa diadu dan dibahas secara ilmiah. Apabila tidak bisa dilakukan terbuka, bisa dilakukan secaratertutup. Atau dilakukan secara terbatas dengan alasan keamanan, dilindungi negara dan tidak diekspos dulu.
Kalau seperti kasus sekarang ini kata Tumiran, para ilmuwan menjadi bertanya-tanya dan prihatin. Presiden seharus mau memfungsikan lembaga negara dalam bidang riset dan ilmu pengetahuan. Sebab bila tidak hal ini akan menjadi tanda tanya besar karena sudah memutar-balikkan teori.
"Berarti ada yang salah dalam pendidikan kita. Padahal riset itu dimulai dari teori kemudian bisa dibuktikan secara ilmiah, Teori apapun tentang energi bisa dijelaskan semua dan hasilnya juga bisa dibuktikan dan diukur," kata staf pengajar UGM yang terus berkomunikasi dengan ilmuwan di perguruan tinggi lain maupun dengan LIPI dan BPPT.
Sementara itu Dr Srihana mengingatkan bisa ada sebuah penemuan hendaknya prinsip logis yang diutamakan bukan ambisi yang didahulukan. Hanya saja budaya yang berkembang di Indonesia masih banyak budaya lisan sehingga diterima mentah begitu saja.
"Soal ini kita terlalu ambisius sehingga melupakan prinsip logik sehingga langsung dipercaya. Kalau ambisius harus didasar prinsip logik saja," kata Srihana.
Bagi penemunya kata dia, kalau yakin dengan penemuannya itu handaknya tidak perlu takut dijiplak atau dicuri orang. Penemuannya bisa dipatenkan sebagai HAKI. "Dengan demikian bisa dilindungi penemuannya. Jalan instan sebaiknya harus dikurangi," pungkas dia.
Kasus penemua blue energy harus bisa dijelaskan secara ilmiah proses perubahan air menjadi bahan bakar, bukan malah ditutup-tutupi.
Hal itu diungkapkan Ketua Jurusan Teknik Elektro UGM, Dr Tumiran didampingi Dr Srihana kepada wartawan di Kantor Pusat UGM, Bulaksumur Yogyakarta, Selasa (27/5/2008).
"Harus ada penjelasan secara ilmiah dan logis soal air menjadi bahan bakar. Jangan malah ditutup-tutupi dan kita mendukung kalau ada penemuan dari masyarakat," kata Tumiran.
Menurut dia, kasus blue energy yang pernah diujikan beberapa waktu lalu dihadapan presiden bisa menjadi preseden yang buruk bagi dunia ilmu pengetahuan.
"Mestinya kalau sampai presiden sudah sampai mempercayainya, presiden diharapkan menfungsikan lembaga-lemba riset negara dan di perguruan tinggi. Sebab para ilmuwan bekerja di tempat itu seperti LIPI, BPPT dan perguruan tinggi yang menjadi tempat para ilmuwan," kata Tumiran.
Menurut dia, dalam dunia ilmu pengetahuan sebuah penemuan itu bisa diadu dan dibahas secara ilmiah. Apabila tidak bisa dilakukan terbuka, bisa dilakukan secaratertutup. Atau dilakukan secara terbatas dengan alasan keamanan, dilindungi negara dan tidak diekspos dulu.
Kalau seperti kasus sekarang ini kata Tumiran, para ilmuwan menjadi bertanya-tanya dan prihatin. Presiden seharus mau memfungsikan lembaga negara dalam bidang riset dan ilmu pengetahuan. Sebab bila tidak hal ini akan menjadi tanda tanya besar karena sudah memutar-balikkan teori.
"Berarti ada yang salah dalam pendidikan kita. Padahal riset itu dimulai dari teori kemudian bisa dibuktikan secara ilmiah, Teori apapun tentang energi bisa dijelaskan semua dan hasilnya juga bisa dibuktikan dan diukur," kata staf pengajar UGM yang terus berkomunikasi dengan ilmuwan di perguruan tinggi lain maupun dengan LIPI dan BPPT.
Sementara itu Dr Srihana mengingatkan bisa ada sebuah penemuan hendaknya prinsip logis yang diutamakan bukan ambisi yang didahulukan. Hanya saja budaya yang berkembang di Indonesia masih banyak budaya lisan sehingga diterima mentah begitu saja.
"Soal ini kita terlalu ambisius sehingga melupakan prinsip logik sehingga langsung dipercaya. Kalau ambisius harus didasar prinsip logik saja," kata Srihana.
Bagi penemunya kata dia, kalau yakin dengan penemuannya itu handaknya tidak perlu takut dijiplak atau dicuri orang. Penemuannya bisa dipatenkan sebagai HAKI. "Dengan demikian bisa dilindungi penemuannya. Jalan instan sebaiknya harus dikurangi," pungkas dia.
Djoko Sutrisno : Dianggap Gila Mobilnya Pakai Air (3)
Yogyakarta, Ketika berhasil membuat alat yang bisa membuat hemat BBM dengan air. Temuan itu kemudian dipraktekkan pada mobil pribadinya Suzuki Jimny. Namun bukannya orang lain terkagum-kagum. Sebaliknya teman-temannya malah mengejek dengan mengatakan, 'gila kamu, masak mobilmu dijalankan pakai air.'
"Itu pada tahun 2005, ketika saya pakai mobil Jimny dan orang pada tahu mobilnya dijalankan pakai air, orang malah bilang gila kamu, Djok," kenang Djoko waktu itu sambil tertawa.
Dia pun tetap cuek dan terus melakukan uji coba. Tidak hanya mobil saja yang dipakai untuk percobaan. Namun sepeda motor milik anaknya juga dipasangan alat itu. Karena sudah terbukti memang membuat irit BBM, beberapa teman-temannya mulai tahun 2007 hingga kini banyak yang meminta dipasang alat itu.
"Lihat saja sekarang tidak hanya teman-teman saya, tapi lewat mulut ke mulut, mereka datang ke sini. Saya pun juga tak pelit untuk berbagi pengalaman," kata Djoko yang sudah lupa berapa ratus motor yang telah dipasangi alat itu.
Menurut dia untuk membuat alat yang bisa menampung air yang menghasilkan gas tidaklah terlalu besar. Cukup menggunakan botol plastik untuk kecap atau saus yang biasa ditaruh dimeja makan. Botol bekas pun bisa dipakai asalkan tidak mudah bocor dan fleksibel bila akan ditempat di salah satu bagian bodi motor.
Alat yang lain berupa selang kecil, kabel dan lampu kecil untuk indikator bila larutan kimia di dalam botol itu mulai berkurang. Selang akan kita gunakan untuk menyambung menuju tempat karburasi motor.
"Kalau bahan kimia KOH sudah berkurang bisa ditambahkan secukupnya sendiri, tak perlu datang ke tempat kami. Rata-rata baru ditambah kalau sudah mencapai lebih kurang 2.000 km," katanya.
Ketika ditanyakan mengapa tidak dipatenkan saja temuannya itu. Djoko mengatakan tidak perlu, kalau ada orang mau meniru atau memanfaatkan teknologi aeperti itu tidak ada masalah. "Semua orang kan berhak. Ilmu itu yang penting bisa dimanfaatkan oleh orang lain. Saya tidak berpikir masalah paten," kata Djoko.
"Itu pada tahun 2005, ketika saya pakai mobil Jimny dan orang pada tahu mobilnya dijalankan pakai air, orang malah bilang gila kamu, Djok," kenang Djoko waktu itu sambil tertawa.
Dia pun tetap cuek dan terus melakukan uji coba. Tidak hanya mobil saja yang dipakai untuk percobaan. Namun sepeda motor milik anaknya juga dipasangan alat itu. Karena sudah terbukti memang membuat irit BBM, beberapa teman-temannya mulai tahun 2007 hingga kini banyak yang meminta dipasang alat itu.
"Lihat saja sekarang tidak hanya teman-teman saya, tapi lewat mulut ke mulut, mereka datang ke sini. Saya pun juga tak pelit untuk berbagi pengalaman," kata Djoko yang sudah lupa berapa ratus motor yang telah dipasangi alat itu.
Menurut dia untuk membuat alat yang bisa menampung air yang menghasilkan gas tidaklah terlalu besar. Cukup menggunakan botol plastik untuk kecap atau saus yang biasa ditaruh dimeja makan. Botol bekas pun bisa dipakai asalkan tidak mudah bocor dan fleksibel bila akan ditempat di salah satu bagian bodi motor.
Alat yang lain berupa selang kecil, kabel dan lampu kecil untuk indikator bila larutan kimia di dalam botol itu mulai berkurang. Selang akan kita gunakan untuk menyambung menuju tempat karburasi motor.
"Kalau bahan kimia KOH sudah berkurang bisa ditambahkan secukupnya sendiri, tak perlu datang ke tempat kami. Rata-rata baru ditambah kalau sudah mencapai lebih kurang 2.000 km," katanya.
Ketika ditanyakan mengapa tidak dipatenkan saja temuannya itu. Djoko mengatakan tidak perlu, kalau ada orang mau meniru atau memanfaatkan teknologi aeperti itu tidak ada masalah. "Semua orang kan berhak. Ilmu itu yang penting bisa dimanfaatkan oleh orang lain. Saya tidak berpikir masalah paten," kata Djoko.
Djoko Sutrisno : Ide Penemuannya Dari Percikan Air Aki (2)
Yogyakarta, Sejak muda Djoko gemar mengutak-atik barang elektronik maupun mesin. Temuannya alat yang bisa menghemat bahan bakar itu secara tak sengaja berawal dari percikan air Aki yang menimbulkan ledakan.
"Sekitar tahun 2005 ketika melihat isi aki dengan korek api, ternyata terjadi ledakan," kata Djoko Sutrisno.
"Mengapa ada ledakan padahal air yang diisikan ke dalam aki itu adalah air murni biasa?" tanya Djoko. Pasti ada gas di dalam air aki itu. Kalau gas seperti gas helium balon udara jelas tidak mungkin. Ternyata gas dari air yang bercampur dengan unsur-unsur kimia dalam aki itu.
"Yang membuat saya bertanya-tanya terus adalah mengapa bisa terbakar dan meledak,"katanya.
Lama berpikir sambil Djoko akhirnya menemukan jawaban bahwa yang terbakar adalah adanya unsur hidrogen dalam air aki yang terurai karena proses kimiawi. Hal itu terlihat dari percikan air yang mengenai mukanya sehingga menimbulkan rasa gatal-gatal di kulit.
"Itu kuncinya, ternyata gas hidrogen itulah yang bisa membakar. Karena bisa membakar secara prinsip bisa menjadi bahan bakar," katanya.
Djoko kemudian teringat ketika melihat sebuah rumah terbakar waktu kecil, ketika mobil pemadam kebakaran menyemprotkan air kadang kala nyala api tidak padam. Namun sebaliknya nyala api justru semakin membesar dan merembet ke tempat lain.
"Ini ternyata air yang dipakai ada unsur hidrogen yang mudah terbakar dan oksigen yang juga dibutuhkan oleh api sehingga jadi besar," kata Djoko yang mudah akrab dengan berbagai orang yang ditemuinya.
Setelah itu, Djoko kemudian mulai berpikir untuk memanfaatkan hidrogen. Unsur hidrogen yang ada dalam air bisa dijadikan bahan bakar. Hidrogen yang merupakan unsur di dalam air ini ketika sudah dipisahkan akan menjadi gas yang memiliki nilai oktan pada angka 130. "Hidrogen yang ada dalam sebuah tempat tertutup seperti di aki itu bisa dipakai," katanya.
Dia pun kemudian merancang sebuah alat yang bisa menampung atau menjebak gas hidrogen yang ada dalam air (H2)). Selanjutnya hidrogen yang sudah dipisahkan ini kemudian dimasukkan ke dalam ruang kompresi sepedamotor. Hasilnya, hidrogen ini akan mampu menjadi bahan bakar yang sangat ramah lingkungan, tanpa emisi dan tanpa jelaga.
"Teknologi ini bisa digunakan di mesin bensin maupun mesin solar. Untuk ukuran air yang digunakan tergantung besar kecilnya kendaraan. Yang jelas tetap pakai
elektroda untuk menghasilkan hidrogen," katanya.
"Sekitar tahun 2005 ketika melihat isi aki dengan korek api, ternyata terjadi ledakan," kata Djoko Sutrisno.
"Mengapa ada ledakan padahal air yang diisikan ke dalam aki itu adalah air murni biasa?" tanya Djoko. Pasti ada gas di dalam air aki itu. Kalau gas seperti gas helium balon udara jelas tidak mungkin. Ternyata gas dari air yang bercampur dengan unsur-unsur kimia dalam aki itu.
"Yang membuat saya bertanya-tanya terus adalah mengapa bisa terbakar dan meledak,"katanya.
Lama berpikir sambil Djoko akhirnya menemukan jawaban bahwa yang terbakar adalah adanya unsur hidrogen dalam air aki yang terurai karena proses kimiawi. Hal itu terlihat dari percikan air yang mengenai mukanya sehingga menimbulkan rasa gatal-gatal di kulit.
"Itu kuncinya, ternyata gas hidrogen itulah yang bisa membakar. Karena bisa membakar secara prinsip bisa menjadi bahan bakar," katanya.
Djoko kemudian teringat ketika melihat sebuah rumah terbakar waktu kecil, ketika mobil pemadam kebakaran menyemprotkan air kadang kala nyala api tidak padam. Namun sebaliknya nyala api justru semakin membesar dan merembet ke tempat lain.
"Ini ternyata air yang dipakai ada unsur hidrogen yang mudah terbakar dan oksigen yang juga dibutuhkan oleh api sehingga jadi besar," kata Djoko yang mudah akrab dengan berbagai orang yang ditemuinya.
Setelah itu, Djoko kemudian mulai berpikir untuk memanfaatkan hidrogen. Unsur hidrogen yang ada dalam air bisa dijadikan bahan bakar. Hidrogen yang merupakan unsur di dalam air ini ketika sudah dipisahkan akan menjadi gas yang memiliki nilai oktan pada angka 130. "Hidrogen yang ada dalam sebuah tempat tertutup seperti di aki itu bisa dipakai," katanya.
Dia pun kemudian merancang sebuah alat yang bisa menampung atau menjebak gas hidrogen yang ada dalam air (H2)). Selanjutnya hidrogen yang sudah dipisahkan ini kemudian dimasukkan ke dalam ruang kompresi sepedamotor. Hasilnya, hidrogen ini akan mampu menjadi bahan bakar yang sangat ramah lingkungan, tanpa emisi dan tanpa jelaga.
"Teknologi ini bisa digunakan di mesin bensin maupun mesin solar. Untuk ukuran air yang digunakan tergantung besar kecilnya kendaraan. Yang jelas tetap pakai
elektroda untuk menghasilkan hidrogen," katanya.
Kisah Djoko Sutrisno Memanfaatkan Air Untuk Hidupkan Motor
Yogyakarta, Pak Djoko yang satu ini berbeda dengan Joko Sutrisno warga Nganjuk
Jawa Timur yang menemukan blue energy, BBM berbahan baku air. Pak Djoko yang satu ini nama lengkapnya P. Djoko Sutrisno warga Kelurahan Pakuncen Jl HOS Cokroaminoto No 76 Yogyakarta.
Dia adalah orang yang memanfaatkan air atau menambahkan air dalam BBM sehingga motor atau mobil yang dikendarainya menjadi lebih irit dibanding bila menggunakan 100 persen BBM. Prinsipnya kendaraan masih menggunakan BBM, namun ditambah dengan teknologi temuannya bisa irit atau hemat 100 - 150 persen.
"Setelah dipasangi teknologi ini, konsumsi BBM bisa hemat dua kali lipat hingga tiga kali lipat. Untuk percobaan, dulu kita pakai motor dan mobil pribadinya dan sekarang banyak warga yang ingin dipasangi alat itu," kata Djoko kepada detikcom dirumahnya.
Menurut dia, peralatan yang dibutuhkan juga sangat sederhana, tidak rumit dan tidak dipatentkan, meski dia berhasil menemukannya. Dia dengan sukarela membagikan pengetahuan itu kepada orang yang berminat mempelajarinya.
"Kalau mau membuat sendiri ongkosnya sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu. Mobil dan motor saya sudah saya pasangi sejak 2 tahun lalu," kata Djoko yang hanya jebolan kelas dua di SMP Pangudi Luhur itu.
Dia mengatakan secara prinsip motor masih menggunakan bensin atau solar, namun pada suatu ketika pasti bisa dijalankan dengan menggunakan air. Hanya saja teknologinya memang perlu banyak perubahan.
Menurut Djoko, teknologi temuannya ini air yang akan menjadi sumber energi ini perlu dicampur dengan zat kimia berupa Kalium Hidroksida (KOH). Gas hidrogen tersebut mampu menambah oktan di bensin atau solar meningkat sehingga menjadi lebih hemat. "Prinsipnya air murni atau aquades ditambah KOH yang bisa dibeli di toko-toko bahan kimia dengan harga murah itu motor bisa jalan," katanya.
Air yang yang sudah dicampur bahan tersebut kemudian dihubungkan dengan elektroda agar unsur oksigen dan hidrogen dalam air tersebut terurai. Setelah itu unsur hidrogennya yang mudah terbakar dijebak dan diambil sebagai sumber tenaga.
"Sangat sederhana sekali, logis dan ilmiah sehingga semua orang bisa memanfaatkannya. Saya tak takut temuan saya ini ditiru orang lain. Tak perlu dipatenkan agar semua orang bisa memanfaatkannya," imbuh dia.
Saat ini di rumahnya sudah banyak mobil dan motor yang dimodifikasi dengan teknologi temuannya. Dua buah mobil VW Kodok dan KIA Carens milik temannya minta dipasangi alat itu. Sejak pagi pukul 08.00 WIB, dia dibantu 2-3 orang karyawan an anggota keluarganya mengutak-atik motor milik orang lain yang minta dipasang alat tersebut.
Tidak hanya itu, banyak pemilik bengkel, bahkan warga luar kota Yogyakarta seperti Bogor, Bandung atau Semarang sengaja datang ke rumah Djoko yang sekaligus menjadi bengkel untuk menimba ilmu. "Saya juga tak pelit ilmu kalau memang ada orang yang benar-benar ingin belajar ke sini," katanya.
Jawa Timur yang menemukan blue energy, BBM berbahan baku air. Pak Djoko yang satu ini nama lengkapnya P. Djoko Sutrisno warga Kelurahan Pakuncen Jl HOS Cokroaminoto No 76 Yogyakarta.
Dia adalah orang yang memanfaatkan air atau menambahkan air dalam BBM sehingga motor atau mobil yang dikendarainya menjadi lebih irit dibanding bila menggunakan 100 persen BBM. Prinsipnya kendaraan masih menggunakan BBM, namun ditambah dengan teknologi temuannya bisa irit atau hemat 100 - 150 persen.
"Setelah dipasangi teknologi ini, konsumsi BBM bisa hemat dua kali lipat hingga tiga kali lipat. Untuk percobaan, dulu kita pakai motor dan mobil pribadinya dan sekarang banyak warga yang ingin dipasangi alat itu," kata Djoko kepada detikcom dirumahnya.
Menurut dia, peralatan yang dibutuhkan juga sangat sederhana, tidak rumit dan tidak dipatentkan, meski dia berhasil menemukannya. Dia dengan sukarela membagikan pengetahuan itu kepada orang yang berminat mempelajarinya.
"Kalau mau membuat sendiri ongkosnya sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu. Mobil dan motor saya sudah saya pasangi sejak 2 tahun lalu," kata Djoko yang hanya jebolan kelas dua di SMP Pangudi Luhur itu.
Dia mengatakan secara prinsip motor masih menggunakan bensin atau solar, namun pada suatu ketika pasti bisa dijalankan dengan menggunakan air. Hanya saja teknologinya memang perlu banyak perubahan.
Menurut Djoko, teknologi temuannya ini air yang akan menjadi sumber energi ini perlu dicampur dengan zat kimia berupa Kalium Hidroksida (KOH). Gas hidrogen tersebut mampu menambah oktan di bensin atau solar meningkat sehingga menjadi lebih hemat. "Prinsipnya air murni atau aquades ditambah KOH yang bisa dibeli di toko-toko bahan kimia dengan harga murah itu motor bisa jalan," katanya.
Air yang yang sudah dicampur bahan tersebut kemudian dihubungkan dengan elektroda agar unsur oksigen dan hidrogen dalam air tersebut terurai. Setelah itu unsur hidrogennya yang mudah terbakar dijebak dan diambil sebagai sumber tenaga.
"Sangat sederhana sekali, logis dan ilmiah sehingga semua orang bisa memanfaatkannya. Saya tak takut temuan saya ini ditiru orang lain. Tak perlu dipatenkan agar semua orang bisa memanfaatkannya," imbuh dia.
Saat ini di rumahnya sudah banyak mobil dan motor yang dimodifikasi dengan teknologi temuannya. Dua buah mobil VW Kodok dan KIA Carens milik temannya minta dipasangi alat itu. Sejak pagi pukul 08.00 WIB, dia dibantu 2-3 orang karyawan an anggota keluarganya mengutak-atik motor milik orang lain yang minta dipasang alat tersebut.
Tidak hanya itu, banyak pemilik bengkel, bahkan warga luar kota Yogyakarta seperti Bogor, Bandung atau Semarang sengaja datang ke rumah Djoko yang sekaligus menjadi bengkel untuk menimba ilmu. "Saya juga tak pelit ilmu kalau memang ada orang yang benar-benar ingin belajar ke sini," katanya.
Senin, 26 Mei 2008
Joko Suprapto Bukan Alumnus TE UGM
Yogyakarta, Gara-gara nama Joko Suprapto penemu blue energy, jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta sibuk. Berbagai kalangan berusaha mengontak ketua jurusan TE, UGM untuk mengetahui bio data Joko Suprapto asal Nganjuk Jawa Timur.
"Nama Joko Suprapto di data base mahasiswa di semua angkatan dari 70 hingga 80-an tidak kita temukan. Dia angkatan berapa saat kuliah. Kalau angkatan lama dulu kuliah masih di kampus Barek berdekatan dengan jurusan Teknik Mesin," kata Ketua Jurusan Teknik Elektro, FT UGM, Dr Tumiran kepada wartawan di kampus Bulaksumur Yogyakarta, Senin (26/5/2008).
Tumiran bahkan memerintahkan Kepala Bagian Akademik dan Pengajaran Sungkono untuk mengecek ulang di data base almuni maupun mahasiswa yang pernah kuliah tapi drop out (DO). Sejak pagi hingga siang, Sungkono bersama staf lainnya mencarinya, namun lagi-lagi nama itu tidak ditemukan.
"Ada memang nama Joko Siswanto angkatan 79 dan angkatan 80 ada nama Joko Sumaryono. Dan di angkatan 81 juga tidak ada. Lagipula kalau melihat fotonya yang dimuat di media, saya tidak mengenal," kata Tumiran alumni angkatan 79 itu.
Dia mengatakan beberapa staf pengajar lainnya baik di jurusan Teknik Elektro maupun Teknik Mesin setelah ditanya dan dicek di data base juga tidak mengenal dan mengetahui. Dia juga mengaku sejak pagi hingga pukul 14.00 WIB handphone-nya terus berdering menanyakan nama itu. Bahkan bekas Pjs Sekneg zaman Presiden Gus Dur, Bondan Gunawan juga menelepon dirinya untuk menanyakan kebenaran data itu.
"Banyak pihak yang menanyakan nama Joko Suprapto, tapi semua saya jawab tidak ada nama itu. Sejak pgi telepon tak pernah berhenti," kata Tumiran yang terus-menerus menerima telepon menanyakan nama penemu blue energy itu.
Tidak hanya jurusan saja yang sibuk kata dia, fakultas Teknik pun juga sibuk sehingga dekan hari ini sempat menggelar Rapat Koordinasi Fakultas (RKF). Materi rapat seputar masalah nama Joko Suprapto dan penemuan bule energy berbahan baku air.
"Sekali lagi kita jawab, nama itu tidak kita temukan di jurusan. Dulu memang jurusan teknik mesin dan listrik itu menjadi satu. Kemudian berdiri sendiri menjadi teknik listrik dan berubah menjadi teknik elektro seperti saat ini," kata Tumiran dibenarkan oleh Sungkono yang mendampinginya.
Dia menambahkan saat RKF dengan semua jurusan, dirinya maupun beberapa dosen kimia maupun mesin sempat meragukan penemuan itu. Sebab untuk merubah air menjadi bahan bakar perlu perubahan dan substitusi yang luar biasa. Secara hukum termodinamika itu memerlukan biaya mahal dan besar sekali.
"Air secara material sudah given seperti itu. Kalau kemudian berubah bentuk lain, bukan pekerjaan mudah," kata staf pengajar jurusan Elektro itu.
Menurut dia, baik jurusan TE, Fakultas Teknik maupun dilembaga pusat studi yang lain di UGM juga merasa belum pernah ditawari untuk menangani proyek tersebut. "Kalaupun ditawari akan kami tolak, karena secara keilmuwan masih harus kita verifikasi kebenarannya," pungkas Tumiran.
"Nama Joko Suprapto di data base mahasiswa di semua angkatan dari 70 hingga 80-an tidak kita temukan. Dia angkatan berapa saat kuliah. Kalau angkatan lama dulu kuliah masih di kampus Barek berdekatan dengan jurusan Teknik Mesin," kata Ketua Jurusan Teknik Elektro, FT UGM, Dr Tumiran kepada wartawan di kampus Bulaksumur Yogyakarta, Senin (26/5/2008).
Tumiran bahkan memerintahkan Kepala Bagian Akademik dan Pengajaran Sungkono untuk mengecek ulang di data base almuni maupun mahasiswa yang pernah kuliah tapi drop out (DO). Sejak pagi hingga siang, Sungkono bersama staf lainnya mencarinya, namun lagi-lagi nama itu tidak ditemukan.
"Ada memang nama Joko Siswanto angkatan 79 dan angkatan 80 ada nama Joko Sumaryono. Dan di angkatan 81 juga tidak ada. Lagipula kalau melihat fotonya yang dimuat di media, saya tidak mengenal," kata Tumiran alumni angkatan 79 itu.
Dia mengatakan beberapa staf pengajar lainnya baik di jurusan Teknik Elektro maupun Teknik Mesin setelah ditanya dan dicek di data base juga tidak mengenal dan mengetahui. Dia juga mengaku sejak pagi hingga pukul 14.00 WIB handphone-nya terus berdering menanyakan nama itu. Bahkan bekas Pjs Sekneg zaman Presiden Gus Dur, Bondan Gunawan juga menelepon dirinya untuk menanyakan kebenaran data itu.
"Banyak pihak yang menanyakan nama Joko Suprapto, tapi semua saya jawab tidak ada nama itu. Sejak pgi telepon tak pernah berhenti," kata Tumiran yang terus-menerus menerima telepon menanyakan nama penemu blue energy itu.
Tidak hanya jurusan saja yang sibuk kata dia, fakultas Teknik pun juga sibuk sehingga dekan hari ini sempat menggelar Rapat Koordinasi Fakultas (RKF). Materi rapat seputar masalah nama Joko Suprapto dan penemuan bule energy berbahan baku air.
"Sekali lagi kita jawab, nama itu tidak kita temukan di jurusan. Dulu memang jurusan teknik mesin dan listrik itu menjadi satu. Kemudian berdiri sendiri menjadi teknik listrik dan berubah menjadi teknik elektro seperti saat ini," kata Tumiran dibenarkan oleh Sungkono yang mendampinginya.
Dia menambahkan saat RKF dengan semua jurusan, dirinya maupun beberapa dosen kimia maupun mesin sempat meragukan penemuan itu. Sebab untuk merubah air menjadi bahan bakar perlu perubahan dan substitusi yang luar biasa. Secara hukum termodinamika itu memerlukan biaya mahal dan besar sekali.
"Air secara material sudah given seperti itu. Kalau kemudian berubah bentuk lain, bukan pekerjaan mudah," kata staf pengajar jurusan Elektro itu.
Menurut dia, baik jurusan TE, Fakultas Teknik maupun dilembaga pusat studi yang lain di UGM juga merasa belum pernah ditawari untuk menangani proyek tersebut. "Kalaupun ditawari akan kami tolak, karena secara keilmuwan masih harus kita verifikasi kebenarannya," pungkas Tumiran.
Sabtu, 24 Mei 2008
Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi Jadi Program Prioritas Tahun 2009
Yogyakarta, Departemen kesehatan menargetkan pengurangan angka kematian ibu dari 26,9 persen menjadi 26 persen per 1000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi berkurang dari 248 menjadi 206 per 100 ribu kelahiran yang dicapai pada tahun 2009. Sementara angka harapan hidup berkisar rata-rata 70,6 tahun.
Hal ini disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI Dr Siti Fadilah Supari dalam memberikan pidato sambutan yang dibacakan oleh Kepala Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan SDM Kesehatan, Depkes, Dra Nasirah Bahaudin MM, Sabtu (24/5/2008) dalam Diskusi Panel
"Kiprah dan Peran Dokter dalam Pembangunan" yang diselenggarakan dalam rangka Peringatan 100 Tahun Boedi Oetomo, di Gedung Auditorium Fakultas Kedokteran UGM.
Dia menyebutkan, angka kematian ibu dan bayi mengalami penurunan yang cukup signifikan dari tahun 2004 sampai tahun 2007. Di tahun 2007, angka kematian bayi mencapai 26,9 persen per 1000 kelahiran hidup dan angka kematian ibu berkisar 248 per 100 ribu kelahiran. Padahal di tahun 2004, angka kematian bayi sekitar 30,8 persen per 1000 kelahiran hidup dan angka kematian ibu sekitar 270 dari per 100 ribu kelahiran.
Menkes juga sempat menyinggung jumlah penderita gizi buruk saat ini menurun sekitar empat persen dalam masa empat tahun terakhir. Dari 25,8 persen di tahun 2003 menjadi 21,3 persen di tahun 2007.
"Di tahun 2007, jumlah penderita gizi buruk kita sekitar 21, 3 persen dari seluruh anak balita," jelasnya.
Menkes menjelaskan, risiko kasus gizi buruk yang dialami pada keluarga miskin sekitar 3,5 kali lipat lebih tinggi dari pada keluarga kaya. Kasus gizi buruk ini, kematian ibu dan anak ini, kata Supari, cukup mendapat perhatian dari pemerintah ditengah sedang mewabahnya kasus malaria, polio, DBD, dan flu burung.
Menurutnya, prioritas pembangunan di bidang pendidikan dan kesehatan menjadi hak yang sangat penting di tengah era globalisasi dan penentuan angka indeks pembangunan manusia (IPM).
"Saat ini posisi IPM kita berada di urutan 107 dari 177 negara, setingkat dengan Vietnam. Tentunya posisi ini masih di bawah Malaysia, Thailand dan Singapaura," katanya.
Dia mengatakan Depkes Supari akan berupaya keras meningkatkan penyelenggaraan pembangunan pelayanan kesehatan terutama dalam pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak serta pengadaan tenaga kesehatan di masa mendatang.
Kepada para Dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Menkes berpesan agar dokter tidak terjebak dalam rutinitas dan sikap profesionalisme. Selaku orang yang profesional dan cendekiawan, dokter seharusnya memberikan kontribusi besar dalam pembangunan bangsa sebagai agent of change (pembaharu), agent of treatment (pengobat) dan agent of development (pendidik).
Hal ini disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI Dr Siti Fadilah Supari dalam memberikan pidato sambutan yang dibacakan oleh Kepala Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan SDM Kesehatan, Depkes, Dra Nasirah Bahaudin MM, Sabtu (24/5/2008) dalam Diskusi Panel
"Kiprah dan Peran Dokter dalam Pembangunan" yang diselenggarakan dalam rangka Peringatan 100 Tahun Boedi Oetomo, di Gedung Auditorium Fakultas Kedokteran UGM.
Dia menyebutkan, angka kematian ibu dan bayi mengalami penurunan yang cukup signifikan dari tahun 2004 sampai tahun 2007. Di tahun 2007, angka kematian bayi mencapai 26,9 persen per 1000 kelahiran hidup dan angka kematian ibu berkisar 248 per 100 ribu kelahiran. Padahal di tahun 2004, angka kematian bayi sekitar 30,8 persen per 1000 kelahiran hidup dan angka kematian ibu sekitar 270 dari per 100 ribu kelahiran.
Menkes juga sempat menyinggung jumlah penderita gizi buruk saat ini menurun sekitar empat persen dalam masa empat tahun terakhir. Dari 25,8 persen di tahun 2003 menjadi 21,3 persen di tahun 2007.
"Di tahun 2007, jumlah penderita gizi buruk kita sekitar 21, 3 persen dari seluruh anak balita," jelasnya.
Menkes menjelaskan, risiko kasus gizi buruk yang dialami pada keluarga miskin sekitar 3,5 kali lipat lebih tinggi dari pada keluarga kaya. Kasus gizi buruk ini, kematian ibu dan anak ini, kata Supari, cukup mendapat perhatian dari pemerintah ditengah sedang mewabahnya kasus malaria, polio, DBD, dan flu burung.
Menurutnya, prioritas pembangunan di bidang pendidikan dan kesehatan menjadi hak yang sangat penting di tengah era globalisasi dan penentuan angka indeks pembangunan manusia (IPM).
"Saat ini posisi IPM kita berada di urutan 107 dari 177 negara, setingkat dengan Vietnam. Tentunya posisi ini masih di bawah Malaysia, Thailand dan Singapaura," katanya.
Dia mengatakan Depkes Supari akan berupaya keras meningkatkan penyelenggaraan pembangunan pelayanan kesehatan terutama dalam pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak serta pengadaan tenaga kesehatan di masa mendatang.
Kepada para Dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Menkes berpesan agar dokter tidak terjebak dalam rutinitas dan sikap profesionalisme. Selaku orang yang profesional dan cendekiawan, dokter seharusnya memberikan kontribusi besar dalam pembangunan bangsa sebagai agent of change (pembaharu), agent of treatment (pengobat) dan agent of development (pendidik).
Mendag Usul BLT Diserahkan ke Perempuan
Yogyakarata, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu pernah mengusulkan agar bantuan langsung tunai (BLT) diserahkan langsung kepada kaum perempuan. Namun usulan kepada presiden itu gagal, karena yang tertuliskan dalam kartu keluarga dan penanggungjawab keluarga itu adalah kaum pria.
Hal itu diungkapkan Mari dalam acara seminar nasional peringatan 100 tahun kebangkitan kaum perempuan di Monumen Yogya Kembali, di Ringroad Utara Sariharjo, Sleman, Sabtu (24/5/2008).
Ya, bantuan langsung tunai itu lebih baik ke perempuan saja," kata Mari.
Menurut dia, sesungguhnya pada tahun 2005, dirinya bersama menteri yang lain pernah mengusulkan lebih baik BLT itu diserahkan langsung kepada perempuan atau ibu rumah tangga. Sebab dirinya yakin uang akan akan pakai dengan baik.
Usulan itu kata dia, didengar oleh Presiden SBY. Namun akhirnya usaha itu mengalami kegagalan karena masalah prosedur seperti KTP dan kepala keluarga itu adalah pria.
"Itu di dengar oleh Pak SBY, tapi ya karena KTP-lah, karena kepala keluargalah itu tidak bisa," kata Mari sambil mengingatkan Meuatia Hatta yang duduk disampingnya mengenai usulan itu.
Mengapa harus perempuan yang menerima BLT? Dia mengatakan bila uang BLT itu diserahkan pada perempuan, dirinya yakin perempuan akan lebih tepat menerima BLT dan kemudian diatur untuk belanja kebutuhan.
"Itu akan lebih tepat daripada untuk beli rokok. Untuk beli makanan atau pendidikan anaknya dan wanita itu juga less corruption," ungkap Mari.
Namun kata dia, perjuangan itu gagal. Pihaknya berjanji akan memperjuangkan terus. "Gagal memang tapi akan kita perjuangkan terus nanti," pungkas Mari.
Hal itu diungkapkan Mari dalam acara seminar nasional peringatan 100 tahun kebangkitan kaum perempuan di Monumen Yogya Kembali, di Ringroad Utara Sariharjo, Sleman, Sabtu (24/5/2008).
Ya, bantuan langsung tunai itu lebih baik ke perempuan saja," kata Mari.
Menurut dia, sesungguhnya pada tahun 2005, dirinya bersama menteri yang lain pernah mengusulkan lebih baik BLT itu diserahkan langsung kepada perempuan atau ibu rumah tangga. Sebab dirinya yakin uang akan akan pakai dengan baik.
Usulan itu kata dia, didengar oleh Presiden SBY. Namun akhirnya usaha itu mengalami kegagalan karena masalah prosedur seperti KTP dan kepala keluarga itu adalah pria.
"Itu di dengar oleh Pak SBY, tapi ya karena KTP-lah, karena kepala keluargalah itu tidak bisa," kata Mari sambil mengingatkan Meuatia Hatta yang duduk disampingnya mengenai usulan itu.
Mengapa harus perempuan yang menerima BLT? Dia mengatakan bila uang BLT itu diserahkan pada perempuan, dirinya yakin perempuan akan lebih tepat menerima BLT dan kemudian diatur untuk belanja kebutuhan.
"Itu akan lebih tepat daripada untuk beli rokok. Untuk beli makanan atau pendidikan anaknya dan wanita itu juga less corruption," ungkap Mari.
Namun kata dia, perjuangan itu gagal. Pihaknya berjanji akan memperjuangkan terus. "Gagal memang tapi akan kita perjuangkan terus nanti," pungkas Mari.
Demo BBM, Mahasiswa dan Polisi di Yogya Nyaris Bentrok
Yogyakarta, Aksi demo menolak kenaikan harga BBM masih terjadi di Yogyakarta hari ini. Mahasiswa nyaris bentrok dan saling dorong dengan polisi saat menggelar aksi di depan pintu Monumen Yogya Kembali, Sleman, Sabtu (24/5/2008).
Puluhan massa dari Aliansi Mahasiswa Yogyakarta (AMY) itu ingin bertemu dengan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dan Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta yang hadir dalam acara seminar itu. Namun ketika hendak masuk sudah dihadang puluhan aparat Polres Sleman.
Akibatnya nyaris terjadi bentrokan antara mahasiswa dan aparat. Keduanya saling dorong sehingga mahasiswa sempat terjatuh dan kocar-kacir akibat terkena dorongan dan tendangan aparat. Berbagai poster, sandal dan sepatu milik mahasiswa sempat terlepas saat menghindar dari kejaran aparat.
Setelah terjadi aksi saling dorong itu, mahasiswa kembali menggelar orasi di depan barikade aparat. Dalam orasinya, koordinator aksi Andre Moerhan menyatakan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM pada tanggal 23 Mei tetap ditolak mahasiswa.
Meski aparat melarang masuk, mahasiswa terus bernegosiasi agar diperkenankan menggelar aksi hapening art di tangga monumen. Namun aparat tetap tidak memperbolehkan mahasiswa masuk hingga ruangan seminar.
Akhirnya setelah kedua menteri itu meninggalkan lokasi, aparat memperbolehkan mahasiswa menggelar aksi hapening art di tangga monumen. Aksi hapening menggambarkan seorang kurus berpakaian compang-camping dengan wajah dicoreng-coreng. Dia memanggul sebuah tong bertuliskan 'Pertamini', pelesetan perusahaan Pertamina. Usai membacakan pernyataan sikap, mahasiswa kemudian membubarkan diri.
Puluhan massa dari Aliansi Mahasiswa Yogyakarta (AMY) itu ingin bertemu dengan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dan Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta yang hadir dalam acara seminar itu. Namun ketika hendak masuk sudah dihadang puluhan aparat Polres Sleman.
Akibatnya nyaris terjadi bentrokan antara mahasiswa dan aparat. Keduanya saling dorong sehingga mahasiswa sempat terjatuh dan kocar-kacir akibat terkena dorongan dan tendangan aparat. Berbagai poster, sandal dan sepatu milik mahasiswa sempat terlepas saat menghindar dari kejaran aparat.
Setelah terjadi aksi saling dorong itu, mahasiswa kembali menggelar orasi di depan barikade aparat. Dalam orasinya, koordinator aksi Andre Moerhan menyatakan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM pada tanggal 23 Mei tetap ditolak mahasiswa.
Meski aparat melarang masuk, mahasiswa terus bernegosiasi agar diperkenankan menggelar aksi hapening art di tangga monumen. Namun aparat tetap tidak memperbolehkan mahasiswa masuk hingga ruangan seminar.
Akhirnya setelah kedua menteri itu meninggalkan lokasi, aparat memperbolehkan mahasiswa menggelar aksi hapening art di tangga monumen. Aksi hapening menggambarkan seorang kurus berpakaian compang-camping dengan wajah dicoreng-coreng. Dia memanggul sebuah tong bertuliskan 'Pertamini', pelesetan perusahaan Pertamina. Usai membacakan pernyataan sikap, mahasiswa kemudian membubarkan diri.
Dana Cair, Mbah Walidjo Sumringah
Yogyakarta - Wajah gembira tampak di muka para warga miskin Yogyakarta yang baru saja mendapat dana BLT. Mereka mencairkan langsung di Kantor Pos Kecamatan Mergangsan, Jl Sisingamangaraja, Yogyakarta.
Proses pencairan dibuka Sabtu (24/5/2008) pukul 08.00 WIB. Warga terlebih dulu antre di depan pintu masuk. 2 Satgas BLT melakukan pengecekan sekali lagi, yakni mencocokkan kartu BLT dengan KTP. Setelah itu diberikan nomor urut. Selanjutnya mereka langsung menuju loket untuk mencairkannya.
Loket dibagi dua, khusus lansia dan biasa. Antrean berjalan lancar dan tertib. Setelah menyerahkan kupon, mereka akan menerima 6 lembar uang Rp 50 ribu. Tak perlu tanda tangan atau cap jempol.
Mbah Walijo (70) tampak sumringah sesudah menerima Rp 300.000 itu. Sesudah menerimanya, janda yang tinggal di Karanganyar, kel Brontokusuman, Mergangsan, Kota Yogyakarta, itu langsung duduk dan menghitung ulang. Setelah pas, lalu dimasukkan ke dompet.
"Nanti untuk beli beras di Pasar Prawirotaman. Lumayan dapat Rp 300.000," kata Mbah Walijo kepada detikcom yang menghampirinya.
"Kamu untuk apa?" tanya Mbah Walijo pada tetangganya yang juga baru saja menerima dana BLT.
"Untuk belanja pokoknya," ujar tetangganya itu tersenyum. Mbah Walijo pun membalas dengan senyum.
Tak ada kericuhan dalam pembagian dana BLT di kantor pos ini. Sempat terjadi kesalahan nama yang tertulis dalam kartu BLT dengan KTP, namun setelah dicocokkan dengan kartu Keluarga, petugas memperbolehkan.
Proses pencairan dibuka Sabtu (24/5/2008) pukul 08.00 WIB. Warga terlebih dulu antre di depan pintu masuk. 2 Satgas BLT melakukan pengecekan sekali lagi, yakni mencocokkan kartu BLT dengan KTP. Setelah itu diberikan nomor urut. Selanjutnya mereka langsung menuju loket untuk mencairkannya.
Loket dibagi dua, khusus lansia dan biasa. Antrean berjalan lancar dan tertib. Setelah menyerahkan kupon, mereka akan menerima 6 lembar uang Rp 50 ribu. Tak perlu tanda tangan atau cap jempol.
Mbah Walijo (70) tampak sumringah sesudah menerima Rp 300.000 itu. Sesudah menerimanya, janda yang tinggal di Karanganyar, kel Brontokusuman, Mergangsan, Kota Yogyakarta, itu langsung duduk dan menghitung ulang. Setelah pas, lalu dimasukkan ke dompet.
"Nanti untuk beli beras di Pasar Prawirotaman. Lumayan dapat Rp 300.000," kata Mbah Walijo kepada detikcom yang menghampirinya.
"Kamu untuk apa?" tanya Mbah Walijo pada tetangganya yang juga baru saja menerima dana BLT.
"Untuk belanja pokoknya," ujar tetangganya itu tersenyum. Mbah Walijo pun membalas dengan senyum.
Tak ada kericuhan dalam pembagian dana BLT di kantor pos ini. Sempat terjadi kesalahan nama yang tertulis dalam kartu BLT dengan KTP, namun setelah dicocokkan dengan kartu Keluarga, petugas memperbolehkan.
Kamis, 22 Mei 2008
BLT Ditunda Warga Yogya Kecewa
Yogyakarta, Ratusan warga Kota Yogyakarta kecewa pencairan bantuan langsung tunai (BLT) ditunda. Padahal mereka mengharapkan bantuan itu dapat segera dicairkan sebelum pengumuman resmi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Berdasarkan pantauan detikfinance, Jumat (23/5/2008) di Kantor Pos Kecamatan Mergangsan dan Gondokusuman Kota Yogyakarta, banyak warga miskin yang mendatangi kantor pos sejak pukul 08.00 WIB. Namun mereka terpaksa pulang dengan kecewa karena pencairan ditunda.
Di Kantor Pos Gondokusuman di Jl Munggur, Demangan, pengumuman penundaan ditulis di papan tulis ukuran 1 x 1 meter. Papan itu ditempatkan di depan pintu masuk kantor pos. "Pengumuman, pembayaran BLT ditunda menunggu keputusan dari pemerintah pusat." Selain itu di kaca pintu masuk juga tertulis "BLT ditunda."
Warga yang bisa membaca pengumuman itu memilih langsung pulang ke rumah. Namun ada pula warga miskin terutama warga lanjut usia yang tidak bisa membaca dan menulis tetap saja masuk sambil membawa kartu resmi BLT. Akibatnya tukang parkir atau sopir becak yang berada ditempat itu langsung memberitahukan langsung.
"Tunda Pak. Ini pengumumannya. Nunggu keputusan resmi pemerintah," kata salah seorang tukang di kantor Pos Gondokusuman sambil menunjuk papan pengumuman.
Sementara itu, Sapardi (66) warga Sapen Gondokusuman mengaku kecewa ditunda pembayaran BLT. Dia berharap bantuan itu bisa cepat cair sehingga bisa untuk menambah untuk pembelian beberapa kebutuhan pokok yang sudah naik. Meski jumlahnya hanya Rp 100 ribu/bulan atau Rp 300 ribu untuk tahap pertama.
"Kalau tidak hari ini, kapan bisa diambil, ya. Apa Senin besok sudah bisa atau belum," kata dia yang saat ini hanya tinggal bersama istrinya.
Berdasarkan pantauan detikfinance, Jumat (23/5/2008) di Kantor Pos Kecamatan Mergangsan dan Gondokusuman Kota Yogyakarta, banyak warga miskin yang mendatangi kantor pos sejak pukul 08.00 WIB. Namun mereka terpaksa pulang dengan kecewa karena pencairan ditunda.
Di Kantor Pos Gondokusuman di Jl Munggur, Demangan, pengumuman penundaan ditulis di papan tulis ukuran 1 x 1 meter. Papan itu ditempatkan di depan pintu masuk kantor pos. "Pengumuman, pembayaran BLT ditunda menunggu keputusan dari pemerintah pusat." Selain itu di kaca pintu masuk juga tertulis "BLT ditunda."
Warga yang bisa membaca pengumuman itu memilih langsung pulang ke rumah. Namun ada pula warga miskin terutama warga lanjut usia yang tidak bisa membaca dan menulis tetap saja masuk sambil membawa kartu resmi BLT. Akibatnya tukang parkir atau sopir becak yang berada ditempat itu langsung memberitahukan langsung.
"Tunda Pak. Ini pengumumannya. Nunggu keputusan resmi pemerintah," kata salah seorang tukang di kantor Pos Gondokusuman sambil menunjuk papan pengumuman.
Sementara itu, Sapardi (66) warga Sapen Gondokusuman mengaku kecewa ditunda pembayaran BLT. Dia berharap bantuan itu bisa cepat cair sehingga bisa untuk menambah untuk pembelian beberapa kebutuhan pokok yang sudah naik. Meski jumlahnya hanya Rp 100 ribu/bulan atau Rp 300 ribu untuk tahap pertama.
"Kalau tidak hari ini, kapan bisa diambil, ya. Apa Senin besok sudah bisa atau belum," kata dia yang saat ini hanya tinggal bersama istrinya.
8 Kantor Pos di Kota Yogya Siap Salurkan BLT
Yogyakarta, Delapan kantor pos di Kota Yogyakarta siap menyalurkan dana bantuan langsung tunai (BLT). Rencananya dana tersebut mulai dapat disalurkan pada hari Jumat 23 Mei 2008.
"Delapan kantor pos yang siap itu akan menyalurkan dana bagi warga di 7 kecamatan yang sudah selesai proses validasinya. Besok hari Jumat sudah dapat dilayani," kata Manajer Produk Reguler Kantor Pos Wilayah 6 Jateng DIY, Herkules kepada wartawan di kantor Jl Senopati, Kamis (22/5/2008).
Kedelapan kantor pos yang akan membayarkan dana BLT tersebut antara lain, Kantor Pos Pusat Yogyakarta, Kantor Pos Mantrijeron, Tegalrejo, Kotagede, Gondokusuman, Mergangsan, Umbulharjo dan Kantor Pos Wirobrajan. "Warga tak perlu repot harus datang ke kantor pos besar, tapi cukup di kantor pos terdekat di kecamatan masing-masing," katanya.
Dia mengatakan sebanyak 7 kecamatan lainnya saat ini masih terus menyelesaikan proses validasi data penerima BLT. Diperkirakan akan selesai pada hari Jumat 23 Mei. Tujuh kecamatan itu antara lain Pakualaman, Danurejan, Gondokusuman, Kraton, Gondomanan, Gedongtengen dan Ngampilan.
"Khusus kecamatan yang sudah selesai, pembayaran akan kita mulai pada pukul 08.00 WIB," ungkap Herkules.
Untuk hari pertama kata diam pembayaran BLT di kantor Pos Besar Yogyakarta telah disediakan 8 loket pembayaran. Delapan loket itu akan melayani 2 ribu pemegang kartu BLT. Sedangkan kantor pos di kecamatan akan melayani 1.000 pemegang kartu BLT.
"Delapan kantor pos yang siap itu akan menyalurkan dana bagi warga di 7 kecamatan yang sudah selesai proses validasinya. Besok hari Jumat sudah dapat dilayani," kata Manajer Produk Reguler Kantor Pos Wilayah 6 Jateng DIY, Herkules kepada wartawan di kantor Jl Senopati, Kamis (22/5/2008).
Kedelapan kantor pos yang akan membayarkan dana BLT tersebut antara lain, Kantor Pos Pusat Yogyakarta, Kantor Pos Mantrijeron, Tegalrejo, Kotagede, Gondokusuman, Mergangsan, Umbulharjo dan Kantor Pos Wirobrajan. "Warga tak perlu repot harus datang ke kantor pos besar, tapi cukup di kantor pos terdekat di kecamatan masing-masing," katanya.
Dia mengatakan sebanyak 7 kecamatan lainnya saat ini masih terus menyelesaikan proses validasi data penerima BLT. Diperkirakan akan selesai pada hari Jumat 23 Mei. Tujuh kecamatan itu antara lain Pakualaman, Danurejan, Gondokusuman, Kraton, Gondomanan, Gedongtengen dan Ngampilan.
"Khusus kecamatan yang sudah selesai, pembayaran akan kita mulai pada pukul 08.00 WIB," ungkap Herkules.
Untuk hari pertama kata diam pembayaran BLT di kantor Pos Besar Yogyakarta telah disediakan 8 loket pembayaran. Delapan loket itu akan melayani 2 ribu pemegang kartu BLT. Sedangkan kantor pos di kecamatan akan melayani 1.000 pemegang kartu BLT.
Rabu, 21 Mei 2008
Turunkan Bendera, 2 Mahasiswa Ditangkap
Yogyakarta, Dua orang mahasiswa ditangkap aparat polisi saat aksi demo menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Yogyakarta. Mereka ditangkap karena menurunkan bendera merah putih menjadi setengah tiang di halaman DPRD DIY.
Dua orang itu adalah M. Erwin aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Dekri aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Keduanya saat ini diamankan di Mapoltabes Yogyakarta di Jl Reksobayan, Ngupasan untuk dimintai keterangan.
Pada awalnya aksi gabungan yang dilakukan HMI dan GMNI dari Tugu Yogyakarta menuju kantor Pertamina Unit IV Yogyakarta di Jl Mangkubumi. Ditempat itu, mereka hanya berorasi sebentar karena pintu gerbang dijaga ketat aparat Poltabes Yogyakarta. Selain itu, tidak ada satupun pimpinan Pertamina yang bersedia menemui mahasiswa.
Dari kantor Pertamina, massa kemudian melanjutkan aksinya di halaman gedung DPRD DIY di Jl Malioboro. Di gedung dewan, perwakilan mahasiswa ditemui dan diajak berdialog dengan sejumlah anggota dewan. Di sekitar DPRD juga sudah dijaga ratusan aparat polisi dan Satpol PP.
Namun tanpa diduga dua orang mahasiswa, Erwin dan Dekri justru tidak masuk ruangan. Dengan berjalan pelan dan mantap, keduanya malah menuju tiang bendera di depan gedung DPRD.
Mereka langsung menurunkan bendera merah putih dari satu tiang penuh menjadi setengah tiang. Setelah berkibar setengah tiang, tali diikat lagi dengan erat.
Melihat aksi itu, beberapa orang aparat Satpol PP dan polisi yang berjaga kaget. Pasalnya mereka sedang istirahat di sekitar halaman DPRD yang teduh dipenuhi pohon rindang sehabis menjaga aksi demo yang berlangsung sejak pagi hingga siang.
Namun ketika melihat bendera diturunkan, mereka langsung menghampiri sambil mengertak dan menanyai mengapa bendera diturunkan. Perdebatan atau adu mulut mengarah ke adu fisik pun terjadi.
Keduanya langsung ditangkap polisi. Keduanya dibawa masuk ke dalam truk polisi untuk di bawa ke Mapoltabes. Di Poltabes Yogyakarta keduanya diminta keterangan petugas.
Dua orang itu adalah M. Erwin aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Dekri aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Keduanya saat ini diamankan di Mapoltabes Yogyakarta di Jl Reksobayan, Ngupasan untuk dimintai keterangan.
Pada awalnya aksi gabungan yang dilakukan HMI dan GMNI dari Tugu Yogyakarta menuju kantor Pertamina Unit IV Yogyakarta di Jl Mangkubumi. Ditempat itu, mereka hanya berorasi sebentar karena pintu gerbang dijaga ketat aparat Poltabes Yogyakarta. Selain itu, tidak ada satupun pimpinan Pertamina yang bersedia menemui mahasiswa.
Dari kantor Pertamina, massa kemudian melanjutkan aksinya di halaman gedung DPRD DIY di Jl Malioboro. Di gedung dewan, perwakilan mahasiswa ditemui dan diajak berdialog dengan sejumlah anggota dewan. Di sekitar DPRD juga sudah dijaga ratusan aparat polisi dan Satpol PP.
Namun tanpa diduga dua orang mahasiswa, Erwin dan Dekri justru tidak masuk ruangan. Dengan berjalan pelan dan mantap, keduanya malah menuju tiang bendera di depan gedung DPRD.
Mereka langsung menurunkan bendera merah putih dari satu tiang penuh menjadi setengah tiang. Setelah berkibar setengah tiang, tali diikat lagi dengan erat.
Melihat aksi itu, beberapa orang aparat Satpol PP dan polisi yang berjaga kaget. Pasalnya mereka sedang istirahat di sekitar halaman DPRD yang teduh dipenuhi pohon rindang sehabis menjaga aksi demo yang berlangsung sejak pagi hingga siang.
Namun ketika melihat bendera diturunkan, mereka langsung menghampiri sambil mengertak dan menanyai mengapa bendera diturunkan. Perdebatan atau adu mulut mengarah ke adu fisik pun terjadi.
Keduanya langsung ditangkap polisi. Keduanya dibawa masuk ke dalam truk polisi untuk di bawa ke Mapoltabes. Di Poltabes Yogyakarta keduanya diminta keterangan petugas.
Mentan Yakin Kenaikan Harga BBM Tidak Pengaruhi Ketahanan Pangan
Yogyakarta, Menteri Pertanian Anton Apriantono mengatakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak akan mempengaruhi ketahanan pangan di Indonesia. Sebab produksi pertanian saat ini bagus.
"Insya Allah tidak memproduksi pangan. Karena dari sisi produksi Alhamdulilah bagus. Dan jangan lupa walau biaya produksi naik, subsidi pupuk naik tapi HET tidak naik," kata Anton menjawab pertanyaan wartawan seusai ceramah di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) di Bulaksumur Yogyakarta, Kamis (22/5/2008).
Menurut dia, kenaikan BBM itu hanya menurunkan subsidi BBM yang selanjutnya digunakan untuk meningkatkan subsidi pupuk. Dengan demikian HET pupuk akan terus dipertahankan dan tidak akan mengalami kenaikan. "Itu merupakan kompensasi juga, karena sesungguhnya harga pupuk itu sudah sangat mahal sekali," katanya.
Dia mencontohkan harga pupuk urea di pasaran luar negeri sudah mencapai Rp 4 ribu/kg. Namun di Indnesia pemerintah masih melakukan subsidi sehingga harganya sekitar Rp 1.200/kg.
Ditanya mengenai keluhan petani pemilik traktor tangan yang mengalami kesulitan memperoleh BBM. Anton mengatakan hal itu hanya karena petani tidak mengenai cara/mekanisme pembeliannya. BBM untuk traktor dan alat pertanian tetap tersedia dan boleh membeli di SPBU dengan catatan memperoleh rekomendasi dari dinas setempat. "Mereka itu hanya belum tahu saja," pungkas dia.
"Insya Allah tidak memproduksi pangan. Karena dari sisi produksi Alhamdulilah bagus. Dan jangan lupa walau biaya produksi naik, subsidi pupuk naik tapi HET tidak naik," kata Anton menjawab pertanyaan wartawan seusai ceramah di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) di Bulaksumur Yogyakarta, Kamis (22/5/2008).
Menurut dia, kenaikan BBM itu hanya menurunkan subsidi BBM yang selanjutnya digunakan untuk meningkatkan subsidi pupuk. Dengan demikian HET pupuk akan terus dipertahankan dan tidak akan mengalami kenaikan. "Itu merupakan kompensasi juga, karena sesungguhnya harga pupuk itu sudah sangat mahal sekali," katanya.
Dia mencontohkan harga pupuk urea di pasaran luar negeri sudah mencapai Rp 4 ribu/kg. Namun di Indnesia pemerintah masih melakukan subsidi sehingga harganya sekitar Rp 1.200/kg.
Ditanya mengenai keluhan petani pemilik traktor tangan yang mengalami kesulitan memperoleh BBM. Anton mengatakan hal itu hanya karena petani tidak mengenai cara/mekanisme pembeliannya. BBM untuk traktor dan alat pertanian tetap tersedia dan boleh membeli di SPBU dengan catatan memperoleh rekomendasi dari dinas setempat. "Mereka itu hanya belum tahu saja," pungkas dia.
7 Ribu Warga Miskin di Yogya Bakal Tidak Terima BLT
Yogyakarta, Jatah penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai kompensasi kenaikan harga BBM di wilayah Kota Yogyakarta sebesar 19.111 kepala keluarga miskin atau rumah tangga sasaran (RTS) tahun 2008 ini. Padahal jumlah keluarga miskin di Yogyakarta berdasarkan data pemegang kartu menuju sejahtera (KMS) tahun 2008 sebanyak 26.685 kepala keluarga. Diperkirakan sekitar 7.574 keluarga miskin yang tidak menerima dana BLT.
"Kalau KMS itu up-date data terakhir kita satuanya kepala keluarga kalau BLT itu kan
satuannya rumah tangga miskin," kata Wakil Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti kepada
wartawan usai rapat koordinasi dengan pihak Kantor Pos dan camat se-Kota Yogyakarta, di Balaikota Yogyakarta Kamis (21/5/2008).
Menurutnya, kuota BLT untuk Kota Yogyakarta tersebut memang didasarkan pada data BPS tahun 2005-2006. Tetapi untuk KMS, Pemkot Yogyakarta melakukan pendataan sendiri berdasarkan kriteria yang ditentukan Pemkot setempat. "Ada kriteria lokal yang kita masukkan sehingga berbeda dengan kriteria BPS," tandasnya.
Namun dia tidak menampik kemungkinan adanya penambahan data keluarga miskin di Yogyakarta dibandingkan data dari BPS untuk kuota BLT tersebut. Saat ini pemkot hanya bisa melakukan validasi data terkait data yang telah diberikan BPS untuk penyaluran BLT.
Data RTS penerima BLT di Kota Yogyakarta tahun 2008 saat ini telah dibagikan ke seluruh kelurahan di Kota Yogyakarta. Pembagian itupun diberikan langsung oleh Camat se-KOta Yogyakarta usai rapat koordinasi dengan Kantor Pos di Balaikota Yogyakarta.
Berdasarkan data tersebut, kuota untuk setiap kecamatan di Kota Yogyakarta berbeda-beda.
Di kecamatan Pakualaman dengan dua kelurahan memperoleh kuota 482 RTS. Kecamatan Gondomanan hanya 994 RTS, Kecamatan Gedongtengen 1.190 RTS, Kecamatan Danurejan hanya 1.358 RTS, kecamatan Jetis 1.350 RTS, Kecamatan Kotagede hanya 1.307 RTS, Gondokusuman 1.602 RTS, Kraton 909 RTS. Selanjutnya di keamatan Mantrijeron 1.431 RTS, Mergangsan 1.609 RTS, Umbulharjo, 2.810 RTS, Ngampilan 772 RTS, Tegalrejo 2.251 RTs dan Wirobrajan 1.046 RTS.
Sementara itu Manajer Produk Reguler Kantor Pos Wilayah 6 Jateng DIY,
Herkules mengatakan, petugas kantor pos dan apareat kelurahan bisa saja langsung melakukan pergantian nama penerima BLT dalam proses validasi data. Pergantian itu dilakukan jika ditemukan ada nama penerima yang telah meninggal atau berpindah tempat.
"Boleh saja langsung diganti asalkan tidak melebihi kuota," terangnya.
Menurutnya, terkait penyaluran dana BLT tersebut pihaknya bersama Pemkot Yogyakarta akan membuka posko pengaduan di Balaikota Yogyakarta. Selain itu masyarakat juga bisa memberikan laporan terkait penyaluran BLT ke nomor hotline dengan sarana //short message service// ke nomor 8161.
Dalam validasi data dan penyaluran dana BLT itupun pihaknya menganggarkan dana untuk setiap camat sebesar Rp 250/lembar kartu BLT, Rp 500/lembar kartu untuk lurah dan Rp 1.000/lembar untuk RT/RW.
Untuk tahap pertama BLT di wilayah Kota Yogyakarta akan dibagikan Rp 300.000/RTS untuk tiga bulan pertama. Pembagian dana itupun menunggu pengumuman dari pemerintah pusat dalam hal ini presiden. "Jadi setelah validasi selesai dua hari ini, kartu kita bagikan setelah itu kita tahan menunggu pengumuman. JIka sudah diumumkan kita akan bayarkan di kantor pos," pungkas Herkules.
"Kalau KMS itu up-date data terakhir kita satuanya kepala keluarga kalau BLT itu kan
satuannya rumah tangga miskin," kata Wakil Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti kepada
wartawan usai rapat koordinasi dengan pihak Kantor Pos dan camat se-Kota Yogyakarta, di Balaikota Yogyakarta Kamis (21/5/2008).
Menurutnya, kuota BLT untuk Kota Yogyakarta tersebut memang didasarkan pada data BPS tahun 2005-2006. Tetapi untuk KMS, Pemkot Yogyakarta melakukan pendataan sendiri berdasarkan kriteria yang ditentukan Pemkot setempat. "Ada kriteria lokal yang kita masukkan sehingga berbeda dengan kriteria BPS," tandasnya.
Namun dia tidak menampik kemungkinan adanya penambahan data keluarga miskin di Yogyakarta dibandingkan data dari BPS untuk kuota BLT tersebut. Saat ini pemkot hanya bisa melakukan validasi data terkait data yang telah diberikan BPS untuk penyaluran BLT.
Data RTS penerima BLT di Kota Yogyakarta tahun 2008 saat ini telah dibagikan ke seluruh kelurahan di Kota Yogyakarta. Pembagian itupun diberikan langsung oleh Camat se-KOta Yogyakarta usai rapat koordinasi dengan Kantor Pos di Balaikota Yogyakarta.
Berdasarkan data tersebut, kuota untuk setiap kecamatan di Kota Yogyakarta berbeda-beda.
Di kecamatan Pakualaman dengan dua kelurahan memperoleh kuota 482 RTS. Kecamatan Gondomanan hanya 994 RTS, Kecamatan Gedongtengen 1.190 RTS, Kecamatan Danurejan hanya 1.358 RTS, kecamatan Jetis 1.350 RTS, Kecamatan Kotagede hanya 1.307 RTS, Gondokusuman 1.602 RTS, Kraton 909 RTS. Selanjutnya di keamatan Mantrijeron 1.431 RTS, Mergangsan 1.609 RTS, Umbulharjo, 2.810 RTS, Ngampilan 772 RTS, Tegalrejo 2.251 RTs dan Wirobrajan 1.046 RTS.
Sementara itu Manajer Produk Reguler Kantor Pos Wilayah 6 Jateng DIY,
Herkules mengatakan, petugas kantor pos dan apareat kelurahan bisa saja langsung melakukan pergantian nama penerima BLT dalam proses validasi data. Pergantian itu dilakukan jika ditemukan ada nama penerima yang telah meninggal atau berpindah tempat.
"Boleh saja langsung diganti asalkan tidak melebihi kuota," terangnya.
Menurutnya, terkait penyaluran dana BLT tersebut pihaknya bersama Pemkot Yogyakarta akan membuka posko pengaduan di Balaikota Yogyakarta. Selain itu masyarakat juga bisa memberikan laporan terkait penyaluran BLT ke nomor hotline dengan sarana //short message service// ke nomor 8161.
Dalam validasi data dan penyaluran dana BLT itupun pihaknya menganggarkan dana untuk setiap camat sebesar Rp 250/lembar kartu BLT, Rp 500/lembar kartu untuk lurah dan Rp 1.000/lembar untuk RT/RW.
Untuk tahap pertama BLT di wilayah Kota Yogyakarta akan dibagikan Rp 300.000/RTS untuk tiga bulan pertama. Pembagian dana itupun menunggu pengumuman dari pemerintah pusat dalam hal ini presiden. "Jadi setelah validasi selesai dua hari ini, kartu kita bagikan setelah itu kita tahan menunggu pengumuman. JIka sudah diumumkan kita akan bayarkan di kantor pos," pungkas Herkules.
Sultan : Bangsa Ini Bisa Hancur Seperti Sriwijaya dan Majapahit
Yogyakarta, Sri Sultan Hemengkubuwono X mengatakan, bangsa Indonesia bisa seperti kerajaan Sriwijaya atau Majapahit yang hanya berumur 60 hingga 70 tahun apabila para pemimpin bangsanya hanya mementingkan egoisme diri sendiri dan kelompoknya.
"Akankah sejarah akan berulang pada bangsa ini. Bahwa dulu ada bangsa besar yang bernama Indonesia yang kemudian terpecah-pecah menjadi negara kecil-kecil akibat egoisme para pemimpinnya," kata Sultan saat meresmikan gong perdamaian di Taman Pintar Jl Senopti, Selasa (21/5/2008).
Karena itulah, kata dia, saat ini dibutuhkan kearifan pemimpin bangsa untuk tidak mementingkan kepentingan dirinya dan kelompoknya tetapi lebih mementingakan kepentingan bangsa dan negara.
"Bangsa ini memang dilahirkan dari hasil perdebatan atas perbedaan pemikiran dan polemik dari pemimpin bangsa, namun dari perbedaan itu mereka mampu bersatu menyatukan sikap untuk bersama mendirikan bangsa ini," katanya.
Diakui Sultan, rekonsiliasi adalah pra kondisi untuk masa depan yang lebih baik. Indonesia baru kata Sultan tidak bisa dibangun dengan amarah, karenanya simbol dari gong perdamaian, diharapkan gaungnya ke masyarakat luas dan bisa memberikan rasa damai bagi para pemimpin bangsa ini ke arah yang lebih baik di masa mendatang.
"Dengan gong perdamaian ini semoga, persatuan dan kesatuan bangsa ini bisa lebih dikukuhkan," katanya.
Pemasangan gong itu m yang dilakukanenandai satu abad keban.gkitan nasional, Komite Perdamaian Dunia Indonesia dan Forum Indonesia Bersatu bersama Pemkot Yogyakarta. Gong berukuran diamter dua meter tersebut dibuat oleh Edi Damardji, khusus diperuntkan untuk memperingati satu abad kebangkitan nasional. Pemasangan gong ditandai dengan penandatangan prasasti oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, disaksikan Walikota Herry Zudianto, Presiden Komite Perdamaian Dunia, Djuyoto Suntani, dan ketua Forum Indonesia Bersatu, Bambang Herry.
Gong yang berwarna kuning keemasan ini, di bagian lingkaran paling luarnya bergambar simbol dari 444 kabupaten/kota di Indonesia, lingkaran selanjutnya bergambar simbol 33 provinsi dari seluruh Indonesia, lalu lingkaran dalam selanjutnya bergambar simbol lima agama dan lingkaran paling tengah bergambar peta negara kesatuan Republik Indonesia.
Gong perdamaian ditempatkan diantara prasasti tapak kaki dan tangan enam tokoh mantan Presiden dan Presiden Indonesia yakni Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, serta Susilo Bambang Yudhoyono.
"Akankah sejarah akan berulang pada bangsa ini. Bahwa dulu ada bangsa besar yang bernama Indonesia yang kemudian terpecah-pecah menjadi negara kecil-kecil akibat egoisme para pemimpinnya," kata Sultan saat meresmikan gong perdamaian di Taman Pintar Jl Senopti, Selasa (21/5/2008).
Karena itulah, kata dia, saat ini dibutuhkan kearifan pemimpin bangsa untuk tidak mementingkan kepentingan dirinya dan kelompoknya tetapi lebih mementingakan kepentingan bangsa dan negara.
"Bangsa ini memang dilahirkan dari hasil perdebatan atas perbedaan pemikiran dan polemik dari pemimpin bangsa, namun dari perbedaan itu mereka mampu bersatu menyatukan sikap untuk bersama mendirikan bangsa ini," katanya.
Diakui Sultan, rekonsiliasi adalah pra kondisi untuk masa depan yang lebih baik. Indonesia baru kata Sultan tidak bisa dibangun dengan amarah, karenanya simbol dari gong perdamaian, diharapkan gaungnya ke masyarakat luas dan bisa memberikan rasa damai bagi para pemimpin bangsa ini ke arah yang lebih baik di masa mendatang.
"Dengan gong perdamaian ini semoga, persatuan dan kesatuan bangsa ini bisa lebih dikukuhkan," katanya.
Pemasangan gong itu m yang dilakukanenandai satu abad keban.gkitan nasional, Komite Perdamaian Dunia Indonesia dan Forum Indonesia Bersatu bersama Pemkot Yogyakarta. Gong berukuran diamter dua meter tersebut dibuat oleh Edi Damardji, khusus diperuntkan untuk memperingati satu abad kebangkitan nasional. Pemasangan gong ditandai dengan penandatangan prasasti oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, disaksikan Walikota Herry Zudianto, Presiden Komite Perdamaian Dunia, Djuyoto Suntani, dan ketua Forum Indonesia Bersatu, Bambang Herry.
Gong yang berwarna kuning keemasan ini, di bagian lingkaran paling luarnya bergambar simbol dari 444 kabupaten/kota di Indonesia, lingkaran selanjutnya bergambar simbol 33 provinsi dari seluruh Indonesia, lalu lingkaran dalam selanjutnya bergambar simbol lima agama dan lingkaran paling tengah bergambar peta negara kesatuan Republik Indonesia.
Gong perdamaian ditempatkan diantara prasasti tapak kaki dan tangan enam tokoh mantan Presiden dan Presiden Indonesia yakni Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, serta Susilo Bambang Yudhoyono.
Amien Mau Ikut Demo Bila Massa Sudah Ratusan Ribu
Yogyakarta, Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak membuat gerah Amien Rais. Mantan Ketua MPR RI itu memimpin anak muda terutama mahasiswa untuk bersabar sebab pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono - Jusuf Kalla tinggal 14 bulan lagi. Dirinya akan ikut berdemo bila massa sudah mencapai ratusan ribu orang.
Hal itu diungkapkan Amien seusai bedah bukunya berjudul 'Agenda Mendesak Bangsa Menyelematkan Indonesia' di kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ringroad Selatan Tamantrito Bantul, Kamis (21/5/2008).
"Saya tidak tahu apakah masih mungkin 14 bulan yang tersisa ini, SBY dan JK bisa membenahi atau tinggal mempertahankan yang ada," katanya.
Dalam pandangan dia, waktu yang tersisa tidak mungkin akan ada perubahan yang dramatis. Sebaliknya pemerintah justru menaikkan harga BBM sehingga membuat rakyat makin sulit hidupnya.
"Jadi tidak usah terus menerus berkeluh kesah. Yang jelas kita berikan waktu
sampai pemerintah ini usai Oktober 2009. Mudah-mudahan ada alternatif kepemimpinan yang sifatnya transformatif yang kreatif, pro rakyat kecil, muncul dan inilah yang akan kita dukung besok," tegas mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu.
Amien mengaku saat ini dirinya sering ditemui anak-anak muda bahkan kelompok tertentu yang menyatakan bagaimana kalau pemerintahan diturunkan di tengah jalan. Namun menurut dia, risiko menurunkan sebuah rezim yang sudah dipilih rakyat berdasarkan konstitusi itu akan sangat berat.
"Kalau diturunkan, siapa yang akan mengganti. Akan terjadi perebutan kekuasaan. Yang merasa mampu akan mengganti yang sudah ada. Malah dapat menimbulkan suasana anarkhis dan chaos," ungkap dia.
Kedua lanjut Amien, kalau sampai pemerintahan tak bisa pertahankan lima tahun, amandemen konstitusi sebelumnya tak ada gunanya sama sekali. Ternyata seorang presiden dan wapres yang sudah dipilih dengan sah bisa diturunkan. "Ini
berbahaya," katanya.
Dia mengatakan Indonesia saat ini baru belajar berdemokrasi. Namun disisi lain, dirinya mengetahui keresahan sudah memuncak dan rakyat sudah mengumpat betul. "Ini risiko, kita dulu kan sudah memilih mereka. Jadi yang memilih SBY sekarang yang tanggunglah sendiri begitu," ujar Amien.
Kalau sekarang memang sudah tidak betah katanya, harus mencari pemimpin yang baru. Namun kalau yang memilih dulu kemudian ikut berdemo, bakar-bakar
ban, menggerakkan people power itu berarti tidak konsekuen. Karena sudah memilih sebaiknya menunggu sampai akhir periode.
"Logika terbaliknya memang jangan dipilih yang sekarang ini. Ini bahasa halus, kita perlu yang baru dan yang lama tidak kita perlukan lagi. Jalan terus tak usah merusak, bakar ban apalagi bawa senjata. Jadi demo itu juga hak demokrasi sepenuhnya," katanya.
Menurut dia di negara demokrasi, demonstrasi itu adalah bagian yang sah atau legitimate. Jadi silahkan demo terus untuk menyatakan BBM dinaikkan itu keliru fatal. Apabila kemudian pemerintah tetap nekad menaikkan BBM, tanggung sendiri risikonya. "Kalau sudah ratusan ribu mungkin saya ikut," tegas dia.
Amien juga merasa tidak pernah takut pada tuduhan apapun. Sebab di negeri ini ada pemeo, kalau yang demo jumlahnya seribu dibubarkan. Kalau 10 ribu itu diawasi dan kalau ratusan ribu TNI akan ikut.
"Jadi saya kira tergantung demonya bisa banyak atau tidak. Kalau demonya itu betul-betul mewakili rakyat saya kira TNI/Polri akan ikut. Karena mereka bukan mendukung pemerintah tapi mendukung rakyat. Bukan alat pemerintah tapi alat negara," kata guru besar Fisipol UGM itu.
Dia kemudian mencontohkan ketika Bung Karno melakukan kekeliruan TNI mengucapkan selamat tinggal. Demikian juga Suharto, ketika kelirunya fatal, TNI mengucapkan selamat tinggal. TNI ikut rakyat.
"Jadi kalau demo ini bisa menggelembung di mana-mana, tak usah ada rekayasa dan rekayasa juga tak mungkin terlalu membutuhkan biaya di luar akal sehat. Jadi betul-betul alami kalau misalnya demo sampai sangat besar dan itu adalah suara rakyat. Saya pikir alat negarapun akan ikut," pungkas Amien.
Hal itu diungkapkan Amien seusai bedah bukunya berjudul 'Agenda Mendesak Bangsa Menyelematkan Indonesia' di kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ringroad Selatan Tamantrito Bantul, Kamis (21/5/2008).
"Saya tidak tahu apakah masih mungkin 14 bulan yang tersisa ini, SBY dan JK bisa membenahi atau tinggal mempertahankan yang ada," katanya.
Dalam pandangan dia, waktu yang tersisa tidak mungkin akan ada perubahan yang dramatis. Sebaliknya pemerintah justru menaikkan harga BBM sehingga membuat rakyat makin sulit hidupnya.
"Jadi tidak usah terus menerus berkeluh kesah. Yang jelas kita berikan waktu
sampai pemerintah ini usai Oktober 2009. Mudah-mudahan ada alternatif kepemimpinan yang sifatnya transformatif yang kreatif, pro rakyat kecil, muncul dan inilah yang akan kita dukung besok," tegas mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu.
Amien mengaku saat ini dirinya sering ditemui anak-anak muda bahkan kelompok tertentu yang menyatakan bagaimana kalau pemerintahan diturunkan di tengah jalan. Namun menurut dia, risiko menurunkan sebuah rezim yang sudah dipilih rakyat berdasarkan konstitusi itu akan sangat berat.
"Kalau diturunkan, siapa yang akan mengganti. Akan terjadi perebutan kekuasaan. Yang merasa mampu akan mengganti yang sudah ada. Malah dapat menimbulkan suasana anarkhis dan chaos," ungkap dia.
Kedua lanjut Amien, kalau sampai pemerintahan tak bisa pertahankan lima tahun, amandemen konstitusi sebelumnya tak ada gunanya sama sekali. Ternyata seorang presiden dan wapres yang sudah dipilih dengan sah bisa diturunkan. "Ini
berbahaya," katanya.
Dia mengatakan Indonesia saat ini baru belajar berdemokrasi. Namun disisi lain, dirinya mengetahui keresahan sudah memuncak dan rakyat sudah mengumpat betul. "Ini risiko, kita dulu kan sudah memilih mereka. Jadi yang memilih SBY sekarang yang tanggunglah sendiri begitu," ujar Amien.
Kalau sekarang memang sudah tidak betah katanya, harus mencari pemimpin yang baru. Namun kalau yang memilih dulu kemudian ikut berdemo, bakar-bakar
ban, menggerakkan people power itu berarti tidak konsekuen. Karena sudah memilih sebaiknya menunggu sampai akhir periode.
"Logika terbaliknya memang jangan dipilih yang sekarang ini. Ini bahasa halus, kita perlu yang baru dan yang lama tidak kita perlukan lagi. Jalan terus tak usah merusak, bakar ban apalagi bawa senjata. Jadi demo itu juga hak demokrasi sepenuhnya," katanya.
Menurut dia di negara demokrasi, demonstrasi itu adalah bagian yang sah atau legitimate. Jadi silahkan demo terus untuk menyatakan BBM dinaikkan itu keliru fatal. Apabila kemudian pemerintah tetap nekad menaikkan BBM, tanggung sendiri risikonya. "Kalau sudah ratusan ribu mungkin saya ikut," tegas dia.
Amien juga merasa tidak pernah takut pada tuduhan apapun. Sebab di negeri ini ada pemeo, kalau yang demo jumlahnya seribu dibubarkan. Kalau 10 ribu itu diawasi dan kalau ratusan ribu TNI akan ikut.
"Jadi saya kira tergantung demonya bisa banyak atau tidak. Kalau demonya itu betul-betul mewakili rakyat saya kira TNI/Polri akan ikut. Karena mereka bukan mendukung pemerintah tapi mendukung rakyat. Bukan alat pemerintah tapi alat negara," kata guru besar Fisipol UGM itu.
Dia kemudian mencontohkan ketika Bung Karno melakukan kekeliruan TNI mengucapkan selamat tinggal. Demikian juga Suharto, ketika kelirunya fatal, TNI mengucapkan selamat tinggal. TNI ikut rakyat.
"Jadi kalau demo ini bisa menggelembung di mana-mana, tak usah ada rekayasa dan rekayasa juga tak mungkin terlalu membutuhkan biaya di luar akal sehat. Jadi betul-betul alami kalau misalnya demo sampai sangat besar dan itu adalah suara rakyat. Saya pikir alat negarapun akan ikut," pungkas Amien.
Mahasiswa Yogya Hadiahi Pertamina Korek Kuping
Yogyakarta, Aksi demo menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terjadi di Yogyakarta. Ratusan mahasiswa dari berbagai elemen menggelar aksi di depan kantor Pertamina Yogyakarta. Mahasiswa menghadiahi korek kuping raksasa dan karangan bunga serta membawa keranda.
Aksi secara bergelombang di kantor Pertamina Yogyakarta di Jl Mangkubumi, hari ini Rabu (21/5/2008) diantaranya dilakukan massa KAMMI DIY, BEM se DIY, Komite Aksi Mahasiswa Yogyakarta (Kamyo) dan Alainsi Rakyat Jogja Tolak Kenaikan BBM.
Meski pintu gerbang kantor Pertamina ditutup dan dijaga 50-an aparat Poltabes Yogyakarta, massa tetap nekat mau masuk. Mereka menginginkan Kepala/wakil Pertamina Yogyakarta untuk menemui peserta aksi. Namun kepala ataupun wakil Pertamina Yogyakarta tidak ada yang bersedia menemuinya.
Akhirnya, dua orang mahasiswa dari balik pintu pagar besi melemparkan sebuah kore kuping raksasan sepanjang satu meter dan karanga bunga kering bertuliskan 'selamat kepada Pertamina yang gagal mengelola minyak negara.'
Koordinator aksi Sujatmiko Dwiatmojo saata berorasi di Pertamina mengatakan mahasiswa akan terus melakukan aksi menolak rencana pemerintah menaikkan harga BBM dan menuntut pemerintah segera membatalkan keputusan tersebut. Pemerintahan SBY-Jk dianggap meningkari janjinya sendiri yang menyatakan tidak akan ada lagi kenaikan harga BBM pasca 2005 lalu.
"Janji SBY-JK setelah menjabat presiden wakil presiden tidak ditepati. Pidato yang diucapkan saat peringatan 100 tahun kebangkitan nasional hanyalah retorika basa-basi," katanya.
Kenyataan kata dia, harga BBM tetap akan dinaikkan dengan alasan mencabut subsidi dan menguragi beban APBN. Mengapa tidak disita saja harta para koruptor dan pengemplang BLBI yang masih bebas berkeliaran. "BBM naik yang semakin bertambah sengsara adalah rakyat, harga terus naik," teriak Sujatmiko disambut yel-yel tolak kenaikan BBM.
Usai berorasi massa kemudian melanjutkan aksinya menuju gedung DPRD DIY di Jl Malioboro. Massa juga akan mengirimkan surat pernyataan sikap kepada Presiden SBY melalui kantor Pos Besar Yogyakarta di Jl Senopati. Sepanjang aksi dari Tugu Yogyakarta, kantor Pertamina di Jl Mangkubumi, DPRD DIY dan kantor Gubernur DIY di Jl Malioboro hingga simpang empat kantor besar berlangsung tertib. Aparat polisi hanya menjaga dan mengawasi agar kawasan itu tidak macet arus lalu-lintasnya.
Aksi secara bergelombang di kantor Pertamina Yogyakarta di Jl Mangkubumi, hari ini Rabu (21/5/2008) diantaranya dilakukan massa KAMMI DIY, BEM se DIY, Komite Aksi Mahasiswa Yogyakarta (Kamyo) dan Alainsi Rakyat Jogja Tolak Kenaikan BBM.
Meski pintu gerbang kantor Pertamina ditutup dan dijaga 50-an aparat Poltabes Yogyakarta, massa tetap nekat mau masuk. Mereka menginginkan Kepala/wakil Pertamina Yogyakarta untuk menemui peserta aksi. Namun kepala ataupun wakil Pertamina Yogyakarta tidak ada yang bersedia menemuinya.
Akhirnya, dua orang mahasiswa dari balik pintu pagar besi melemparkan sebuah kore kuping raksasan sepanjang satu meter dan karanga bunga kering bertuliskan 'selamat kepada Pertamina yang gagal mengelola minyak negara.'
Koordinator aksi Sujatmiko Dwiatmojo saata berorasi di Pertamina mengatakan mahasiswa akan terus melakukan aksi menolak rencana pemerintah menaikkan harga BBM dan menuntut pemerintah segera membatalkan keputusan tersebut. Pemerintahan SBY-Jk dianggap meningkari janjinya sendiri yang menyatakan tidak akan ada lagi kenaikan harga BBM pasca 2005 lalu.
"Janji SBY-JK setelah menjabat presiden wakil presiden tidak ditepati. Pidato yang diucapkan saat peringatan 100 tahun kebangkitan nasional hanyalah retorika basa-basi," katanya.
Kenyataan kata dia, harga BBM tetap akan dinaikkan dengan alasan mencabut subsidi dan menguragi beban APBN. Mengapa tidak disita saja harta para koruptor dan pengemplang BLBI yang masih bebas berkeliaran. "BBM naik yang semakin bertambah sengsara adalah rakyat, harga terus naik," teriak Sujatmiko disambut yel-yel tolak kenaikan BBM.
Usai berorasi massa kemudian melanjutkan aksinya menuju gedung DPRD DIY di Jl Malioboro. Massa juga akan mengirimkan surat pernyataan sikap kepada Presiden SBY melalui kantor Pos Besar Yogyakarta di Jl Senopati. Sepanjang aksi dari Tugu Yogyakarta, kantor Pertamina di Jl Mangkubumi, DPRD DIY dan kantor Gubernur DIY di Jl Malioboro hingga simpang empat kantor besar berlangsung tertib. Aparat polisi hanya menjaga dan mengawasi agar kawasan itu tidak macet arus lalu-lintasnya.
Selasa, 20 Mei 2008
SMA 11 Tempat Boedi Oetomo Gelar Kongres Pertama
Yogyakarta, Gedung SMAN 11 Yogyakarta diresmikan oleh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) RI Prof Dr Bambang Sudibyo sebagai Sekolah Pendidikan Kebangsaan. Sekolah yang terletak di Jl AM Sangaj, Jetis Kota Yogyakarta itu merupakan tempat kongres pertama Boedi Oetomo satu abad lalu.
Acara peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti Pencanangan Pendidikan Kebangsaan di halaman sekolah, Selasa (20/5/2008). Prasasti yang ditandatangani Mendiknas bertuliskan 'Roh Monumen Kebangsaan Indonesia. Peresmian disaksikan oleh Sekda Provinsi DIY, Tri Harjun Ismadji, para kepala sekolah se DIY dan panitia peringatan Se Abad Kebangkitan Nasional.
Bambang Sudibyo dalam sambutannya mengatakan dipilihnya SMAN 11 sebagai tempat peresmian sekaligus sebagai pelopor penyelenggaraan pendidikan kebangsaan, berdasarkan bukti sejarah. Gedung SMA 11 dulu sebagai tempat penyelenggaraan kongres pertama Boedi oetomo. "Gedung ini sebagai saksi sejarah dan bukti kebangkitan Indonesia waktu itu," katanya.
Meski beragam cara masyarakat memperingati hari kebangkitan nasional, dia menilai hal itu sebagai sesuatu yang wajar. Namun dia mengingatkan hendaknya, semangat kebangkitan nasional jangan sampai disusupi oleh kepentingan yang tidak bermanfaat.
"Memang banyak anggota masyarakat yang memutuskan peringatan kebangkitan nasional dengan cara berdemo. Silahkan saja, memperingati harkitnas dengan demo, tapi jangan kesurupan dengan semangat lain sehingga harus berhadapan dengan aparat," tegas dia.
Menurut dia, sebetulnya ruh dari kebangkitan nasional adalah sebuah semangat dan tekad kuat untuk mengubah nasib bangsa. Sementara perubahan itu dimulai dari merubah diri sendiri.
Semangat perubahan itu harus dilakukan untuk mengubah semua hal, merubah dari sesuatu yang potensial menjadi yang aktual, mengubah yang potensial menjadi kinetis, dan mengubah sesuatu yang potensial menjadi sesuatu yang menggerakan dan bisa bermanfaat bagi orang lain.
"Marilah kita kesurupan dengan ruh kebangkitan nasional yang semangatnya untuk merubah nasib bangsa, dengan cara mengubah kesadaran pada diri sendiri baik dari kesadaran hati, kesadaran otak dan kesadaran rasa," pungkas dia.
Acara peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti Pencanangan Pendidikan Kebangsaan di halaman sekolah, Selasa (20/5/2008). Prasasti yang ditandatangani Mendiknas bertuliskan 'Roh Monumen Kebangsaan Indonesia. Peresmian disaksikan oleh Sekda Provinsi DIY, Tri Harjun Ismadji, para kepala sekolah se DIY dan panitia peringatan Se Abad Kebangkitan Nasional.
Bambang Sudibyo dalam sambutannya mengatakan dipilihnya SMAN 11 sebagai tempat peresmian sekaligus sebagai pelopor penyelenggaraan pendidikan kebangsaan, berdasarkan bukti sejarah. Gedung SMA 11 dulu sebagai tempat penyelenggaraan kongres pertama Boedi oetomo. "Gedung ini sebagai saksi sejarah dan bukti kebangkitan Indonesia waktu itu," katanya.
Meski beragam cara masyarakat memperingati hari kebangkitan nasional, dia menilai hal itu sebagai sesuatu yang wajar. Namun dia mengingatkan hendaknya, semangat kebangkitan nasional jangan sampai disusupi oleh kepentingan yang tidak bermanfaat.
"Memang banyak anggota masyarakat yang memutuskan peringatan kebangkitan nasional dengan cara berdemo. Silahkan saja, memperingati harkitnas dengan demo, tapi jangan kesurupan dengan semangat lain sehingga harus berhadapan dengan aparat," tegas dia.
Menurut dia, sebetulnya ruh dari kebangkitan nasional adalah sebuah semangat dan tekad kuat untuk mengubah nasib bangsa. Sementara perubahan itu dimulai dari merubah diri sendiri.
Semangat perubahan itu harus dilakukan untuk mengubah semua hal, merubah dari sesuatu yang potensial menjadi yang aktual, mengubah yang potensial menjadi kinetis, dan mengubah sesuatu yang potensial menjadi sesuatu yang menggerakan dan bisa bermanfaat bagi orang lain.
"Marilah kita kesurupan dengan ruh kebangkitan nasional yang semangatnya untuk merubah nasib bangsa, dengan cara mengubah kesadaran pada diri sendiri baik dari kesadaran hati, kesadaran otak dan kesadaran rasa," pungkas dia.
Jumat, 16 Mei 2008
Tolak BBM Naik, HTI Yogya Bawa Ala Dapur
Yogyakarta - Sekitar 500 anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Yogya demo menolak kenaikan harga BBM. Mereka membawa jeriken kosong dan berbagai alat dapur seperti panci, cerek, wajan dan alat-alat penggorengan.
Aksi HTI Yogya ini dimulai di Bundara UGM, Sabtu (17/5/2008). Dari tempat itu, massa kemudian longmarch ke Kantor Pos Besar Yogyakarta, Jl Senopati sejauh 5 km. Alat-alat dapur itu sebagian besar di bawa anggota HTI perempuan. Sedangkan anggota pria membawa poster, spanduk serta mendorong motor yang dibawanya. Di bagian kanan atau kiri setang motor ditaruh jeriken minyak kosong.
Selama longmarch, massa HTI menerikan yel-yel tolak BBM. Massa, terutama kaum wanita, mengacung-acungkan berbagai perabotan dapur seperti, panci, penggorengan dan sebagainya. Sedangkan kaum prianya mendorong sepeda motor yang mesinnya dimatikan.
"Kenaikan harga BBM sebesar 30 persen sangat tidak wajar dan dzalim. Kebijakan ini menyengsarakan rakyat kecil dan harus ditolak," kata korlap HTI Yogya, Bey Lasfrina.
Massa HTI meminta pemerintah menempuh kebijakan lain agar APBN tidak defisit. Salah satunya adalah melakukan penghematan di berbagai sektor.
"Pemerintah seharusnya melakukan penghematan. Dampak kenaikan yang merasakan langsung adalah rakyat, yakni harga sembako yang melangit," tutur Bey.
Demo yang dilakukan massa HTI Yogya ini berlangsung tertib sehingga tidak terlalu memacetkan arus lalu lintas. Meski demikian, aksi ini mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian yang disebar di beberapa tempat.
Aksi HTI Yogya ini dimulai di Bundara UGM, Sabtu (17/5/2008). Dari tempat itu, massa kemudian longmarch ke Kantor Pos Besar Yogyakarta, Jl Senopati sejauh 5 km. Alat-alat dapur itu sebagian besar di bawa anggota HTI perempuan. Sedangkan anggota pria membawa poster, spanduk serta mendorong motor yang dibawanya. Di bagian kanan atau kiri setang motor ditaruh jeriken minyak kosong.
Selama longmarch, massa HTI menerikan yel-yel tolak BBM. Massa, terutama kaum wanita, mengacung-acungkan berbagai perabotan dapur seperti, panci, penggorengan dan sebagainya. Sedangkan kaum prianya mendorong sepeda motor yang mesinnya dimatikan.
"Kenaikan harga BBM sebesar 30 persen sangat tidak wajar dan dzalim. Kebijakan ini menyengsarakan rakyat kecil dan harus ditolak," kata korlap HTI Yogya, Bey Lasfrina.
Massa HTI meminta pemerintah menempuh kebijakan lain agar APBN tidak defisit. Salah satunya adalah melakukan penghematan di berbagai sektor.
"Pemerintah seharusnya melakukan penghematan. Dampak kenaikan yang merasakan langsung adalah rakyat, yakni harga sembako yang melangit," tutur Bey.
Demo yang dilakukan massa HTI Yogya ini berlangsung tertib sehingga tidak terlalu memacetkan arus lalu lintas. Meski demikian, aksi ini mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian yang disebar di beberapa tempat.
Tolak Ahmadiyah, Umat Islam Yogya Kirim Surat ke SBY
Yogyakarta, Ratusan Umat Islam Yogyakarta dari berbagai elemen menggelar aksi demo menuntut pembubaran Ahmadiyah. Mereka juga mengirimkan surat ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) segera melarang Ahmadiyah di Indonesia.
Aksi yang dikuti oleh Front Ukhuwah Islamiyah (FUI) DIY, Forum Silaturahmi Remaja Masjid Yogyakarta (FSRMY), Front Jihad Islam, Majelis Mujahidin dll digelar di simpang empat Kantor Pos Besar Yogyakarta di Jl Senopati.
Sebelumnya massa berkumpul dari Masjid Besar Kauman. Dari Masjid Besar kauman massa kemudian berjalan menuju lokasi yang berjarak 500 meter.
Koordinator aksi M. Ardiyanto dalam orasinya mengatakan umat Islam Yogyakarta mendukung fatwa MUI yang melarang Ahmadiyah karena dianggap sesat karena menanggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi setelah Muhammad. Pihaknya juga mendukung adanya Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri.
"Fatwa MUI suda jelas, Ahmadiyah sesat. Karena itu sebagai umat Islam harus mendukung SKB tiga menteri itu," kata Ardiyanto disambut takbir berkali-kali.
Usai berorasi, massa kemudian mengirimkan sebuah surat yang sudah ditandatangani semua elemen peserta aksi. Surat berukuran jumbo sekitar 100 x 80 cm bersampul tebal itu dikirimkan kepada Presiden SBY.
Saat berlangsung aksi, aparat Poltabes Yogyakarta menjaga ketat tempat aksi. Disetiap pojok perempatan sedikitnya dijaga 10 aparat kepolisian. Selain ditempat aksi, puluhan aparat juga menjaga dua masjid milik Ahmadiyah sejak pagi hari.
Masjid yang dijaga antara lain masjid Fadhil Umar milik Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Jl Atmosukarto Kotabaru dan Masjid milik Gerakan Ahamdiyah Indonesia (GAI) Lahore di kompleks Sekolah yayasan Perguruan Islam Republik Indonesia (PIRI) di Baciro, Gondokusuman tampak dijaga ketat.
Seusai salat Jumat, kedua masjid mendapat penjagaan ketat untuk menghindari terjadinya tindakan anarkhis oleh sekelompok massa.
Aksi yang dikuti oleh Front Ukhuwah Islamiyah (FUI) DIY, Forum Silaturahmi Remaja Masjid Yogyakarta (FSRMY), Front Jihad Islam, Majelis Mujahidin dll digelar di simpang empat Kantor Pos Besar Yogyakarta di Jl Senopati.
Sebelumnya massa berkumpul dari Masjid Besar Kauman. Dari Masjid Besar kauman massa kemudian berjalan menuju lokasi yang berjarak 500 meter.
Koordinator aksi M. Ardiyanto dalam orasinya mengatakan umat Islam Yogyakarta mendukung fatwa MUI yang melarang Ahmadiyah karena dianggap sesat karena menanggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi setelah Muhammad. Pihaknya juga mendukung adanya Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri.
"Fatwa MUI suda jelas, Ahmadiyah sesat. Karena itu sebagai umat Islam harus mendukung SKB tiga menteri itu," kata Ardiyanto disambut takbir berkali-kali.
Usai berorasi, massa kemudian mengirimkan sebuah surat yang sudah ditandatangani semua elemen peserta aksi. Surat berukuran jumbo sekitar 100 x 80 cm bersampul tebal itu dikirimkan kepada Presiden SBY.
Saat berlangsung aksi, aparat Poltabes Yogyakarta menjaga ketat tempat aksi. Disetiap pojok perempatan sedikitnya dijaga 10 aparat kepolisian. Selain ditempat aksi, puluhan aparat juga menjaga dua masjid milik Ahmadiyah sejak pagi hari.
Masjid yang dijaga antara lain masjid Fadhil Umar milik Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Jl Atmosukarto Kotabaru dan Masjid milik Gerakan Ahamdiyah Indonesia (GAI) Lahore di kompleks Sekolah yayasan Perguruan Islam Republik Indonesia (PIRI) di Baciro, Gondokusuman tampak dijaga ketat.
Seusai salat Jumat, kedua masjid mendapat penjagaan ketat untuk menghindari terjadinya tindakan anarkhis oleh sekelompok massa.
Wulan Sempat Kelabui Ganti Plat Nomor
Yogyakarta, Untuk mengelabui, Rahmawati Wulansari (30) sempat mengelabui suaminya Dody Moris Hendrawan dengan mengganti plat nomor mobilnya saat tiba di rumah. Setelah ganti pakaian dia pamit pergi kembali ke pendopo Kabupaten Sleman tempat acara tirakatan hari jadi Sleman ke 92.
"Saat pamit akan ke acara tirakatan sampai pagi hari, Dody sudah curiga. Diam-diam setelah keluar dari rumah saya ikuti dari jauh," tutur kuasa hukum Dody, Fachim Fahmi, Jumat (16/5/2008).
Dugaan suaminya itu tidak meleset karena arah yang dituju memang bukan pendopo Kabupaten Sleman lagi, tapi ke arah timur melewati Ringroad Utara hingga kawasan Catur Tunggal Depok Sleman. Di dekat Selokan Mataram, Wulan berhenti dan bertemu seseorang menggunakan sepeda motor Mio.
Setelah itu, mereka masuk ke Hotel Seturan yang terletak tidak jauh dari tempat pertemuan. Mereka pun kemudian memesan kamar nomor 512 yang terletak agak menjorok ke dalam sehingga tidak mudah diketahui oleh orang lain.
Setelah yakin, istrinya masuk ke hotel, dia kemudian menanyakan ke recepsionis. Petugas membenarkan oleh ada dua tamu yang baru saja check in. Saat itu pula dia langsung melaporkan kasus itu ke petugas di Mapolsek Depok untuk membantu menggerebek.
Saat digerebek, pintu tertutup rapat dan dikunci dari dalam. Dia meminta petugas hotel membuka dengan kunci duplikat. Saat berhasil dibuka, Wulan masih berada di tempat tidur. Badannya masih ditutupi selimut. Sedangkan pasangannya tengah berada dikamar mandi.
"Klien kami saat itu sempat mau emosi namun berhasil ditahan dan langsung melaporkan ke provost Sleman,' katanya.
Sementara itu ketika detikcom kembali menelusuri lokasi yang yang dijadikan tempat perselingkuhan petugas bagian recepsionis maupun satpam tampak curiga dan berusaha menutup-nutupi dengan mengatakan bila tidak ada penggerebekan pada hari Kamis 15 Mei pukul 01.00 WIB.
"Tamu yang datang menginap ke sini memang banyak. Tapi tidak ada kasus seperti itu," kata petugas yang enggan disebut namanya.
Tarif untuk menginap juga tidak mahal dan bervariasi antara Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu/malam. Lebih dari 20-an kamar yang tersedia privasinya juga sangat terjaga. Kamar tidut tamu ada yang langsung sambung atau menjadi satu dengan garasi. Ketika mobil masuk garasi, pintu bisa langsung ditutup dari dalam. Tamu juga bisa langsung masuk ke kamar dan mengunci dari dalam.
"Saat pamit akan ke acara tirakatan sampai pagi hari, Dody sudah curiga. Diam-diam setelah keluar dari rumah saya ikuti dari jauh," tutur kuasa hukum Dody, Fachim Fahmi, Jumat (16/5/2008).
Dugaan suaminya itu tidak meleset karena arah yang dituju memang bukan pendopo Kabupaten Sleman lagi, tapi ke arah timur melewati Ringroad Utara hingga kawasan Catur Tunggal Depok Sleman. Di dekat Selokan Mataram, Wulan berhenti dan bertemu seseorang menggunakan sepeda motor Mio.
Setelah itu, mereka masuk ke Hotel Seturan yang terletak tidak jauh dari tempat pertemuan. Mereka pun kemudian memesan kamar nomor 512 yang terletak agak menjorok ke dalam sehingga tidak mudah diketahui oleh orang lain.
Setelah yakin, istrinya masuk ke hotel, dia kemudian menanyakan ke recepsionis. Petugas membenarkan oleh ada dua tamu yang baru saja check in. Saat itu pula dia langsung melaporkan kasus itu ke petugas di Mapolsek Depok untuk membantu menggerebek.
Saat digerebek, pintu tertutup rapat dan dikunci dari dalam. Dia meminta petugas hotel membuka dengan kunci duplikat. Saat berhasil dibuka, Wulan masih berada di tempat tidur. Badannya masih ditutupi selimut. Sedangkan pasangannya tengah berada dikamar mandi.
"Klien kami saat itu sempat mau emosi namun berhasil ditahan dan langsung melaporkan ke provost Sleman,' katanya.
Sementara itu ketika detikcom kembali menelusuri lokasi yang yang dijadikan tempat perselingkuhan petugas bagian recepsionis maupun satpam tampak curiga dan berusaha menutup-nutupi dengan mengatakan bila tidak ada penggerebekan pada hari Kamis 15 Mei pukul 01.00 WIB.
"Tamu yang datang menginap ke sini memang banyak. Tapi tidak ada kasus seperti itu," kata petugas yang enggan disebut namanya.
Tarif untuk menginap juga tidak mahal dan bervariasi antara Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu/malam. Lebih dari 20-an kamar yang tersedia privasinya juga sangat terjaga. Kamar tidut tamu ada yang langsung sambung atau menjadi satu dengan garasi. Ketika mobil masuk garasi, pintu bisa langsung ditutup dari dalam. Tamu juga bisa langsung masuk ke kamar dan mengunci dari dalam.
Amien Rais : 56 Persen Perbankan Dikuasai Asing
Yogyakarta, Mantan Ketua MPR RI Prof Dr Amien Rais mengaku prihatin terhadap kondisi perekonomian Indonesia yang banyak dikuasai asing. Sebanyak 56 persen aset bank-bank di Indonesia sudah dikuasi asing sehingga Indonesia semakin tak berdaya lagi karena sudah terbelenggu oleh neo economic imperialism (penjajahan ekonomi model baru).
Hal tersebut disampaikan Amien dalam simposium Nasional Mahasiswa Pasca Sarjana, '100 tahun Kebangkitan Nasional dalam berbagai Perspektif', Jumat (16/5) di gedung sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) di Jl Teknika Utara Bulaksumur, Jumat (16/5/2008).
"Kita saat ini sesungguhnya hidup dalam neo economic imprealism. Kita ini sudah dikuliti oleh mereka. 56 persen bank-bank di Indonesia kini sudah dikuasasi asing," kata Amien.
Amien mengatakan dikuasai sumber ekonomi yang dikuasasi asaing ini akibat dikeluarkannya peraturan pemerintah (PP) no 7 tahun 2007. Dalam PP itu dijelaskan bahwa perbankan bisa dikuasai sampai 99 persen oleh pihak asing.
Sementara itu perbankan, komoditas lahan pertanian di atas 25 hektar bisa dikuasai hingga 95 persen. Sedangkan di bidang pendidikan, pihak asing bisa menguasai sekitar 49 persen dari pendidikan dasar, menegah dan perguruan tinggi.
Pak Susilo itu (SBY), telah merintis jalan tol bagi masuknya ekonomi asing untuk menjajah bangsa ini. Bila semua sudah masuk bangsa kita sudah tidak punya apa-apa lagi bahkan tercerabut dari kedaulatan ekonomi," pungkas Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UGM itu.
Hal tersebut disampaikan Amien dalam simposium Nasional Mahasiswa Pasca Sarjana, '100 tahun Kebangkitan Nasional dalam berbagai Perspektif', Jumat (16/5) di gedung sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) di Jl Teknika Utara Bulaksumur, Jumat (16/5/2008).
"Kita saat ini sesungguhnya hidup dalam neo economic imprealism. Kita ini sudah dikuliti oleh mereka. 56 persen bank-bank di Indonesia kini sudah dikuasasi asing," kata Amien.
Amien mengatakan dikuasai sumber ekonomi yang dikuasasi asaing ini akibat dikeluarkannya peraturan pemerintah (PP) no 7 tahun 2007. Dalam PP itu dijelaskan bahwa perbankan bisa dikuasai sampai 99 persen oleh pihak asing.
Sementara itu perbankan, komoditas lahan pertanian di atas 25 hektar bisa dikuasai hingga 95 persen. Sedangkan di bidang pendidikan, pihak asing bisa menguasai sekitar 49 persen dari pendidikan dasar, menegah dan perguruan tinggi.
Pak Susilo itu (SBY), telah merintis jalan tol bagi masuknya ekonomi asing untuk menjajah bangsa ini. Bila semua sudah masuk bangsa kita sudah tidak punya apa-apa lagi bahkan tercerabut dari kedaulatan ekonomi," pungkas Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UGM itu.
Kamis, 15 Mei 2008
Demo Tolak Kenaikan BBM di Yogya, 1 Mahasiswa Ditangkap
Yogyakarta, Demo menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali marak di Kota Yogyakarta. Satu orang mahasiswa peserta aksi ditangkap aparat Poltabes YOgyakarta karena dianggap membuat macet arus lalu-lintas sehingga membuat kawasan Malioboro macet.
Salah seorang mahasiswa anggota Kesatuan Aksai Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) DIY yang belum diketahui namanya itu langsung di bawa menuju Mapoltabes Yogyakarta di Jl Reksobayan untuk dimintai keterangan.
Aksi yang dimulai dari Tugu Yogyakarta itu diikuti puluhan mahasiswa. Sebanyak 30 puluhan sepeda motor yang dibawanya sengaja tidak dinaiki dan hanya didorong sebagai ungkapan protes rencana kenaikan harga BBM oleh pemerintah. Selain mendoronga sepeda motornya di bagian depan terpasang beberapa poster bertuliskan 'tolak BBM naik, nasionalisasi baru solusi, rakyat pusing dobohongi terus.' Sedang di bagian belakang motor dipasangi jeriken atau plastik bekas air minum kosong.
Setelah menggelar orasi di Tugu Yogyakarta, massa kemudian longmarch menuju kantor Pertamina Unit IV Yogyakarta di jl Mangkubumi. Ditempat itu massa juga melakukan orasi di depan pintu gerbang. Sementara itu 20-an aparat Poltabes Yogyakarta menutup pintu gerbang dan berjaga-jaga dari dalam pagar.
Dari kantor Pertamina, massa melanjutkan aksi menuju Gedung Agung Yogyakarta di jl Ahmad Yani melewati kawasan Malioboro. Karena dianggap tidak tertib sehingga membuat arus lalu-lintas tersendat dan macet, aparat mengamankan salah seorang koordinator aksi untuk dimintai keterangan.
Saat massa tiba di depan pagar Gedung Agung, puluhan aparat Poltabes Yogyakarta langsung membuat barikade dan menjaga ketat istana kepresidenan. Massa tidak bisa mendekat untuk menggoyang atau mendobrak pagar besi setinggi 2,5 meter itu.
Di depan barisan, massa melakukan orasi menolak kenaikan harga BBM dan menuntut pemerintah segera menurunkan harga sembako. Usai berorasi, sebagai ungkapan protes, massa kemudian melemparkan buah tomat ke arah halaman Gedung Agung. Untunngnya lemparan tomat busuk itu tidak mengenai barikade polisi. Lemparan tomat yang dibagi-bagikan kepada peserta aksi itu hanya lewat atas barisan polisi.
Salah seorang mahasiswa anggota Kesatuan Aksai Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) DIY yang belum diketahui namanya itu langsung di bawa menuju Mapoltabes Yogyakarta di Jl Reksobayan untuk dimintai keterangan.
Aksi yang dimulai dari Tugu Yogyakarta itu diikuti puluhan mahasiswa. Sebanyak 30 puluhan sepeda motor yang dibawanya sengaja tidak dinaiki dan hanya didorong sebagai ungkapan protes rencana kenaikan harga BBM oleh pemerintah. Selain mendoronga sepeda motornya di bagian depan terpasang beberapa poster bertuliskan 'tolak BBM naik, nasionalisasi baru solusi, rakyat pusing dobohongi terus.' Sedang di bagian belakang motor dipasangi jeriken atau plastik bekas air minum kosong.
Setelah menggelar orasi di Tugu Yogyakarta, massa kemudian longmarch menuju kantor Pertamina Unit IV Yogyakarta di jl Mangkubumi. Ditempat itu massa juga melakukan orasi di depan pintu gerbang. Sementara itu 20-an aparat Poltabes Yogyakarta menutup pintu gerbang dan berjaga-jaga dari dalam pagar.
Dari kantor Pertamina, massa melanjutkan aksi menuju Gedung Agung Yogyakarta di jl Ahmad Yani melewati kawasan Malioboro. Karena dianggap tidak tertib sehingga membuat arus lalu-lintas tersendat dan macet, aparat mengamankan salah seorang koordinator aksi untuk dimintai keterangan.
Saat massa tiba di depan pagar Gedung Agung, puluhan aparat Poltabes Yogyakarta langsung membuat barikade dan menjaga ketat istana kepresidenan. Massa tidak bisa mendekat untuk menggoyang atau mendobrak pagar besi setinggi 2,5 meter itu.
Di depan barisan, massa melakukan orasi menolak kenaikan harga BBM dan menuntut pemerintah segera menurunkan harga sembako. Usai berorasi, sebagai ungkapan protes, massa kemudian melemparkan buah tomat ke arah halaman Gedung Agung. Untunngnya lemparan tomat busuk itu tidak mengenai barikade polisi. Lemparan tomat yang dibagi-bagikan kepada peserta aksi itu hanya lewat atas barisan polisi.
Sultan Persilakan KPK Periksa Angpaonya
Yogyakarta, Gubernur Provinsi DI Yogyakarta yang juga raja Kraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X mempersilakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa angpao/sumbangan yang diterimanya saat menikahkan putri ketiganya, GKR Maduretno dengan KPH Purbodiningrat pada tanggal 9 Mei 2008.
Sultan juga mengaku baru membaca surat permohonan itu hari ini, Jumat (16/5/2008) dan langsung memerintahkan stafnya untuk segera membalas surat tersebut. Dia juga mempersilakan KPK memeriksa pada hari Minggu, Senin atau Selasa lusa.
Hal itu dikatakan Sultan menjawab pertanyaan wartawan di kantor gubernur di Kepatihan Jl Malioboro, Jumat (16/5/2008).
"Saya sudah menerima suratnya. Tadi pagi baru saya baca dan saya langsung meminta staf saya lewat ajudan untuk segera membalasnya," jawab Sultan.
Dia mengatakan dirinya belum bisa bertemu KPK karena beberapa hari terakhir ini sibuk menghadiri bebarapa acara di luar kota seperti ke Purwokerto pada hari Rabu 14 Mei dan ke Surabaya Jawa Timur pada hari Kamis 15 Mei hingga malam hari. Pada hari inipun setelah ke kantor di Kepatihan juga akan ke luar kota lagi.
"Oh kalau saya silahkan saja. Saya tidak ada masalah, mungkin hanya perlu diatur waktunya, mengenai waktu ini sudah saya komunikasikan, kapan terserah," kata Sultan yang saat itu mengenakan baju batik wana biru motif parang.
Karena sibuk menghadiri beberapa acara di luar kota Sultan, dirinya mempunyai 3 alternatif waktu luang pada tanggal 18-20 Mei atau hari Minggu, Senin atau Selasa siang.
"Terserah KPK mau datang kapan. Itu waktunya nanti diatur. Saya sudah menentukan dan menghubunginya. Kalau tidak hari Minggu sore, ya Senin pagi atau Selasa pagi. Terserah beliau Minggu sore atau malem, Senin pagi jam 11.00 atau Selasa pagi," pungkas Sultan sambil memasuki mobil dinas AB 1 yang akan menghadiri acara seminar di UGM.
Sultan juga mengaku baru membaca surat permohonan itu hari ini, Jumat (16/5/2008) dan langsung memerintahkan stafnya untuk segera membalas surat tersebut. Dia juga mempersilakan KPK memeriksa pada hari Minggu, Senin atau Selasa lusa.
Hal itu dikatakan Sultan menjawab pertanyaan wartawan di kantor gubernur di Kepatihan Jl Malioboro, Jumat (16/5/2008).
"Saya sudah menerima suratnya. Tadi pagi baru saya baca dan saya langsung meminta staf saya lewat ajudan untuk segera membalasnya," jawab Sultan.
Dia mengatakan dirinya belum bisa bertemu KPK karena beberapa hari terakhir ini sibuk menghadiri bebarapa acara di luar kota seperti ke Purwokerto pada hari Rabu 14 Mei dan ke Surabaya Jawa Timur pada hari Kamis 15 Mei hingga malam hari. Pada hari inipun setelah ke kantor di Kepatihan juga akan ke luar kota lagi.
"Oh kalau saya silahkan saja. Saya tidak ada masalah, mungkin hanya perlu diatur waktunya, mengenai waktu ini sudah saya komunikasikan, kapan terserah," kata Sultan yang saat itu mengenakan baju batik wana biru motif parang.
Karena sibuk menghadiri beberapa acara di luar kota Sultan, dirinya mempunyai 3 alternatif waktu luang pada tanggal 18-20 Mei atau hari Minggu, Senin atau Selasa siang.
"Terserah KPK mau datang kapan. Itu waktunya nanti diatur. Saya sudah menentukan dan menghubunginya. Kalau tidak hari Minggu sore, ya Senin pagi atau Selasa pagi. Terserah beliau Minggu sore atau malem, Senin pagi jam 11.00 atau Selasa pagi," pungkas Sultan sambil memasuki mobil dinas AB 1 yang akan menghadiri acara seminar di UGM.
Suami Wulan Ingin Keduanya Dapat Hukuman Setimpal
Yogyakarta, Meski sempat shok, suami Rahmawati Wulansari, Dody Moris Hendrawan menginginkan agar kasus perselingkuhan antara dua kapolsek mendapat hukuman setimpal dari atasan dan kepolisian tempat keduanya bekerja. Dirinya juga tidak ingin kasusnya menguap begitu saja, agar menjadi pembelajaran semua pihak.
"Sebagai korban, klien kami ingin kasus ini diusut dan diselesaikan dengan tuntas agar citra polisi tidak semakin bertambah buruk dan tetap profesional, kata kuasa hukum Dody, Fachim Fahmi ketika detikcom, Jumat (16/5/2008).
Meski mendapat tekanan dan sorotan kanan-kiri kata Fahmi, Dody tetap tegar menghadapi kasus ini. Beberapa tekanan yang dialami kliennya sejak hari Kamis kemarin diantaranya ada beberapa pihak yang menginginkan kasusnya tidak diperpanjang dan diselesaikan internal.
Namun Dody tetap pada pendirian agar publik mengetahui secara jelas. Pemeriksaan terhadap keduanya maupun kepada suami Wulan telah dilakukan oleh Provost Polres Sleman hingga hari ini belum selesai.
"Biar masyarakat tahu, mereka itu kan pejabat publik yang dapat menjadi panutan masyarakat, meski sampai sekarang dia masih shok," kata Fahmi.
Menurut cerita kliennya kepada Fahmi, Wulan telah menjalin affair dengan Kapolsek Mlati AKP Adib sudah beberapa lama. Beberapa orang kenalannya juga sempat memberitahukan. Namun Dody yang sehari-hari sebagai pengusaha di Kulonprogo itu tidak gegabah dan mampu menahan diri hingga bisa menangkap basah keduanya.
"Baru pada hari Kamis 15 Mei pukul 01.00 WIB, dia bersama aparat Polsek Depok menggerebeknya di Hotel Seturan kamar 512. Setelah itu baru melapor ke Polres," ungkap Fahmi.
"Sebagai korban, klien kami ingin kasus ini diusut dan diselesaikan dengan tuntas agar citra polisi tidak semakin bertambah buruk dan tetap profesional, kata kuasa hukum Dody, Fachim Fahmi ketika detikcom, Jumat (16/5/2008).
Meski mendapat tekanan dan sorotan kanan-kiri kata Fahmi, Dody tetap tegar menghadapi kasus ini. Beberapa tekanan yang dialami kliennya sejak hari Kamis kemarin diantaranya ada beberapa pihak yang menginginkan kasusnya tidak diperpanjang dan diselesaikan internal.
Namun Dody tetap pada pendirian agar publik mengetahui secara jelas. Pemeriksaan terhadap keduanya maupun kepada suami Wulan telah dilakukan oleh Provost Polres Sleman hingga hari ini belum selesai.
"Biar masyarakat tahu, mereka itu kan pejabat publik yang dapat menjadi panutan masyarakat, meski sampai sekarang dia masih shok," kata Fahmi.
Menurut cerita kliennya kepada Fahmi, Wulan telah menjalin affair dengan Kapolsek Mlati AKP Adib sudah beberapa lama. Beberapa orang kenalannya juga sempat memberitahukan. Namun Dody yang sehari-hari sebagai pengusaha di Kulonprogo itu tidak gegabah dan mampu menahan diri hingga bisa menangkap basah keduanya.
"Baru pada hari Kamis 15 Mei pukul 01.00 WIB, dia bersama aparat Polsek Depok menggerebeknya di Hotel Seturan kamar 512. Setelah itu baru melapor ke Polres," ungkap Fahmi.
Wulan Batal Jadi Model Iklan Antinarkoba
Yogyakarta, Karena terlibat perselingkuhan, Kapolsek Sleman AKP Rahmawati Wulansari (30) batal menjadi model iklan anti narkoba. Padahal Pemerintah Kabupaten Sleman dalam waktu dekat akan memasang sebuah baliho besar yang salah satunya bergambar Wulansari untuk mengkampanye gerakan anti narkoba.
Pihak Pemkab sendiri sudah akan memasang baliho itu di beberapa tempat strategis di wilayah Sleman seperti di Beran dekat kantor kabupaten. Sesi pemotretan dengan model Wulansari sudah dilakukan beberapa kali dan sudah siap dipasang.
Akibat peristiwa itu, Bupati Sleman Ibnu Subiyanto memerintahkan pegawainya untuk membatalkan dan menundanya. Bupati meminta petugas yang menyiapkan baliho anti narkoba itu untuk meninjau ulang, meski selama ini dianggap memiliki reputasi baik.
Pemilihan Wulan menjadi model iklan baliho gerakan anti narkoba sudah disiapkan lama. Dia dipilih karena dianggap fogur yang cocok untuk menyuarakan gerakan melawan narkoba dengan harapan dapat jadi panutan masyarakat Sleman.
Selama menjabat Kapolsek Sleman di Beran, di lingkungan sekitar kompleks kantor Pemkab Sleman dia terkenal polisi yang ramah, cantik dan mudah bergaul dengan siapapun. Bahkan pada saat ulang tahun hari jadi Kabupaten Sleman ke 92 pada hari Kamis 15 Mei 2008 sore kemarin, banyak pegawai di lingkungan Pemkab Sleman yang membicarakan kasus itu.
"Kita memang akan menunda foto dia untuk baliho anti narkoba. Namun soal moral kami tidak tahu," kata Ibnu Subiyanto.
Pihak Pemkab sendiri sudah akan memasang baliho itu di beberapa tempat strategis di wilayah Sleman seperti di Beran dekat kantor kabupaten. Sesi pemotretan dengan model Wulansari sudah dilakukan beberapa kali dan sudah siap dipasang.
Akibat peristiwa itu, Bupati Sleman Ibnu Subiyanto memerintahkan pegawainya untuk membatalkan dan menundanya. Bupati meminta petugas yang menyiapkan baliho anti narkoba itu untuk meninjau ulang, meski selama ini dianggap memiliki reputasi baik.
Pemilihan Wulan menjadi model iklan baliho gerakan anti narkoba sudah disiapkan lama. Dia dipilih karena dianggap fogur yang cocok untuk menyuarakan gerakan melawan narkoba dengan harapan dapat jadi panutan masyarakat Sleman.
Selama menjabat Kapolsek Sleman di Beran, di lingkungan sekitar kompleks kantor Pemkab Sleman dia terkenal polisi yang ramah, cantik dan mudah bergaul dengan siapapun. Bahkan pada saat ulang tahun hari jadi Kabupaten Sleman ke 92 pada hari Kamis 15 Mei 2008 sore kemarin, banyak pegawai di lingkungan Pemkab Sleman yang membicarakan kasus itu.
"Kita memang akan menunda foto dia untuk baliho anti narkoba. Namun soal moral kami tidak tahu," kata Ibnu Subiyanto.
Dua Kapolsek Tertangkap Berselingkuh
Yogyakarta, Dua Kapolsek di Sleman tertangkap basah saat berselingkuh. Keduanya ditangkap petugas saat berduaan di sebuah hotel di kawasan Seturan Kecamatan Depok Sleman.
Saat ini kedua masih menjalani pemeriksaan Provost Sleman dan Polda DIY. Kasus perselingkuhan itu dilaporkan sendiri oleh suaminya kepada petugas setelah memergoki dan menangkap basah.
Dua orang Kapolsek itu adalah Kapolsek Beran, AKP Rahmawati Wulansari (30) dan Kapolsek Mlati AKP Adib Rojikan (30). Kasus ini sudah dilaporkan secara resmi ke Polres Sleman diterima Aiptu Widodo dengan nomor Peldis/03/V/2008/P3D.
Suami Wulansari, Dody Maris Hendrawan (30) kepada wartawan di RM Vinos Jl Monumen Jogja Kembali, Sleman, Kamis (15/5/2008) mengatakan terungkapnya perselingkuhan itu setelah dirinya melihat SMS yang ada di handphone istrinya. Namun sebelumnya dia sudah mencurigai perbuatan yang dilakukan istrinya.
Pada hari Rabu 14 Mei sekitar pukul 21.00 WIB, istrinya menerima SMS dari Adib yang menggunakan nama samaran Mika. Isi SMS, 'sayang kamu dimana?. Tidak lama kemudian, Wulansari pamit Dody untuk menghadiri acara tirakatan peringatan hari jadi Kabupaten Sleman.
"Karena tak percaya dan curiga saya ikuti pakai sepeda motor kemana dia pergi," kata Dody.
Ternyata benar dugaan Dody, istrinya pergi menggunakan sepeda motor tidak menuju pendopo kabupaten. Dia menuju arah timur dan dari kejauhan Dody terus membuntutinya.
Di dekat Selokan Mataram kawasan Depok Sleman, Wulansari bertemu seseorang menggunakan sepeda motor Yamaha Mio. Setelah itu keduanya pergi dan masuk ke Hotel Seturan.
Setelah masuk kamar dan yakin istrinya berselingkuh, dia kemudian melapor ke Polsek Depok untuk menggerebeknya. Disaksikan petugas Polsek Depok menggunakan kunci duplikat hotel, dia masuk ke kamar nomor 512 dan ternyata benar istrinya bersama dengan Adib.
"Semua kejadian sudah saya laporkan resmi ke atasan mereka berdua agar ada tindakan tegas," kata Dody sambil menunjukkan surat resmi lapor.
Dia mengatakan meski saat ini sudah ditangani Provost, pihaknya sempat menerima tekanan dari berbagai pihak agar kasus tersebut tidak bocor keluar. Dirinya juga dijanjikan kasus ini akan diselesaikan secara internal.
"Kami ingin kasus ini ada tindakan tegas terhadap keduanya secara proporsional. Mereka adalah pejabat yang harus jadi panutan masyarakat," kata Dody.
Sampai saat ini kedua masih menjalani pemeriksaan di Provost Polres Sleman dan Polda DIY. Namun hingga kini, Kapolres Sleman AKBP Suharsono belum bersedia berkomentar menunggu hasil pemeriksaan selesai.
Saat ini kedua masih menjalani pemeriksaan Provost Sleman dan Polda DIY. Kasus perselingkuhan itu dilaporkan sendiri oleh suaminya kepada petugas setelah memergoki dan menangkap basah.
Dua orang Kapolsek itu adalah Kapolsek Beran, AKP Rahmawati Wulansari (30) dan Kapolsek Mlati AKP Adib Rojikan (30). Kasus ini sudah dilaporkan secara resmi ke Polres Sleman diterima Aiptu Widodo dengan nomor Peldis/03/V/2008/P3D.
Suami Wulansari, Dody Maris Hendrawan (30) kepada wartawan di RM Vinos Jl Monumen Jogja Kembali, Sleman, Kamis (15/5/2008) mengatakan terungkapnya perselingkuhan itu setelah dirinya melihat SMS yang ada di handphone istrinya. Namun sebelumnya dia sudah mencurigai perbuatan yang dilakukan istrinya.
Pada hari Rabu 14 Mei sekitar pukul 21.00 WIB, istrinya menerima SMS dari Adib yang menggunakan nama samaran Mika. Isi SMS, 'sayang kamu dimana?. Tidak lama kemudian, Wulansari pamit Dody untuk menghadiri acara tirakatan peringatan hari jadi Kabupaten Sleman.
"Karena tak percaya dan curiga saya ikuti pakai sepeda motor kemana dia pergi," kata Dody.
Ternyata benar dugaan Dody, istrinya pergi menggunakan sepeda motor tidak menuju pendopo kabupaten. Dia menuju arah timur dan dari kejauhan Dody terus membuntutinya.
Di dekat Selokan Mataram kawasan Depok Sleman, Wulansari bertemu seseorang menggunakan sepeda motor Yamaha Mio. Setelah itu keduanya pergi dan masuk ke Hotel Seturan.
Setelah masuk kamar dan yakin istrinya berselingkuh, dia kemudian melapor ke Polsek Depok untuk menggerebeknya. Disaksikan petugas Polsek Depok menggunakan kunci duplikat hotel, dia masuk ke kamar nomor 512 dan ternyata benar istrinya bersama dengan Adib.
"Semua kejadian sudah saya laporkan resmi ke atasan mereka berdua agar ada tindakan tegas," kata Dody sambil menunjukkan surat resmi lapor.
Dia mengatakan meski saat ini sudah ditangani Provost, pihaknya sempat menerima tekanan dari berbagai pihak agar kasus tersebut tidak bocor keluar. Dirinya juga dijanjikan kasus ini akan diselesaikan secara internal.
"Kami ingin kasus ini ada tindakan tegas terhadap keduanya secara proporsional. Mereka adalah pejabat yang harus jadi panutan masyarakat," kata Dody.
Sampai saat ini kedua masih menjalani pemeriksaan di Provost Polres Sleman dan Polda DIY. Namun hingga kini, Kapolres Sleman AKBP Suharsono belum bersedia berkomentar menunggu hasil pemeriksaan selesai.
UGM Akan Terima 300 Mahasiswa Baru Lewat Seleksi Nasional
Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta hanya akan menerima sekitar 300 mahasiswa melalui jalur Seleksi Nasional Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (SNM-PTN). Berarti hanya hanya 5 persen dari 6 ribu mahasiswa baru yang diterima tahun ini.
Hal itu diungkapkan Ketua Panitia Ujian Masuk (UM) UGM, Budi Prasetyo kepada wartawan di kantor pusat UGM di Bulaksumur Yogyakarta, Kamis (15/5/2008).
"Dibandingkan tahun lalu, tahun 2008 ini jumlah mahasiswa baru yang diterima lebih kecil sekitar 5 persen. Sedang pada tahun lalu mencapai 18 persen yang diterima melalui SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru)," kata dia.
Budi mengakui penurunan presentase jumlah mahasiswa baru yang diterima di UGM ini dikarenakan masih adanya pro kontra tentang seleksi penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri. Panitia UGM tidak mau spekulasi dengan target persentase tinggi.
"Setidaknya sama dengan penerimaan mahasiswa saat SPMB tahun lalu. Lagipula UGM uga sudah menyelenggarakan ujian masuk sendiri," katanya.
Menurut dia berdasarkan pertemuan intensif Dirjen Dikti dengan 57 PTN se Indonesia pada 10 Mei dan 11 Mei 2008 menghasilkan keputusan, semua PTN akan berpartisipasi pada SNM-PTN. "Kuota 5 persen dari jumlah total mahasiswa baru dalam penerimaan SNM PTN UGM itu diputuskan dalam rapat kerja universitas pada 23 April 2008," ungkap dia.
Selain mengikuti seleksi melalui SPMB atau SNM-PTN, UGM telah melakukan penjaringan mahasiswa baru melalui program Pilihan Bibit Unggul (PBU) dan ujian tulis atau UM-UGM. Untuk program bibit unggul yang diterima sebanyak 30 persen, Ujian tulis sekitar 52 persen dan 18 persen untuk SPMB.
"Pada tahun ini, ujian tulis UM-UGM sebanyak 65 persen, SNM-PTN sebanyak 5 persen dan bibit unggul 30 persen. Untuk ujian tulis ada kenaikan karena 13 persen dari kuota SPMB itu masuk ke ujian tulis," katanya.
Budi menambahkan untuk pendaftaran SNM-PTN UGM akan diselenggarakan pada 16-27 Juni 2008, tes tulis akan diselenggarakan pada 2-3 Juli dan pengumumannya pada 1 Agustus 2008. Untuk biaya formulir IPA dan IPS sebesar Rp 150 ribu sedangkan formulir IPC sebesar Rp 175 ribu.
Hal itu diungkapkan Ketua Panitia Ujian Masuk (UM) UGM, Budi Prasetyo kepada wartawan di kantor pusat UGM di Bulaksumur Yogyakarta, Kamis (15/5/2008).
"Dibandingkan tahun lalu, tahun 2008 ini jumlah mahasiswa baru yang diterima lebih kecil sekitar 5 persen. Sedang pada tahun lalu mencapai 18 persen yang diterima melalui SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru)," kata dia.
Budi mengakui penurunan presentase jumlah mahasiswa baru yang diterima di UGM ini dikarenakan masih adanya pro kontra tentang seleksi penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri. Panitia UGM tidak mau spekulasi dengan target persentase tinggi.
"Setidaknya sama dengan penerimaan mahasiswa saat SPMB tahun lalu. Lagipula UGM uga sudah menyelenggarakan ujian masuk sendiri," katanya.
Menurut dia berdasarkan pertemuan intensif Dirjen Dikti dengan 57 PTN se Indonesia pada 10 Mei dan 11 Mei 2008 menghasilkan keputusan, semua PTN akan berpartisipasi pada SNM-PTN. "Kuota 5 persen dari jumlah total mahasiswa baru dalam penerimaan SNM PTN UGM itu diputuskan dalam rapat kerja universitas pada 23 April 2008," ungkap dia.
Selain mengikuti seleksi melalui SPMB atau SNM-PTN, UGM telah melakukan penjaringan mahasiswa baru melalui program Pilihan Bibit Unggul (PBU) dan ujian tulis atau UM-UGM. Untuk program bibit unggul yang diterima sebanyak 30 persen, Ujian tulis sekitar 52 persen dan 18 persen untuk SPMB.
"Pada tahun ini, ujian tulis UM-UGM sebanyak 65 persen, SNM-PTN sebanyak 5 persen dan bibit unggul 30 persen. Untuk ujian tulis ada kenaikan karena 13 persen dari kuota SPMB itu masuk ke ujian tulis," katanya.
Budi menambahkan untuk pendaftaran SNM-PTN UGM akan diselenggarakan pada 16-27 Juni 2008, tes tulis akan diselenggarakan pada 2-3 Juli dan pengumumannya pada 1 Agustus 2008. Untuk biaya formulir IPA dan IPS sebesar Rp 150 ribu sedangkan formulir IPC sebesar Rp 175 ribu.
Tolak Kenaikan BBM, Massa IMM Geruduk DPRD DIY
Yogyakarta, Puluhan massa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Yogyakarta menggelar aksi demo menolak kenaikan harga BBM. Mereka juga mengecam pemerintah dan pejabat negara tidak mempunyai sense of crisis sehingga tetap menaikkan harga BBM dengan alasan APBN defisit.
Aksi yang dilakukan massa dari IMM Universitas Ahmad Dahlan (UAD) hari ini, Kamis (15/5/2008) dimulai dari Taman Parkir Jl Abu Bakar Ali. Dari tempat itu massa kemudian melakukan longmarch menuju gedung DPRD DIY di Jl Malioboro.
Dalam aksi itu, mereka mengenakan jaket almamater serta membawa bendera IMM. Tak lupa pula mengusung berbagai poster dan spanduk yang bertuliskan 'tolak kenaikan harga BBM, tolak privatisasi, turunkan harga dan lain-lian.
Saat menggelar aksi di lobby gedung dewan, massa meminta ketua atau anggota dewan menemuinya. Namun banyak anggota dewan yang menghadiri rapat komisi maupun rapat lainnya sehingga massa diminta menunggu beberapa saat.
Koordinator aksi Rivai Tuhuleley dalam orasinya menyatakan selama 10 tahun reformasi dan sudah berganti presiden 4 kali namun tidak ada perubahan. Kebijakan pemerintahan SBY-JK menaikkan harga BBM menunjukkan bila pemerintahan ini semakin tidak adil terhadap rakyat. "Pemerintah malah ingkar janji dengan menaikkan harga BBM. Padahal dulu berjanji tidak akan menaikkan harga," katanya.
Menurut dia, saat ini kondisi rakyat justru semakin menderita akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dan BBM. Rencana memberikan kompensasi berupa bantuan langsung tunai (BLT) juga tak akan menyelesaikan masalah.
"Rakyat dididik jadi pengemis dan BLT rawan penyunatan atau penyimpangan saat penyaluran," kata Rivai.
Aksi yang dilakukan massa dari IMM Universitas Ahmad Dahlan (UAD) hari ini, Kamis (15/5/2008) dimulai dari Taman Parkir Jl Abu Bakar Ali. Dari tempat itu massa kemudian melakukan longmarch menuju gedung DPRD DIY di Jl Malioboro.
Dalam aksi itu, mereka mengenakan jaket almamater serta membawa bendera IMM. Tak lupa pula mengusung berbagai poster dan spanduk yang bertuliskan 'tolak kenaikan harga BBM, tolak privatisasi, turunkan harga dan lain-lian.
Saat menggelar aksi di lobby gedung dewan, massa meminta ketua atau anggota dewan menemuinya. Namun banyak anggota dewan yang menghadiri rapat komisi maupun rapat lainnya sehingga massa diminta menunggu beberapa saat.
Koordinator aksi Rivai Tuhuleley dalam orasinya menyatakan selama 10 tahun reformasi dan sudah berganti presiden 4 kali namun tidak ada perubahan. Kebijakan pemerintahan SBY-JK menaikkan harga BBM menunjukkan bila pemerintahan ini semakin tidak adil terhadap rakyat. "Pemerintah malah ingkar janji dengan menaikkan harga BBM. Padahal dulu berjanji tidak akan menaikkan harga," katanya.
Menurut dia, saat ini kondisi rakyat justru semakin menderita akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dan BBM. Rencana memberikan kompensasi berupa bantuan langsung tunai (BLT) juga tak akan menyelesaikan masalah.
"Rakyat dididik jadi pengemis dan BLT rawan penyunatan atau penyimpangan saat penyaluran," kata Rivai.
Rabu, 14 Mei 2008
KPK Mau Periksa Angpao Sultan
Yogyakarta, Raja Kraton Yogyakarta yang juga Gubernur Provinsi DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X akan diperiksa sumbangan saat menikahkan putri ketiganya. Sejumlah wartawan berbagai media menunggu di kediaman Sultan di Kraton Kilen kompleks Kraton Yogyakarta.
Berdasarkan pantauan detikcom di pintu masuk Kraton Kilen hingga pukul 17.00 WIB, tidak ada jadwal Sultan HB X maupun GKR Hemas untuk menerima tamu. Baik security kraton maupun staf sekretariat Kraton Kilen juga membenarkan hingga nanti malam, Sultan belum ada jadwal menerima tamu.
Sultan sendiri baru datang dari bepergian keluar kota sekitar pukul 15.00 WIB. Mobil Toyota Alphard hitam AB 10 yang kendarai Sultan langsung masuk garasi di dalam. Sedang GKR Hemas tiba di Kraton Kilen sekitar pukul 15.15 WIB atau 15 menit berselang setelah kedatangan Sultan. Hingga pukul 17.00 WIB Sultan belum keluar lagi dari kediamannya.
Sementara itu menurut Kepala Bidang Humas Badan Informasi Daerah (BID) Provinsi DIY, Alex Syamsuri mengatakan sampai sekarang belum ada informasi mengenai kapan tim KPK akan datang ke Yogyakarta untuk memeriksa sumbangan yang diterima Sultan saat menikahkan putri ketiganya GKR Maduretno dengan KPH Purbodiningrat pada Jumat 9 Mei lalu.
"Sampai hari ini belum ada surat masuk ke provinsi. Entah kalau sudah ada pembicaraan terlebih dulu. Atau pemeriksaan baru akan dilaksanakan pada hari Kamis atau Jumat, kita juga belum tahu persis," kata Alex.
Berdasarkan pantauan detikcom di pintu masuk Kraton Kilen hingga pukul 17.00 WIB, tidak ada jadwal Sultan HB X maupun GKR Hemas untuk menerima tamu. Baik security kraton maupun staf sekretariat Kraton Kilen juga membenarkan hingga nanti malam, Sultan belum ada jadwal menerima tamu.
Sultan sendiri baru datang dari bepergian keluar kota sekitar pukul 15.00 WIB. Mobil Toyota Alphard hitam AB 10 yang kendarai Sultan langsung masuk garasi di dalam. Sedang GKR Hemas tiba di Kraton Kilen sekitar pukul 15.15 WIB atau 15 menit berselang setelah kedatangan Sultan. Hingga pukul 17.00 WIB Sultan belum keluar lagi dari kediamannya.
Sementara itu menurut Kepala Bidang Humas Badan Informasi Daerah (BID) Provinsi DIY, Alex Syamsuri mengatakan sampai sekarang belum ada informasi mengenai kapan tim KPK akan datang ke Yogyakarta untuk memeriksa sumbangan yang diterima Sultan saat menikahkan putri ketiganya GKR Maduretno dengan KPH Purbodiningrat pada Jumat 9 Mei lalu.
"Sampai hari ini belum ada surat masuk ke provinsi. Entah kalau sudah ada pembicaraan terlebih dulu. Atau pemeriksaan baru akan dilaksanakan pada hari Kamis atau Jumat, kita juga belum tahu persis," kata Alex.
Selasa, 13 Mei 2008
Tyasno: Yang Harus Ditolong Rakyat Bukan APBN
Yogyakarta - Kebijakan pemerintah menaikan harga BBM tidak boleh hanya berpikiran sesaat. Sebab yang harus ditolong itu adalah jutaan rakyat miskin, bukan APBN.
Hal itu diungkapkan Ketua Umum Majelis Luhur Taman Siswa yang juga mantan KASAD Jendral (Purn) Tyasno Sudarto di sela-sela persiapan Peringatan Seratus Tahun Kebangkitan Nasional di Taman Siswa Yogyakarta, Selasa (13/5/2008).
"Jangan hanya mikir sesaat saja misalnya untuk menolong APBN dengan alasan negara defisit. Yang ditolong itu seharusnya rakyat bukan APBN," kata Tyasno
Kritik pedas Tyasno tidak hanya itu. Menurut dia, alasan pemerintah menaikkan harga BBM untuk menyamakan harga minyak Indonesia dengan luar negeri, terutama Singapura, adalah kebijakan yang bodoh. Sebab Singapura tidak memiliki sumber minyak seperti Indonesia.
"Negara kita itu masih kaya minyak sementara Singapura tidak punya dan hanya negara pulau kecil. Kalau harus harga minyak Indonesia disamakan dengan harga minyak Singapura itu namanya bodoh dan salah," tegas dia.
Tyasno juga mengomentari pengolahan minyak dalam negeri. Dia menilai, eksplorasi minyak di Indonesia banyak penyimpangan dan lebih menguntungkan pihak asing. Hal ini disebabkan Indonesia tidak mampu menghadapi tekanan asing.
"Apabila harga minyak naik, yang tambah menderita adalah rakyat. Karena itu pemerintah seharusnya tidak menaikkan harga BBM. Kalau hanya� beralasan untuk menyelamatkan APBN, itu adalah tidak pas," katanya.
Tyasno pesimis kebijakan menaikan harga BBM itu dapat di atasi dengan pemberian bantuan langsung tunai (BLT). Sebab saat ini masyarakat sudah merasakan kenaikan harga kebutuhan pokok meski kenaikan harga BBM belum resmi dilakukan.
"Lagi pula BLT itu juga tidak mendidik dan hanya mengajari kita menjadi bangsa pengemis. Jadi memang kita ini masih terjajah di masa sekarang ini," pungkas Tyasno.
Hal itu diungkapkan Ketua Umum Majelis Luhur Taman Siswa yang juga mantan KASAD Jendral (Purn) Tyasno Sudarto di sela-sela persiapan Peringatan Seratus Tahun Kebangkitan Nasional di Taman Siswa Yogyakarta, Selasa (13/5/2008).
"Jangan hanya mikir sesaat saja misalnya untuk menolong APBN dengan alasan negara defisit. Yang ditolong itu seharusnya rakyat bukan APBN," kata Tyasno
Kritik pedas Tyasno tidak hanya itu. Menurut dia, alasan pemerintah menaikkan harga BBM untuk menyamakan harga minyak Indonesia dengan luar negeri, terutama Singapura, adalah kebijakan yang bodoh. Sebab Singapura tidak memiliki sumber minyak seperti Indonesia.
"Negara kita itu masih kaya minyak sementara Singapura tidak punya dan hanya negara pulau kecil. Kalau harus harga minyak Indonesia disamakan dengan harga minyak Singapura itu namanya bodoh dan salah," tegas dia.
Tyasno juga mengomentari pengolahan minyak dalam negeri. Dia menilai, eksplorasi minyak di Indonesia banyak penyimpangan dan lebih menguntungkan pihak asing. Hal ini disebabkan Indonesia tidak mampu menghadapi tekanan asing.
"Apabila harga minyak naik, yang tambah menderita adalah rakyat. Karena itu pemerintah seharusnya tidak menaikkan harga BBM. Kalau hanya� beralasan untuk menyelamatkan APBN, itu adalah tidak pas," katanya.
Tyasno pesimis kebijakan menaikan harga BBM itu dapat di atasi dengan pemberian bantuan langsung tunai (BLT). Sebab saat ini masyarakat sudah merasakan kenaikan harga kebutuhan pokok meski kenaikan harga BBM belum resmi dilakukan.
"Lagi pula BLT itu juga tidak mendidik dan hanya mengajari kita menjadi bangsa pengemis. Jadi memang kita ini masih terjajah di masa sekarang ini," pungkas Tyasno.
Polres Sleman Buru Pengoplos Solar
Yogyakarta, Polres Sleman terus memburu pelaku pengoplos bahan bakar minyak (BBM) solar. Dua pangkalan pengoplosan minyak solar 'irex' berhasil digrebek di Desa Trihanggo dan Ambarketawang Gamping Sleman.
Dari hasil operasi tersebut, polisi telah memeriksa 5 orang yang diduga pelaku pengoplosan. Dari 5 orang itu yang diperiksa petugas diantaranya pemilik pangkalan, sopir, kernet yang mengantar solar irex ke bebeberapa pabrik di wilayah Sleman. Dua orang sopir dan kernet yang diperiksa adalah Guswoyo (29) dan Suyanto (27) warga Ambarketawang Kecamatan Gamping Sleman.
Sedang barang bukti yang berhasil diamankan adalah 4 unit truk yang telah dimodifikasi menjadi truk tangki, 5 ton solar irex serta 2 tangki pendam dan drum yang ada di pangkalan.
"Kami masih memburu para pelaku pengoplos solar yang telah dipasarkan di beberapa tempat di Yogyakarta. Mereka tidak sendiri-sendiri tapi sudah jaringan," kata Kapolres Sleman AKBP Suharsono kepada wartawan di Mapolres Sleman Jl Magelng Km 12 Sleman, Selasa (13/5/2008).
Suharsono mengatakan dari hasil pemeriksaan sementara mereka melakukan kegiatan ilegal ini sudah lama. Kelima orang itu masih terus diperiksa secara intensif untuk mengetahui orang yang jadi tersangka ataupun saksi. Dari sopir Guswoyo diketahui bila dia dan kernet hanya suruhan majikan berinisial YK (45) untuk mengantar di tempat yang ditunjuk.
"Saat ini petugas masih mendalami mengenai asal usul solar tersebut sebelum di dioplos, apakah memberi dari agen atau mengambil langsung dari Depo Pertamina di Rewulu, kalau mengambil langsung dari depo akan kita periksa surat-suratnya," kata Suharsono.
Dari hasil operasi tersebut, polisi telah memeriksa 5 orang yang diduga pelaku pengoplosan. Dari 5 orang itu yang diperiksa petugas diantaranya pemilik pangkalan, sopir, kernet yang mengantar solar irex ke bebeberapa pabrik di wilayah Sleman. Dua orang sopir dan kernet yang diperiksa adalah Guswoyo (29) dan Suyanto (27) warga Ambarketawang Kecamatan Gamping Sleman.
Sedang barang bukti yang berhasil diamankan adalah 4 unit truk yang telah dimodifikasi menjadi truk tangki, 5 ton solar irex serta 2 tangki pendam dan drum yang ada di pangkalan.
"Kami masih memburu para pelaku pengoplos solar yang telah dipasarkan di beberapa tempat di Yogyakarta. Mereka tidak sendiri-sendiri tapi sudah jaringan," kata Kapolres Sleman AKBP Suharsono kepada wartawan di Mapolres Sleman Jl Magelng Km 12 Sleman, Selasa (13/5/2008).
Suharsono mengatakan dari hasil pemeriksaan sementara mereka melakukan kegiatan ilegal ini sudah lama. Kelima orang itu masih terus diperiksa secara intensif untuk mengetahui orang yang jadi tersangka ataupun saksi. Dari sopir Guswoyo diketahui bila dia dan kernet hanya suruhan majikan berinisial YK (45) untuk mengantar di tempat yang ditunjuk.
"Saat ini petugas masih mendalami mengenai asal usul solar tersebut sebelum di dioplos, apakah memberi dari agen atau mengambil langsung dari Depo Pertamina di Rewulu, kalau mengambil langsung dari depo akan kita periksa surat-suratnya," kata Suharsono.
Senin, 12 Mei 2008
Polres Sleman Grebek Penimbun BBM
Yogyakarta, Polres Sleman menggrebek tempat penimbunan dan pengoplosan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dan minyak tanah. Sedikitnya 5 ton solar dan 3 kendaraan pengangkut BBM oplosan yang akan digunakan untuk memasarkan diamankan petugas.
Terungkapkan kasus BBM oplosan itu setelah petugas dari Polres Sleman mencurigai sebuah truk yang dimodifikasi untuk mengangkut solar di wilayah Kecamatan Berbah Sleman. Bak truk sengaja dibuat untuk mengangkut BBM, namun dari luar hanya tampak seperti truk biasa.
"Saat isi truk diperiksa petugas ternyata mengangkut ribuan liter solar yang telah dioplos," kata Kapolres Sleman, AKBP Suharsono kepada wartawan di Mapolres Sleman jl Magelang Km 12, Sleman, Senin (12/5/2008).
Truk bernopol AB 9002 H itu dikendarai oleh sopir Guswoyo (29) dengan kernet Suyanto (27) warga Ambarketawang Kecamatan Gamping Sleman. Saat ditangkap petugas truk tersebut hendak memasarkan di beberapa wilayah Sleman bagian timur hingga Gunungkidul. Namun ketika berada di wilayah Berbah keburu ketangkap petugas.
Setelah petugas memeriksa intensif kata dia, keduanya mengaku bila mengambil BBM oplosan itu dari sebuah tempat penampungan/penimbunan BBM yang ada di Kecamatan Gamping. Saat mendatangi tempat penimbunan dan pengoplosan, petugas mengamankan dua mobil tangki yang baru saja mengambil BBM di tempat itu.
"Kedua mobil tangki itu sudah isi penuh sekitar 5 ton solar. Saat ini semua mobil tangki kita amankan di mapolres. Sedang tempat yang diduga menjadi tempat penimbunan dan pengoplosan akan kita bongkar," katanya.
Dia menambahkan saat ini petugas terus mengembangkan hasil penyelidikan mulai dari surat-surat resmi hingga wilayah edar. Di duga hasil BBM oplosan itu tidak hanya dijual di wilayah Sleman saja tapi hingga wilayah lain seperti Gunungkidul, Klaten dll.
"Para pelaku masih kita periksa intensif untuk melacak dimana saja tangki-tangki itu pada 'kencing'. Kita juga mengamankan beberapa mobil tangki isi minyak tanah yang tidak disertai dokumen lengkap," pungkas Suharsono.
Terungkapkan kasus BBM oplosan itu setelah petugas dari Polres Sleman mencurigai sebuah truk yang dimodifikasi untuk mengangkut solar di wilayah Kecamatan Berbah Sleman. Bak truk sengaja dibuat untuk mengangkut BBM, namun dari luar hanya tampak seperti truk biasa.
"Saat isi truk diperiksa petugas ternyata mengangkut ribuan liter solar yang telah dioplos," kata Kapolres Sleman, AKBP Suharsono kepada wartawan di Mapolres Sleman jl Magelang Km 12, Sleman, Senin (12/5/2008).
Truk bernopol AB 9002 H itu dikendarai oleh sopir Guswoyo (29) dengan kernet Suyanto (27) warga Ambarketawang Kecamatan Gamping Sleman. Saat ditangkap petugas truk tersebut hendak memasarkan di beberapa wilayah Sleman bagian timur hingga Gunungkidul. Namun ketika berada di wilayah Berbah keburu ketangkap petugas.
Setelah petugas memeriksa intensif kata dia, keduanya mengaku bila mengambil BBM oplosan itu dari sebuah tempat penampungan/penimbunan BBM yang ada di Kecamatan Gamping. Saat mendatangi tempat penimbunan dan pengoplosan, petugas mengamankan dua mobil tangki yang baru saja mengambil BBM di tempat itu.
"Kedua mobil tangki itu sudah isi penuh sekitar 5 ton solar. Saat ini semua mobil tangki kita amankan di mapolres. Sedang tempat yang diduga menjadi tempat penimbunan dan pengoplosan akan kita bongkar," katanya.
Dia menambahkan saat ini petugas terus mengembangkan hasil penyelidikan mulai dari surat-surat resmi hingga wilayah edar. Di duga hasil BBM oplosan itu tidak hanya dijual di wilayah Sleman saja tapi hingga wilayah lain seperti Gunungkidul, Klaten dll.
"Para pelaku masih kita periksa intensif untuk melacak dimana saja tangki-tangki itu pada 'kencing'. Kita juga mengamankan beberapa mobil tangki isi minyak tanah yang tidak disertai dokumen lengkap," pungkas Suharsono.
10 Tahun Reformasi Diperingati di Yogyakarta
10 tahun reformasi diperingati mahasiswa Yogyakarta dari berbagai elemen dengan turun ke jalan. Ratusan mahasiswa menyatakan menolak rencana kenaikan harga BBM serta meminta pemerintah segera menurunkan harga sembako.
Aksi yang digelar sepanjang hari ini, Senin (12/5/2008) dilakukan di beberapa titik diantaranya dari Bundaran Kampus UGM, kampus UII di jl Cik Di Tiro dan Tugu Yogyakarta. Dari kawasan UGM aksi digelar oleh anggota BEM-SI. Dari kampus Cik Ditiro diikuti mahasiswa UII. Sedang dari Tugu Yogyakarta diikuti oleh Komite Rakyat Bersatu (KRB).
Semua peserta melakukan longmarch menuju kawasan Malioboro. Mahasiswa UII, KRB dan Aliansi Rakyat Pekerja Yogyakarta (ARPY) mendatangi kantor Pertamina Unit Pemasaran IV Yogyakarta.
Massa menggelar orasi di depan pintu masuk Pertamina, karena aparat polisi sudah menghadang dan menutup gerbang. Massa akhirnya menggelar aksi orasi didepan puluhan aparat yang berjaga. Mahasiswa mempelesetkan Pertamina menjadi Pertahun Minyak Naik.
"Pemerintahan SBY-JK harus segera menurunkan harga sembako dan BBM. Pertamina sekarang berarti Pertahun Minyak Naik," Arif, salah seorang koordinator lapangan aksi tersebut.
Usai berorasi salah seorang pimpinan Pertamina Totok Sugiarto menemui mahasiswa. Kepada mahasiswa Totok mengatakan Pertamina hanya sebagai operator dalam penyaluran/distribusi BBM di seluruh Indonesia. Namun segala peraturan atau regulasi mengenai harga yang menentukan adalah pemerintah.
"Kami hanya operator, regulatornya yang menentukan adalah pemerintah," kata Totok.
Aksi yang digelar sepanjang hari ini, Senin (12/5/2008) dilakukan di beberapa titik diantaranya dari Bundaran Kampus UGM, kampus UII di jl Cik Di Tiro dan Tugu Yogyakarta. Dari kawasan UGM aksi digelar oleh anggota BEM-SI. Dari kampus Cik Ditiro diikuti mahasiswa UII. Sedang dari Tugu Yogyakarta diikuti oleh Komite Rakyat Bersatu (KRB).
Semua peserta melakukan longmarch menuju kawasan Malioboro. Mahasiswa UII, KRB dan Aliansi Rakyat Pekerja Yogyakarta (ARPY) mendatangi kantor Pertamina Unit Pemasaran IV Yogyakarta.
Massa menggelar orasi di depan pintu masuk Pertamina, karena aparat polisi sudah menghadang dan menutup gerbang. Massa akhirnya menggelar aksi orasi didepan puluhan aparat yang berjaga. Mahasiswa mempelesetkan Pertamina menjadi Pertahun Minyak Naik.
"Pemerintahan SBY-JK harus segera menurunkan harga sembako dan BBM. Pertamina sekarang berarti Pertahun Minyak Naik," Arif, salah seorang koordinator lapangan aksi tersebut.
Usai berorasi salah seorang pimpinan Pertamina Totok Sugiarto menemui mahasiswa. Kepada mahasiswa Totok mengatakan Pertamina hanya sebagai operator dalam penyaluran/distribusi BBM di seluruh Indonesia. Namun segala peraturan atau regulasi mengenai harga yang menentukan adalah pemerintah.
"Kami hanya operator, regulatornya yang menentukan adalah pemerintah," kata Totok.
Sabtu, 10 Mei 2008
Pengantin Pamitan Pada Sultan
Yogyakarta, Kedua mempelai pamitan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X. Setelah menikah GKR Maduretno dan KPH Purbodiningrat tidak akan tinggal di kraton tapi di rumahnya sendiri di kawasan Maguwoharjo, Sleman.
Sebeluma acara pamitan Sultan sempat bercakap-cakap dengan besan Hj Handayati Djuwanto. Dia sempat menanyakan kepada Handayati apakah bisa beristirah cukup di Dalem Kesatriyan. "Saged sare? Saged ngaso?" tanya Sultan.
"Inggih, saged ngantos dalu (sampai malam-red)" jawa Handayati pelan.
Acara pamitan dimulai dengan permohonan dari KGPH Hadiwino sebagai pimpinan rombongan yang mengungkapkan bila keluarga besan akan pamitan pulang ke rumah setelah 3 hari berada di kraton untuk nyantri.
Saat acara pamitan raja Kraton Yogyakarta itu berpesan agar keduanya tidak saling merendahkan atau menguasai, namun duduk sama rendah dan berdiri sama atau saling menjaga diri dan menjaga martabat. Sebab keduanya sudah menjadi sebuah keluarga besar.
Pesan itu disampaikan Sultan didampingi permaisuri GKR Hemas saat acara pamitan di Gedhong Jene kraton, Sabtu (10/5/2008). Hadir dalam acara itu adik Sultan, KGPH Hadiwinoto, GBPH Prabukusumo, putri sulung Sultan, GKR Pembayun bersama suami KPH Wironegoro, GKR Condrokirono, GRAj Nurabra Juwita, GRAj Nur Astuti Wijareni. Sedang dari besan, ibunda Hj Handyati Djuwanto dan Didik Nugrahanto.
Kepada kedua mempelai Sultan mengatakan sebagai orangtuanya hanya bisa mengucapkan selamat dan memberi restu. Sebab pernikahan yang dilakukan adalah pilihan mereka berdua bukan pilihan orangtua. Mulai saat ini, keduanya sudah menjadi sebuah keluarga yang resmi. Perkawinan itu bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk keluarga besar.
"Sebagai orangtua, kami punya kewajiban untuk mengawinkan anak dan hanya bisa mengantarkan anakn sebagai keluarga. Orangtua sudah tidak ikut campur lagi sebab semuanya juga sudah sama dewasa," pesan Sultan.
Sultan juga berpesan agar keduanya berbuat baik, tidak melakukan hal-hal yang bisa merugikan orang lain. Kedua mempelai harus bisa saling menerima perbedaan, saling menjaga, saling menghargai, tidak saling menguasai serta menjaga martabat.
"Bisa saling membangun dialog. Semua harus jujur, itu penting dan jalan yang laing baik. Jangan ada yang saling menyalahkan, duduk sama rendah berdiri sama tinggi," kata Sultan.
Seusai memberikan pesan, kedua mempelai kemudian meminta doa dan restu dari Sultan dan Hemas. GKR Maduretno kemudian mencium lutut Sultan dan Hemas yang dilanjutkan oleh KPH Purbodiningrat. GKR Hemas juga sempat mencium kedua mempelai. Sedangkan kepada paman, kakak dan adiknya, kedua mempelai hanya berjabat tangan dan saling berpelukan memberikan ucapan. Mereka juga meminta restu kepada semua yang hadir di Gedhong Jene, termasuk kepada kakak Purbodiningrat, Didik Nugrahanto dan ibu Hj Handayati Djuwanto.
Seusai pamintan, rombongan yang dipimpin KGPH Hadiwinoto dan GBPH Joyokusumo kembali ke Dalem Kesatriyan. Rombongan besan selanjutnya pamit pulang ke rumah melalui regol/pintu belakang Magangan.
Sebeluma acara pamitan Sultan sempat bercakap-cakap dengan besan Hj Handayati Djuwanto. Dia sempat menanyakan kepada Handayati apakah bisa beristirah cukup di Dalem Kesatriyan. "Saged sare? Saged ngaso?" tanya Sultan.
"Inggih, saged ngantos dalu (sampai malam-red)" jawa Handayati pelan.
Acara pamitan dimulai dengan permohonan dari KGPH Hadiwino sebagai pimpinan rombongan yang mengungkapkan bila keluarga besan akan pamitan pulang ke rumah setelah 3 hari berada di kraton untuk nyantri.
Saat acara pamitan raja Kraton Yogyakarta itu berpesan agar keduanya tidak saling merendahkan atau menguasai, namun duduk sama rendah dan berdiri sama atau saling menjaga diri dan menjaga martabat. Sebab keduanya sudah menjadi sebuah keluarga besar.
Pesan itu disampaikan Sultan didampingi permaisuri GKR Hemas saat acara pamitan di Gedhong Jene kraton, Sabtu (10/5/2008). Hadir dalam acara itu adik Sultan, KGPH Hadiwinoto, GBPH Prabukusumo, putri sulung Sultan, GKR Pembayun bersama suami KPH Wironegoro, GKR Condrokirono, GRAj Nurabra Juwita, GRAj Nur Astuti Wijareni. Sedang dari besan, ibunda Hj Handyati Djuwanto dan Didik Nugrahanto.
Kepada kedua mempelai Sultan mengatakan sebagai orangtuanya hanya bisa mengucapkan selamat dan memberi restu. Sebab pernikahan yang dilakukan adalah pilihan mereka berdua bukan pilihan orangtua. Mulai saat ini, keduanya sudah menjadi sebuah keluarga yang resmi. Perkawinan itu bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk keluarga besar.
"Sebagai orangtua, kami punya kewajiban untuk mengawinkan anak dan hanya bisa mengantarkan anakn sebagai keluarga. Orangtua sudah tidak ikut campur lagi sebab semuanya juga sudah sama dewasa," pesan Sultan.
Sultan juga berpesan agar keduanya berbuat baik, tidak melakukan hal-hal yang bisa merugikan orang lain. Kedua mempelai harus bisa saling menerima perbedaan, saling menjaga, saling menghargai, tidak saling menguasai serta menjaga martabat.
"Bisa saling membangun dialog. Semua harus jujur, itu penting dan jalan yang laing baik. Jangan ada yang saling menyalahkan, duduk sama rendah berdiri sama tinggi," kata Sultan.
Seusai memberikan pesan, kedua mempelai kemudian meminta doa dan restu dari Sultan dan Hemas. GKR Maduretno kemudian mencium lutut Sultan dan Hemas yang dilanjutkan oleh KPH Purbodiningrat. GKR Hemas juga sempat mencium kedua mempelai. Sedangkan kepada paman, kakak dan adiknya, kedua mempelai hanya berjabat tangan dan saling berpelukan memberikan ucapan. Mereka juga meminta restu kepada semua yang hadir di Gedhong Jene, termasuk kepada kakak Purbodiningrat, Didik Nugrahanto dan ibu Hj Handayati Djuwanto.
Seusai pamintan, rombongan yang dipimpin KGPH Hadiwinoto dan GBPH Joyokusumo kembali ke Dalem Kesatriyan. Rombongan besan selanjutnya pamit pulang ke rumah melalui regol/pintu belakang Magangan.
JK Hadiri Panggih Temanten Putri Sultan
Yogyakarta - Raja Kraton Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwono X hari ini melangsungkan resepsi pernikahan putri ketiganya, GRAj Nurkamnari Dewi dengan KPH Purbodiningrat. Sejumlah tamu penting pejabat negara mulai berdatangan.
Yang diundang Sultan menghadiri acara panggih sebagian besar adalah tamu pejabat negara di Jakarta serta anggota Forum Raja-Raja se Nusantara. Rombongan Wapres Jusuf Kalla beserta istri bersama dengan para pejabat negara lainnya datang di Bangsal Kencono, Kompleks Keraton Yogyakarta, Jumat (9/5/2008).
Menteri yang tampak hadir antara lain Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, Menteri Pertanian Anton Apriantono. Tampak hadir pula, Mantan Presiden BJ Habibie, petinggi Partai Golkar seperti Surya Paloh dan Ketua DPR Agung Laksono, Tjahjo Kumolo anggota DPR RI dari PDIP, mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, mantan Wapres Try Sutrisno dan Mantan KSAD Subagio HS serta sejumlah gubernur se Indonesia. Ketua KPK Antasari Azhar juga tampak dalam kerumunan para tamu tersebut.
Mereka akan menyaksikan upacara Panggih (temu penganten), yang berdasarkan jadwal akan dilangsungkan pada pukul 09.00 WIB. Namun hingga pukul 09.10 WIB, acara mempertemukan calon mempelai laki-laki dan perempuan itu belum juga berlangsung.
Yang diundang Sultan menghadiri acara panggih sebagian besar adalah tamu pejabat negara di Jakarta serta anggota Forum Raja-Raja se Nusantara. Rombongan Wapres Jusuf Kalla beserta istri bersama dengan para pejabat negara lainnya datang di Bangsal Kencono, Kompleks Keraton Yogyakarta, Jumat (9/5/2008).
Menteri yang tampak hadir antara lain Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, Menteri Pertanian Anton Apriantono. Tampak hadir pula, Mantan Presiden BJ Habibie, petinggi Partai Golkar seperti Surya Paloh dan Ketua DPR Agung Laksono, Tjahjo Kumolo anggota DPR RI dari PDIP, mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, mantan Wapres Try Sutrisno dan Mantan KSAD Subagio HS serta sejumlah gubernur se Indonesia. Ketua KPK Antasari Azhar juga tampak dalam kerumunan para tamu tersebut.
Mereka akan menyaksikan upacara Panggih (temu penganten), yang berdasarkan jadwal akan dilangsungkan pada pukul 09.00 WIB. Namun hingga pukul 09.10 WIB, acara mempertemukan calon mempelai laki-laki dan perempuan itu belum juga berlangsung.
Kiai Guntur Laut Sambut Tamu Negara di Pernikahan Putri HB X
Yogyakarta - Gamelan Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat, Kiai Guntur Laut menyambut sejumlah tamu negara yang akan hadir di pernikahan putri ketiga Sultan Hamengkubuwono X, Gray Nurkamnari Dewi, dengan KPH Purbodiningrat.
Itu bukan kiai yang biasanya memberi ceramah agama, Kiai Guntur Laut adalah gamelan yang menyambut tamu dengan instrumentalia Jawa. Gamelan yang mengalun dengan khidmat pertanda hajatan dimulai dan siap menyambut tamu.
Gending Monggang dialunkan bertalu-talu untuk menyambut tamu. Padahal pada hari jumat adalah larangan bagi Sultan untuk membunyikan gamelan. Bila membunyikan gamelan di hari tersebut, abdi dalem pengulon (penghulu) akan memberikan denda.
Namun karena Sultan punya hajat mantu dan tanggal 9 Mei dianggap hari paling baik untuk menggelar pesta pernikahan, maka Sultan pun akan membayar denda tersebut. Sebab hari Jumat adalah hari bagi umat Islam untuk menjalankan ibadah salat Jumat. Sultan pun membayar denda dengan memberikan sejumlah uang kepada penghulu kraton.
Sejumlah tamu negara dijadwalkan hadir dalam upacara panggih (temu) pengantin putra dan pengantin putri yang dilaksanakan di Bangsal Kencono kompleks Keraton Yogyakarta, Jumat (9/5/2008) pukul 09.00 WIB.
Tamu negara yang dijadwalkan hadir, di antaranya adalah Wapres Jusuf Kalla, sejumlah menteri koordinator seperti Menko Ekonomi Boediono, Menko Kesra Aburizal Bakrie. Tak ketinggalan pula turut diundang Ketua DPR Agung Laksono, dan Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno.
Karena banyak tamu negara yang hadir, maka keamanan pun diperketat. Para tamu yang akan masuk ke dalam area upacara panggih harus melalui metal detector. Di halaman Keben, sudah terlihat ratusan karangan bunga dari masyarakat dan kolega Keraton Yogyakarta.
Itu bukan kiai yang biasanya memberi ceramah agama, Kiai Guntur Laut adalah gamelan yang menyambut tamu dengan instrumentalia Jawa. Gamelan yang mengalun dengan khidmat pertanda hajatan dimulai dan siap menyambut tamu.
Gending Monggang dialunkan bertalu-talu untuk menyambut tamu. Padahal pada hari jumat adalah larangan bagi Sultan untuk membunyikan gamelan. Bila membunyikan gamelan di hari tersebut, abdi dalem pengulon (penghulu) akan memberikan denda.
Namun karena Sultan punya hajat mantu dan tanggal 9 Mei dianggap hari paling baik untuk menggelar pesta pernikahan, maka Sultan pun akan membayar denda tersebut. Sebab hari Jumat adalah hari bagi umat Islam untuk menjalankan ibadah salat Jumat. Sultan pun membayar denda dengan memberikan sejumlah uang kepada penghulu kraton.
Sejumlah tamu negara dijadwalkan hadir dalam upacara panggih (temu) pengantin putra dan pengantin putri yang dilaksanakan di Bangsal Kencono kompleks Keraton Yogyakarta, Jumat (9/5/2008) pukul 09.00 WIB.
Tamu negara yang dijadwalkan hadir, di antaranya adalah Wapres Jusuf Kalla, sejumlah menteri koordinator seperti Menko Ekonomi Boediono, Menko Kesra Aburizal Bakrie. Tak ketinggalan pula turut diundang Ketua DPR Agung Laksono, dan Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno.
Karena banyak tamu negara yang hadir, maka keamanan pun diperketat. Para tamu yang akan masuk ke dalam area upacara panggih harus melalui metal detector. Di halaman Keben, sudah terlihat ratusan karangan bunga dari masyarakat dan kolega Keraton Yogyakarta.
Sultan HB X Nikahkan Putri Ketiga, Pengantin Pria Terharu
Yogyakarta - Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) X menikahkan putri ketiganya. Resmilah putri Sultan HB X, Gray Nurkamnari Dewi bergelar Gusti Kanjeng Ratu Maduretno menjadi suami KPH Purbodiningrat.
Ijab kabul dilaksanakan di Masjid Panepen, Kompleks Keraton Yogyakarta, Jumat (9/5/2008) pukul 07.00 WIB.
Sultan tiba di masjid pukul 06.25 WIB didampingi adiknya GBPH Joyokusumo dan GBPH Prabukusumo. Sultan mengenakan surjan putih, dan duduk bersila di tengah-tengah masjid menghadap ke timur.
Sekitar pukul 06.30 WIB, rombongan mempelai pria pukul 06.30 WIB KPH Purbodiningrat didampingi kakaknya Didik Nugrahanto dan menantu Sultan HB X yang sulung KPH Wironegoro tiba di masjid.
Purbodiningrat tampak ganteng mengenakan surjan putih polos dan blangkon coklat, tanpa keris. Dia duduk bersila berhadapan dengan Sultan menghadap barat. Sebelum ijab kabul, penghulu keraton KRT H Kamaluddiningrat memanjatkan doa nikah. Setelah doa selesai, Sultan melakukan ijab kabul menggunakan bahasa Jawa.
"Kanjeng Pangeran Haryo Purbodiningrat ingsun nikahaken putraningsun wadon Gusti Kanjeng Ratu Maduretno karo sira Pangeran Haryo Purbodiningrat kanti mas kawin Al Qur'an sak terjemahane, perabot solat lan ali-ali," kata Sultan.
Purbodiningrat kemudian menjawab akad nikah Sultan dengan menahan haru dengan mata berkaca-kaca. "Kulo tampi nikahipun putranipun putri dalem Gusti Kanjeng Ratu Maduretno kanti mas kawin Al Quran, sarto terjemahanipun seperabot alat solat, kalian kalpiko," jawabnya dengan suara pelan namun tegas.
Seusai ijab, pengantin pria kemudian menandatangani surat-surat administrasi yang disiapkan kepala KUA Keraton HM Mukhlis. Setelah semua lengkap, Sultan kemudian meninggalkan Masjid Panepen, menuju kediamannya dengan berjalan kaki di Keraton Kilen yang berjarak 40 meter.
Rombongan pengantin pria kemudian meninggalkan Masjid Panepen menuju Kesatriyan. Sementara pengantin putri Nurkamnari Dewi masih dipingit di Keputren dan baru akan dipertemukan saat panggih (temu) yang akan diadakan pukul 09.00 WIB.
Ijab kabul dilaksanakan di Masjid Panepen, Kompleks Keraton Yogyakarta, Jumat (9/5/2008) pukul 07.00 WIB.
Sultan tiba di masjid pukul 06.25 WIB didampingi adiknya GBPH Joyokusumo dan GBPH Prabukusumo. Sultan mengenakan surjan putih, dan duduk bersila di tengah-tengah masjid menghadap ke timur.
Sekitar pukul 06.30 WIB, rombongan mempelai pria pukul 06.30 WIB KPH Purbodiningrat didampingi kakaknya Didik Nugrahanto dan menantu Sultan HB X yang sulung KPH Wironegoro tiba di masjid.
Purbodiningrat tampak ganteng mengenakan surjan putih polos dan blangkon coklat, tanpa keris. Dia duduk bersila berhadapan dengan Sultan menghadap barat. Sebelum ijab kabul, penghulu keraton KRT H Kamaluddiningrat memanjatkan doa nikah. Setelah doa selesai, Sultan melakukan ijab kabul menggunakan bahasa Jawa.
"Kanjeng Pangeran Haryo Purbodiningrat ingsun nikahaken putraningsun wadon Gusti Kanjeng Ratu Maduretno karo sira Pangeran Haryo Purbodiningrat kanti mas kawin Al Qur'an sak terjemahane, perabot solat lan ali-ali," kata Sultan.
Purbodiningrat kemudian menjawab akad nikah Sultan dengan menahan haru dengan mata berkaca-kaca. "Kulo tampi nikahipun putranipun putri dalem Gusti Kanjeng Ratu Maduretno kanti mas kawin Al Quran, sarto terjemahanipun seperabot alat solat, kalian kalpiko," jawabnya dengan suara pelan namun tegas.
Seusai ijab, pengantin pria kemudian menandatangani surat-surat administrasi yang disiapkan kepala KUA Keraton HM Mukhlis. Setelah semua lengkap, Sultan kemudian meninggalkan Masjid Panepen, menuju kediamannya dengan berjalan kaki di Keraton Kilen yang berjarak 40 meter.
Rombongan pengantin pria kemudian meninggalkan Masjid Panepen menuju Kesatriyan. Sementara pengantin putri Nurkamnari Dewi masih dipingit di Keputren dan baru akan dipertemukan saat panggih (temu) yang akan diadakan pukul 09.00 WIB.
Kamis, 08 Mei 2008
Sebelum Nikah, Pengantin Pria Kirim Bunga
Yogyakarta, Sebelum menikah dengan putri raja Keraton Yogyakarta, KRT Purbodiningrat menitipkan sebuah bunga kepada calon istrinya yang saat ini tengah melaksanakan prosesi midodareni. Bunga white lily kemudian dititipkan kepada adik calon pengantin putri yang saat ini tengah dipingit di Keputren Keraton Yogyakarta.
Peristiwa itu terjadi saat Sri Sultan Hamengku Buwono dan GKR Hemas datang berkunjung ke kompleks Dalem Kesatriyan tempat calon pengantin pria menginap. Sultan datang bersama rombongan seusai melaksanakan prosesi Tantingan kepada GKR Maduretno.
"Kowe arep titip apa karo calon bojomu?" tanya Sultan kepada calon menantunya sambil tersenyum.
Setelah menyampaikan sembah, Yun Prasetyo Hadi yang mendapat gelar KRT Purbodiningrat itu langsung berdiri dan mengambil sekuntum bunga White Lily yang ada di dekatnya. Bunga impor dari Belanda yang menjadi dekorasi pernikahan itu kemudian diserahkan kepada GRAj Wijareni adik bungsu calon pengantin putri. Bunga itu akan diserahkan kepada calon pengantin putri yang sedang berada di Keputren untuk melaksanakan acara midodareni.
Di Dalem Kesatriyan, Sultan sempat melongok sejumlah kamar termasuk kamar tidur calon pengantin putra. Kamar-kamar itu dulunya juga pernah menjadi tempat tinggal Sultan sewaktu muda.
Seusai berkunjunga selama 10 menit, Sultan bersama GKR Hemas dan rombongan menuju kompleks Keputren. Di Keputren Sultan meninjau pelaksanan acara midodareni yang akan berlangsung hingga pukul 24.00 WIB.
Peristiwa itu terjadi saat Sri Sultan Hamengku Buwono dan GKR Hemas datang berkunjung ke kompleks Dalem Kesatriyan tempat calon pengantin pria menginap. Sultan datang bersama rombongan seusai melaksanakan prosesi Tantingan kepada GKR Maduretno.
"Kowe arep titip apa karo calon bojomu?" tanya Sultan kepada calon menantunya sambil tersenyum.
Setelah menyampaikan sembah, Yun Prasetyo Hadi yang mendapat gelar KRT Purbodiningrat itu langsung berdiri dan mengambil sekuntum bunga White Lily yang ada di dekatnya. Bunga impor dari Belanda yang menjadi dekorasi pernikahan itu kemudian diserahkan kepada GRAj Wijareni adik bungsu calon pengantin putri. Bunga itu akan diserahkan kepada calon pengantin putri yang sedang berada di Keputren untuk melaksanakan acara midodareni.
Di Dalem Kesatriyan, Sultan sempat melongok sejumlah kamar termasuk kamar tidur calon pengantin putra. Kamar-kamar itu dulunya juga pernah menjadi tempat tinggal Sultan sewaktu muda.
Seusai berkunjunga selama 10 menit, Sultan bersama GKR Hemas dan rombongan menuju kompleks Keputren. Di Keputren Sultan meninjau pelaksanan acara midodareni yang akan berlangsung hingga pukul 24.00 WIB.
Sultan Tanya Sekali Lagi Putrinya Sebelum Nikah
Yogyakarta, Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X menanyakan sekali lagi kepada putrinya, GRAj Nurkamnari Dewi (GKR Maduretno) sebelum dinikahkan dengan KRT Purbodiningrat pada hari Jumat 9 Mei 2008. Calon mempelai putri menyatakan bersedia dan sanggup.
"Anak ingsun Gusti Kanjeng Ratu Maduretno, apa sira saguh dhaup karo abdi ingsun, Kanjeng Raden Tumenggung Purbodiningrat?" tanya Sultan kepada putri ketiganya itu.
"Inggih," jawab Maduretno singkat diikuti sembah dan mencium lutut kanan ayahandanya.
Dalam acara tantingan atau menanyakan kepada calon pengantin itu berlangsung di Tratag Bangsal Prabayekso Keraton Yogyakarta itu, Sultan mengenakan baju takwa warna biru motif kembang. Sedang GKR Hemas mengenakan kebaya brokat warna ungu.
Calon pengantin mengenakan kebaya brokat warna krem. Dia hadir di Tratag Bangsal Prabayeksa didampingi kedua kakaknya GKR Pembayun dan GKR Condrokirono.
Sultan bersama Hemas duduk menghadap ke timur. Sedang calon pengantin putri diapit kedua kakaknya menghadap ke utara.
Seusai menanyakan kepada putrinya, Sultan kemudian meminta abdi dalem pamethakan (penghulu) kraton dari abdi dalem Kaji Selusin yang dipimpin KRT H. Kamaludiningrat untuk memanjatkan doa bersama.
Selanjutnya petugas dari KUA Kecamatan Kraton, HM Mukhlis memeriksa kelengkapan surat administrasi pernikahan untuk pencatatan. Petugas pun menyatakan lengkap, sehingga keesokan harinya Sultan akan menikahkan langsung dengan KRT Purbodiningrat di Masjid Panepen Kompleks kraton pada pukul 06.30 WIB.
"Anak ingsun Gusti Kanjeng Ratu Maduretno, apa sira saguh dhaup karo abdi ingsun, Kanjeng Raden Tumenggung Purbodiningrat?" tanya Sultan kepada putri ketiganya itu.
"Inggih," jawab Maduretno singkat diikuti sembah dan mencium lutut kanan ayahandanya.
Dalam acara tantingan atau menanyakan kepada calon pengantin itu berlangsung di Tratag Bangsal Prabayekso Keraton Yogyakarta itu, Sultan mengenakan baju takwa warna biru motif kembang. Sedang GKR Hemas mengenakan kebaya brokat warna ungu.
Calon pengantin mengenakan kebaya brokat warna krem. Dia hadir di Tratag Bangsal Prabayeksa didampingi kedua kakaknya GKR Pembayun dan GKR Condrokirono.
Sultan bersama Hemas duduk menghadap ke timur. Sedang calon pengantin putri diapit kedua kakaknya menghadap ke utara.
Seusai menanyakan kepada putrinya, Sultan kemudian meminta abdi dalem pamethakan (penghulu) kraton dari abdi dalem Kaji Selusin yang dipimpin KRT H. Kamaludiningrat untuk memanjatkan doa bersama.
Selanjutnya petugas dari KUA Kecamatan Kraton, HM Mukhlis memeriksa kelengkapan surat administrasi pernikahan untuk pencatatan. Petugas pun menyatakan lengkap, sehingga keesokan harinya Sultan akan menikahkan langsung dengan KRT Purbodiningrat di Masjid Panepen Kompleks kraton pada pukul 06.30 WIB.
Kedua Mempelai Ikuti Siraman
Yogyakarta - Prosesi pernikahan putri ketiga Raja Keraton Yogyakarta, Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurkamnari Dewi dengan KRT Purbodiningrat dimulai. Kedua calon mempelai melakukan siraman di Keputren dan Gedhong Kesatriyan kompleks keraton
Sebelum acara siraman dimulai, pukul 09.00 petugas di Keputren mengambil berbagai perlengkapan siraman dan baju kedua calon pengantin. Perlengkapan calon pengantin putri dibawa dari Keraton Kilen ke Keputren. Sedang untuk calon pria di bawa ke Kesatriyan. Setelah selesai pada pukul 09.45 GKR Hemas, GRAj Nurkmanari Dewi, GRAj Nur Abra Juwita dan GRAj Wijareni bersama rombongan menuju Keputren. GKR Hemas mengenakan kebaya brokat warna jingga. Sedang calon mempelai putri mengenakan kebaya hijau muda.
Di Keputren, rombongan disambut GKR Pembayun untuk beristirahat dan mempersiapkan uba rampe acara siraman. Setelah lengkap, acara siraman dimulai pukul 10.00 WIB. Upacara siraman dilakukan oleh 9 orang yang dipimpin oleh GKR Hemas.
Siraman pertama kali dilakukan oleh GKR Hemas dengan menyiramkan air di bagian rambut bagian calon pengantin dan bagian pundak. Setelah itu calon pengantin membasuh muka dari air yang diberikan oleh Hemas. Urutan kedua adalah calon besan Hj Hadayati dilanjutkan Ibu Utaryo. Urutan keempat GBRAy Moerdokusumo, GBRAy Rio Kusumo, GBRAy Benewo, GBRAy Darmo Kusumo, Ny Monik Sudjatmoko dan terakhir Ibu Hj Kamaludiningrat.
Upacara siraman berlangsung lebih kurang 20 menit. Seusai siraman, Hemas kemudian memecahkan kendi berisi air di depan putrinya yang akan menikah pada hari Jumat 9 Mei 2008. Saat memecah kendi, Hemas berdoa agar semua prosesi berjalan lancar dan aura atau inner beauty sang calon mempelai putri juga bersinar terang. "Semoga lancar dan bertambah cantik," kata Hemas seusai memecah kendi.
Seusai siraman, GKR Hemas bersama Hj Handayati dan rombongan menuju Kagungan Dalem Kesatriyan untuk melakukan siraman kepada calon pengantin putra KRT Purbodiningrat.
Prosesi siraman pengantin putra, KRT Purbodiningrat dimulai pukul 11.00 WIB. Prosesi siraman putra juga dilakukan oleh ibunda Purbodiningrat, Hj Handayati Djuwanto, GKR Hemas, GBRAy Moerdokusumo dan lain-lain yang berjumlah 9 orang seperti yang dilakukaan saat siraman putri.
Turut menyaksikan jalannya acara siraman, kakak calon pengantin putra, R. Didik Nugrahanto, adik Sultan, KGPH Hadiwinoto, GBPH Prabukusumo dan lain-lain. Selain siraman di Kesatriyan, calon pengantin putra menjalani Nyantri. Saat nyantri, pengantin pria yang mengenakan baju Atela putih dan kain Picis Purbonegoro.
Menurut KRT Pujaningrat, prosesi nyantri bisa diartikan sebagai proses menjalani pingitan sebelum memasuki prosesi-prosesi berikutnya. "Di zaman dulu, pingitan untuk calon pengantin pria ini berlangsung selama 40 hari. Sekarang dipersingkat," kata KRT Pujaningrat, Pengageng II Kawedanan Hageng Sri Wandawa Keraton Yogya ini.
Sebelum acara siraman dimulai, pukul 09.00 petugas di Keputren mengambil berbagai perlengkapan siraman dan baju kedua calon pengantin. Perlengkapan calon pengantin putri dibawa dari Keraton Kilen ke Keputren. Sedang untuk calon pria di bawa ke Kesatriyan. Setelah selesai pada pukul 09.45 GKR Hemas, GRAj Nurkmanari Dewi, GRAj Nur Abra Juwita dan GRAj Wijareni bersama rombongan menuju Keputren. GKR Hemas mengenakan kebaya brokat warna jingga. Sedang calon mempelai putri mengenakan kebaya hijau muda.
Di Keputren, rombongan disambut GKR Pembayun untuk beristirahat dan mempersiapkan uba rampe acara siraman. Setelah lengkap, acara siraman dimulai pukul 10.00 WIB. Upacara siraman dilakukan oleh 9 orang yang dipimpin oleh GKR Hemas.
Siraman pertama kali dilakukan oleh GKR Hemas dengan menyiramkan air di bagian rambut bagian calon pengantin dan bagian pundak. Setelah itu calon pengantin membasuh muka dari air yang diberikan oleh Hemas. Urutan kedua adalah calon besan Hj Hadayati dilanjutkan Ibu Utaryo. Urutan keempat GBRAy Moerdokusumo, GBRAy Rio Kusumo, GBRAy Benewo, GBRAy Darmo Kusumo, Ny Monik Sudjatmoko dan terakhir Ibu Hj Kamaludiningrat.
Upacara siraman berlangsung lebih kurang 20 menit. Seusai siraman, Hemas kemudian memecahkan kendi berisi air di depan putrinya yang akan menikah pada hari Jumat 9 Mei 2008. Saat memecah kendi, Hemas berdoa agar semua prosesi berjalan lancar dan aura atau inner beauty sang calon mempelai putri juga bersinar terang. "Semoga lancar dan bertambah cantik," kata Hemas seusai memecah kendi.
Seusai siraman, GKR Hemas bersama Hj Handayati dan rombongan menuju Kagungan Dalem Kesatriyan untuk melakukan siraman kepada calon pengantin putra KRT Purbodiningrat.
Prosesi siraman pengantin putra, KRT Purbodiningrat dimulai pukul 11.00 WIB. Prosesi siraman putra juga dilakukan oleh ibunda Purbodiningrat, Hj Handayati Djuwanto, GKR Hemas, GBRAy Moerdokusumo dan lain-lain yang berjumlah 9 orang seperti yang dilakukaan saat siraman putri.
Turut menyaksikan jalannya acara siraman, kakak calon pengantin putra, R. Didik Nugrahanto, adik Sultan, KGPH Hadiwinoto, GBPH Prabukusumo dan lain-lain. Selain siraman di Kesatriyan, calon pengantin putra menjalani Nyantri. Saat nyantri, pengantin pria yang mengenakan baju Atela putih dan kain Picis Purbonegoro.
Menurut KRT Pujaningrat, prosesi nyantri bisa diartikan sebagai proses menjalani pingitan sebelum memasuki prosesi-prosesi berikutnya. "Di zaman dulu, pingitan untuk calon pengantin pria ini berlangsung selama 40 hari. Sekarang dipersingkat," kata KRT Pujaningrat, Pengageng II Kawedanan Hageng Sri Wandawa Keraton Yogya ini.
Rabu, 07 Mei 2008
GKR Hemas Pimpin Gladi Resik
Yogyakarta, Istri Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas bersama adik-adik Sultan memimpin acara gladi resik pernikahan putri ketiganya.
Gladi resik yang dilakukan diantaranya pelaksanaan acara panggih (temu) mempelai antara Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurkamnari Dewi dengan Yun Prasetyo Hadi yang bergelar KRT Purbodiningrat.
Acara panggih yang digelar pada hari Jumat 9 Mei pukul 09.00 WIB akan dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta istri, mantan Presiden BJ Habibie dan sejumlah tamu VVIP lainnya.
Acara gladi resik hari ini, Rabu (7/5/2008) dipimpin langsung GKR Hemas dibantu adik Sultan, KGPH Hadiwinoto dan GBPH Joyokusumo. Selan itu kakak sulung calon mempelai putri, GKR Pembayun bersama suami KPH Wironegoro turut serta mendampingi kedua calon mempelai.
Gladi resik dimulai dengan datangnya calon mempelai pria didampingi KPH Wironegoro bersama rombongan yang langsung disambut KGPH Hadiwinoto. Acara adat Kraton Yogyakarta secara lengkap itu dilanjutkan dengan dipertemukannya kedua dihadapan Sultan HB X dan GKR Hemas serta tamu undangan.
Meski baru acara gladi resik, kedua calon mempelai tampak kikuk. Namun setelah dilakukan beberapa kali ulangan dibantu panitia yang bertugas, akhirnya berjalan lancar. Bahkan GKR Hemas maupun KGPH Hadiwinoto sempat mengajak bercanda keduanya agar tidak grogi. Sebab kedua sudah lama kenal bukan seperti adat dahulu karena kedua calon tidak saling mengenal dan baru kenal saat akan dipertemukan.
Adik Sultan, GBPH Joyokusumo mengatakan ada beberapa bagian acara adat yang tertutup sehingga wartawan tidak diperkenankan meliput kecuali panitia yang bertugas. Beberapa acara itu diantaranya ijab kabul yang dilakukan langsung oleh Sultan kepada Yun Prasetyo Hadi di Masjid Panepen, acara siraman putri dan kakung/pria, acara tantingan, acara tampa kaya dan dhahar klimah.
"Ini kami lakukan demi kekhidmatan acara. Sedang acara panggih yang akan dihadiri presiden terbuka dan dapat disaksikan," pungkas dia.
Gladi resik yang dilakukan diantaranya pelaksanaan acara panggih (temu) mempelai antara Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurkamnari Dewi dengan Yun Prasetyo Hadi yang bergelar KRT Purbodiningrat.
Acara panggih yang digelar pada hari Jumat 9 Mei pukul 09.00 WIB akan dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta istri, mantan Presiden BJ Habibie dan sejumlah tamu VVIP lainnya.
Acara gladi resik hari ini, Rabu (7/5/2008) dipimpin langsung GKR Hemas dibantu adik Sultan, KGPH Hadiwinoto dan GBPH Joyokusumo. Selan itu kakak sulung calon mempelai putri, GKR Pembayun bersama suami KPH Wironegoro turut serta mendampingi kedua calon mempelai.
Gladi resik dimulai dengan datangnya calon mempelai pria didampingi KPH Wironegoro bersama rombongan yang langsung disambut KGPH Hadiwinoto. Acara adat Kraton Yogyakarta secara lengkap itu dilanjutkan dengan dipertemukannya kedua dihadapan Sultan HB X dan GKR Hemas serta tamu undangan.
Meski baru acara gladi resik, kedua calon mempelai tampak kikuk. Namun setelah dilakukan beberapa kali ulangan dibantu panitia yang bertugas, akhirnya berjalan lancar. Bahkan GKR Hemas maupun KGPH Hadiwinoto sempat mengajak bercanda keduanya agar tidak grogi. Sebab kedua sudah lama kenal bukan seperti adat dahulu karena kedua calon tidak saling mengenal dan baru kenal saat akan dipertemukan.
Adik Sultan, GBPH Joyokusumo mengatakan ada beberapa bagian acara adat yang tertutup sehingga wartawan tidak diperkenankan meliput kecuali panitia yang bertugas. Beberapa acara itu diantaranya ijab kabul yang dilakukan langsung oleh Sultan kepada Yun Prasetyo Hadi di Masjid Panepen, acara siraman putri dan kakung/pria, acara tantingan, acara tampa kaya dan dhahar klimah.
"Ini kami lakukan demi kekhidmatan acara. Sedang acara panggih yang akan dihadiri presiden terbuka dan dapat disaksikan," pungkas dia.
Selasa, 06 Mei 2008
Karyawan Bandara Yogya Baru Mogok Hari Jumat
Yogyakarta - Serikat Pekerja PT Angkasa Pura I Cabang Yogyakarta memutuskan mogok kerja pada Jumat 9 Mei mendatang selama 24 jam.
Hal ini diungkapkan oleh Pjs Serikat Pekerja AP Cabang Yogya, Djuhidin Faruck, kepada wartawan di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, Rabu (7/5/2008).
"Seperti seruan Serikat Pekerja Angkasa Pura Pusat mogok kerja akan dilakukan tiga hari mulai hari ini. Namun kami memutuskan mogok dilakukan pada Jumat selama 24 jam," ujar Faruck.
Untuk hari ini, kata dia, tidak ada pemogokan. Sedang karyawan yang tidak diminta mogok yakni di bagian ATC (air traffic control). Sebab jika mereka juga ikut mogok, akan mengganggu penerbangan dan keselamatan.
Saat ini, pihaknya bersama pengurus yang lain sudah menyebarkan selebaran yang berisi seruan untuk mogok.
Saat ditanya mengenai ancaman dari manajemen akan adanya sanksi bila mogok itu menganggu penerbangan, pihaknya tetap berpedoman pada UU Ketenagakerjaan bahwa mogok itu adalah sah dan sesuai UU. "Bila manajemen khawatir adalah wajar. Namun karyawan juga punya hak untuk melakukan mogok," kata Faruck.
Faruck menambahkan, pihaknya tidak bisa memasang target mengenai berapa peserta aksi mogok besok. Namun semua anggota serikat pekerja mulai hari ini terus menyosialisasikan untuk melakukan mogok pada Hari Jumat.
Hal ini diungkapkan oleh Pjs Serikat Pekerja AP Cabang Yogya, Djuhidin Faruck, kepada wartawan di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, Rabu (7/5/2008).
"Seperti seruan Serikat Pekerja Angkasa Pura Pusat mogok kerja akan dilakukan tiga hari mulai hari ini. Namun kami memutuskan mogok dilakukan pada Jumat selama 24 jam," ujar Faruck.
Untuk hari ini, kata dia, tidak ada pemogokan. Sedang karyawan yang tidak diminta mogok yakni di bagian ATC (air traffic control). Sebab jika mereka juga ikut mogok, akan mengganggu penerbangan dan keselamatan.
Saat ini, pihaknya bersama pengurus yang lain sudah menyebarkan selebaran yang berisi seruan untuk mogok.
Saat ditanya mengenai ancaman dari manajemen akan adanya sanksi bila mogok itu menganggu penerbangan, pihaknya tetap berpedoman pada UU Ketenagakerjaan bahwa mogok itu adalah sah dan sesuai UU. "Bila manajemen khawatir adalah wajar. Namun karyawan juga punya hak untuk melakukan mogok," kata Faruck.
Faruck menambahkan, pihaknya tidak bisa memasang target mengenai berapa peserta aksi mogok besok. Namun semua anggota serikat pekerja mulai hari ini terus menyosialisasikan untuk melakukan mogok pada Hari Jumat.
Tak Ada Pemogokan di Bandara Yogya
Yogyakarta - Meski masuk dalam wilayah kekuasaan PT Angkasa Pura I, Bandara Adi Sucipto di Yogyakarta hari ini tidak ada pemogokan dari karyawan. Aktivitas penerbangan normal dan karyawan pun bekerja seperti biasa.
Di pintu masuk keberangkatan, pintu kedatangan serta di depan loket penjualan tiket dipenuhi ratusan penumpang. Kondisi tampak normal dan terkendali. Namun jika ada karyawan yang melakukan aksi mogok, pengelola bandara tak segan-segan akan memberi sanksi.
"Kalau ada yang mogok dan sampai mengganggu penerbangan, itu bisa dikenai sanksi bahkan akan kami tangkap," ujar Asisten Manager PT Angkasa Pura I Hanad Prayitno kepada wartawan di depan pintu keberangkatan Bandara Adi Sutjipto, Rabu (7/5/2008).
Hanad menjamin, hingga Jumat 9 Mei mendatang tidak akan ada pemogokan. "Sehingga aktivitas penerbangan dijamin lancar," kata Hanad.
Adanya keterlambatan kedatangan pesawat di Bandara Adi Sucipto sejak pukul 06.00-07.00 WIB hari ini, lanjut Hanad, akibat cuaca di sekitar Yogya yang berkabut sehingga jarak pandangnya tidak normal.
"Visibilitinya tidak normal. Sehingga diputuskan beberapa peswat delay. Seperti Garuda dan Mandala. Namun mulai pukul 07.20 WIB, sudah normal kembali," kata dia.
Pesawat yang delay di antaranya terjadi pada pukul 06.10 WIB, 06.20 WIB, 06.40 WIB dan 06.45 WIB.
Di pintu masuk keberangkatan, pintu kedatangan serta di depan loket penjualan tiket dipenuhi ratusan penumpang. Kondisi tampak normal dan terkendali. Namun jika ada karyawan yang melakukan aksi mogok, pengelola bandara tak segan-segan akan memberi sanksi.
"Kalau ada yang mogok dan sampai mengganggu penerbangan, itu bisa dikenai sanksi bahkan akan kami tangkap," ujar Asisten Manager PT Angkasa Pura I Hanad Prayitno kepada wartawan di depan pintu keberangkatan Bandara Adi Sutjipto, Rabu (7/5/2008).
Hanad menjamin, hingga Jumat 9 Mei mendatang tidak akan ada pemogokan. "Sehingga aktivitas penerbangan dijamin lancar," kata Hanad.
Adanya keterlambatan kedatangan pesawat di Bandara Adi Sucipto sejak pukul 06.00-07.00 WIB hari ini, lanjut Hanad, akibat cuaca di sekitar Yogya yang berkabut sehingga jarak pandangnya tidak normal.
"Visibilitinya tidak normal. Sehingga diputuskan beberapa peswat delay. Seperti Garuda dan Mandala. Namun mulai pukul 07.20 WIB, sudah normal kembali," kata dia.
Pesawat yang delay di antaranya terjadi pada pukul 06.10 WIB, 06.20 WIB, 06.40 WIB dan 06.45 WIB.
1 Ton Bunga Disiapkan Untuk Pernikahan Putri Sultan
Yogyakarta, Sekitar satu ton bunga disiapkan untuk pernikahan putri ke tiga Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X. Ribuan tangkai bunga impor dan lokal dari Indonesia itu akan dipakai menghias berbagai tempat untuk pernikahan Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurkamnari Dewi dengan Yun Prasetyo Hadi.
Berdasarkan pantauan detikcom hari ini, berbagai jenis bunga hias terus berdatangan di Kraton Yogyakarta sejak tanggal 4 Mei 2008. Aneka bunga itu ditempatkan di salah satu ruangan di dekat kompleks Kestarian kraton. Bunga-bunga itu akan menjadi hiasan dekorasi acara pernikahan putri ketiga Sultan yang beralngsung pada tanggal 8-9 Mei 2008.
Meryz (40) dari Emerys-Zinnia Florist Jakarta kepada wartawan mengatakan 1 ton bunga hias itu didatangkan dari perkebunan di Jawa Barat dan impor dari Belanda. Bunga impor itu diantaranya mawar putih, Lily, Baby Brace, anyelir, sedap malam dll. Sedang bunga lokal diantaranya anggrek bulan, anthurium, daun pillo, daun pakis, daun parikesit dan daun walisongo.
Menurut dia, bunga-bunga sebanyak 1 ton itu akan dipakai untuk menghias di kompleks keputren atau tempat calon mempelai wanita, kompleks kestraian tempat calon mempelai pria, Bangsal Manis, Bangsal Proboyekso dan tempat-tempat lain yang dipakai untuk resepsi pernikahan.
"Khusus daun waliosongo akan kita tempatkan di centerpiece yakni meja khusus tamu-tamu VVIP. Di Bangsal manis juga akan kita tempatkan rangkaian dekorasi dengan bahan bumbu-bumbu dapur," kata Merys.
Dia mengatakan total jumlah pegawai yang bertugas membuat dekorasi pernikahan sebanyak 100-an. Mereka terus bekerja siang hingga malam hari, agar sebelum hari Kamis sudah selesai.
"Sebelum acara siraman semua harus selesai. Saat ini sudah 60 persen selesai. Bunga yang sudah jadi kita simpan ditempat yang sejuk di ruang ber-AC, sedang untuk bunga anggrek akan disirami air sehari 3 kali," katanya.
Berdasarkan pantauan detikcom hari ini, berbagai jenis bunga hias terus berdatangan di Kraton Yogyakarta sejak tanggal 4 Mei 2008. Aneka bunga itu ditempatkan di salah satu ruangan di dekat kompleks Kestarian kraton. Bunga-bunga itu akan menjadi hiasan dekorasi acara pernikahan putri ketiga Sultan yang beralngsung pada tanggal 8-9 Mei 2008.
Meryz (40) dari Emerys-Zinnia Florist Jakarta kepada wartawan mengatakan 1 ton bunga hias itu didatangkan dari perkebunan di Jawa Barat dan impor dari Belanda. Bunga impor itu diantaranya mawar putih, Lily, Baby Brace, anyelir, sedap malam dll. Sedang bunga lokal diantaranya anggrek bulan, anthurium, daun pillo, daun pakis, daun parikesit dan daun walisongo.
Menurut dia, bunga-bunga sebanyak 1 ton itu akan dipakai untuk menghias di kompleks keputren atau tempat calon mempelai wanita, kompleks kestraian tempat calon mempelai pria, Bangsal Manis, Bangsal Proboyekso dan tempat-tempat lain yang dipakai untuk resepsi pernikahan.
"Khusus daun waliosongo akan kita tempatkan di centerpiece yakni meja khusus tamu-tamu VVIP. Di Bangsal manis juga akan kita tempatkan rangkaian dekorasi dengan bahan bumbu-bumbu dapur," kata Merys.
Dia mengatakan total jumlah pegawai yang bertugas membuat dekorasi pernikahan sebanyak 100-an. Mereka terus bekerja siang hingga malam hari, agar sebelum hari Kamis sudah selesai.
"Sebelum acara siraman semua harus selesai. Saat ini sudah 60 persen selesai. Bunga yang sudah jadi kita simpan ditempat yang sejuk di ruang ber-AC, sedang untuk bunga anggrek akan disirami air sehari 3 kali," katanya.
Puluhan Massa di Yogya Tolak Pembubaran Ahmadiyah
Puluhan Massa di Yogya Tolak Pembubaran Ahmadiyah
Bagus Kurniawan - detikcom
Yogyakarta, Puluhan massa dari berbagai elemen di Yogyakarta menggelar aksi damai menolak pembubaran Ahmadiyah. Mereka juga menuntut pemerintahan SBY segera menyelesaikan status Ahmadiyah.
Aksi damai menolak kekerasan yang dilakukan Aliansi Jogja untuk Indonesia Damai itu dimulai sekitar pukul 16.00 WIB. Aksi diawali dari Taman Parkir Jl Abu Bakar Ali menuju gedung DPRD DIY di Jl Malioboro hingga di depan Istana Negara Gedung Agung Yogyakarta di Jl Ahmad Yani.
Di halaman DPRD DIY, massa sempat menggelar orasinya. Namun tidak ada satupun anggota dewan yang menemuinya karena sebagian besar sudah pulang.
Koordinator aksi Subkhi Ridho saat berorasi di halaman DPRD DIY menyatakan pihaknya meminta pemerintahan SBY segera menyelesaikan status Ahmadiyah. Mereka juga menolak dikeluarkannya SKB 3 menteri sebab SKB tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum serta segera dilakukan reformasi di tubuh kejaksaan agung.
Dia mengatakan pihaknya juga mengecam aksi kekerasan terhadap warga Ahmadiyah yang terjadi akhir-akhir di beberapa daerah seperti di Jawa Barat. Kekerasan berkedok dan berdalih agama harus dihentikan. "Cara-cara kekerasan harus dihentikan. Aparat harus menindak tegas pelaku kekerasan berkedok agama," kata Ridho.
Setelah melakukan orasi selama lebih kurang 30 menit, massa meneruskan aksinya hingga Gedung Agung Yogyakarta. Meski sempat diguyur hujan deras, massa terus berjalan di sepanjang Jl Malioboro. Aparat Poltabes terus menjaga ketat hingga aksi selesai, agar tidak terjadi gessekan dengan kelompok lain yang mendukung pembubaran Ahmadiyah.
Bagus Kurniawan - detikcom
Yogyakarta, Puluhan massa dari berbagai elemen di Yogyakarta menggelar aksi damai menolak pembubaran Ahmadiyah. Mereka juga menuntut pemerintahan SBY segera menyelesaikan status Ahmadiyah.
Aksi damai menolak kekerasan yang dilakukan Aliansi Jogja untuk Indonesia Damai itu dimulai sekitar pukul 16.00 WIB. Aksi diawali dari Taman Parkir Jl Abu Bakar Ali menuju gedung DPRD DIY di Jl Malioboro hingga di depan Istana Negara Gedung Agung Yogyakarta di Jl Ahmad Yani.
Di halaman DPRD DIY, massa sempat menggelar orasinya. Namun tidak ada satupun anggota dewan yang menemuinya karena sebagian besar sudah pulang.
Koordinator aksi Subkhi Ridho saat berorasi di halaman DPRD DIY menyatakan pihaknya meminta pemerintahan SBY segera menyelesaikan status Ahmadiyah. Mereka juga menolak dikeluarkannya SKB 3 menteri sebab SKB tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum serta segera dilakukan reformasi di tubuh kejaksaan agung.
Dia mengatakan pihaknya juga mengecam aksi kekerasan terhadap warga Ahmadiyah yang terjadi akhir-akhir di beberapa daerah seperti di Jawa Barat. Kekerasan berkedok dan berdalih agama harus dihentikan. "Cara-cara kekerasan harus dihentikan. Aparat harus menindak tegas pelaku kekerasan berkedok agama," kata Ridho.
Setelah melakukan orasi selama lebih kurang 30 menit, massa meneruskan aksinya hingga Gedung Agung Yogyakarta. Meski sempat diguyur hujan deras, massa terus berjalan di sepanjang Jl Malioboro. Aparat Poltabes terus menjaga ketat hingga aksi selesai, agar tidak terjadi gessekan dengan kelompok lain yang mendukung pembubaran Ahmadiyah.
Senin, 05 Mei 2008
Jambu Mete Varietas Meteor Yogya Diluncurkan
Yogyakarta, Sampai sekarang masih banyak orang berpikir bila jambu mete itu tidak perlu dibudidayakan. Tanaman keras yang biasa tumbuh di daerah tandus itu ternyata bisa dibudidayakan dengan baik sehingga membuka peluang ekspor.
Jambu mete saat ini banyak ditanam di Provinsi DIY, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, NTB, NTT, Sulawesi Tenggara, Maluku dll. Komoditi jambu mete tidak hanya memberikan nilai tambah bagi petani saja tapi juga memberikan devisa kepada negara sebesar 56,6 miliar USD dengan volume sekitar 63 ribu ton/tahun.
Prospek pasar untuk produk jambu mete dan produk ikutannya di masa depan masih cukup luas, baik sebagai bahan baku untuk makanan maupun sebagai bahan baku industri. Secara umum peluang pasar mencakup dalam negeri maupun pasar luar negeri.
Permintaan akan mete setiap tahunnya semakin meningkat terutama negara pengimpor mete utama seperti Amerika Serikat, Uni Eropa khususnya Inggris, Jepang dan Korea Selatan. Sedang pasar dalam negeri juga mengalami pertumbuhan siginifikan dengan rata-rata pertumbuhan konsumsi sebesar 12,74 ton/tahun.
Direktur Jenderal (Dirjen) Perkebunan Departemen Kehutanan dan Perkebunan (Dephutbun) Ir. Achmad Mangga Barani mengatakan berdasarkan hasil sidang pelepasan varietas oleh Komisi Benih Nasional pada tanggal 23 Nopember 2007, jambu mete varietas Meteor Yogya ini dinyatakan lulus dan memenuhi persyaratan sebagai benih unggul nasional jenis jambu mete.
Spesifikasi produk jambu mete Provinsi DIY ini dibanding varietas lainnya memiliki spesifikasi dalam hal produksi glondong per kilogram, rendemen kacang mete, kadar protein serta rasa kacang mete yang lebih gurih dan manis
"Varietas meteor Yogya kami harapkan bisa meningkatkan produksinya sebab ekspor mete kita masih berwujud produk primer berupa gelondongan mete dan kacang mete," katanya.
Menurut dia, varietas ini tidak hanya dikembangkan oleh petani di DIY saja akan tetapi pasti juga para petani di seluruh Indonesia. Sebab varietas Meteor yogya cukup sesuai dengan karakteristiknya bila dibudidayakan di daerah lain.
Di Provinsi DIY jambu mete yang ditanam oleh masyarakat sejak tahun 1920 dan dikembangkan oleh pemerintah mulai tahun 1970 an, saat ini luasannya tercatat telah mencapai 21.808 hektar yang tersebar di Kabupaten Gunungkidul seluas 18.080 hektar, Kabupaten Bantul 3.331 hektar, sebagian kecil berada di Kabupaten Kulonprogo dan Sleman.
Potensi produksi benih yang dihasilkan setiap tahun mencapai 34,9 ton dari jumlah tanaman 4.800 batang yang ditetapkan dan dimilki oleh 6 kelompok tani. Adapun pengembangan jambu mete di Provinsi DIY sampai dengan tahun 2007 ini seluas 21.808 hektar dan penetapan Blok Penghasil Tinggi (BPT) jambu mete menjadi benih unggul nasional seluas 40 hektar.
Jambu mete saat ini banyak ditanam di Provinsi DIY, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, NTB, NTT, Sulawesi Tenggara, Maluku dll. Komoditi jambu mete tidak hanya memberikan nilai tambah bagi petani saja tapi juga memberikan devisa kepada negara sebesar 56,6 miliar USD dengan volume sekitar 63 ribu ton/tahun.
Prospek pasar untuk produk jambu mete dan produk ikutannya di masa depan masih cukup luas, baik sebagai bahan baku untuk makanan maupun sebagai bahan baku industri. Secara umum peluang pasar mencakup dalam negeri maupun pasar luar negeri.
Permintaan akan mete setiap tahunnya semakin meningkat terutama negara pengimpor mete utama seperti Amerika Serikat, Uni Eropa khususnya Inggris, Jepang dan Korea Selatan. Sedang pasar dalam negeri juga mengalami pertumbuhan siginifikan dengan rata-rata pertumbuhan konsumsi sebesar 12,74 ton/tahun.
Direktur Jenderal (Dirjen) Perkebunan Departemen Kehutanan dan Perkebunan (Dephutbun) Ir. Achmad Mangga Barani mengatakan berdasarkan hasil sidang pelepasan varietas oleh Komisi Benih Nasional pada tanggal 23 Nopember 2007, jambu mete varietas Meteor Yogya ini dinyatakan lulus dan memenuhi persyaratan sebagai benih unggul nasional jenis jambu mete.
Spesifikasi produk jambu mete Provinsi DIY ini dibanding varietas lainnya memiliki spesifikasi dalam hal produksi glondong per kilogram, rendemen kacang mete, kadar protein serta rasa kacang mete yang lebih gurih dan manis
"Varietas meteor Yogya kami harapkan bisa meningkatkan produksinya sebab ekspor mete kita masih berwujud produk primer berupa gelondongan mete dan kacang mete," katanya.
Menurut dia, varietas ini tidak hanya dikembangkan oleh petani di DIY saja akan tetapi pasti juga para petani di seluruh Indonesia. Sebab varietas Meteor yogya cukup sesuai dengan karakteristiknya bila dibudidayakan di daerah lain.
Di Provinsi DIY jambu mete yang ditanam oleh masyarakat sejak tahun 1920 dan dikembangkan oleh pemerintah mulai tahun 1970 an, saat ini luasannya tercatat telah mencapai 21.808 hektar yang tersebar di Kabupaten Gunungkidul seluas 18.080 hektar, Kabupaten Bantul 3.331 hektar, sebagian kecil berada di Kabupaten Kulonprogo dan Sleman.
Potensi produksi benih yang dihasilkan setiap tahun mencapai 34,9 ton dari jumlah tanaman 4.800 batang yang ditetapkan dan dimilki oleh 6 kelompok tani. Adapun pengembangan jambu mete di Provinsi DIY sampai dengan tahun 2007 ini seluas 21.808 hektar dan penetapan Blok Penghasil Tinggi (BPT) jambu mete menjadi benih unggul nasional seluas 40 hektar.
Sehari 1.174 Orang Mati karena Rokok
Yogyakarta, Rokok merupakan salah satu penyebab kematian utama di dunia dan merupakan satu-satunya produk legal yang membunuh sepertiga hingga setengah penggunanya dengan korbannya rata-rata meninggal 15 tahun lebih cepat. Dalam sehari diperkiarakan 1.174 orang mati akibat rokok.
Hal itu diungkapkan Yayi Suryo Prabandari, PhD, peneliti Pusat Kajian Bioetika dan Humaniora Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM, di Fakultas Kedokteran UGM, Senin (5/5/2008).
Dia mengutip laporan WHO, tahun 2008 diperkirakan 5,4 juta orang meninggal per tahunnya karena rokok. Sedangkan di Indonesia sendiri menurut laporan Badan Khusus Pengendalian Tembakau Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (TCSC- IAKMI) diperkirakan 427.948 kematian pertahunnya atau dalam sehari ada sekitar 1.172 orang meninggal karena rokok.
“Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa penghentian rokok merupakan suatu hal u\yang wajib dilakukan. Berbagai penelitian menunjukkan 70-80 persen perokok sebenarnya ingin berhenti merokok, namun berbagai faktor termasuk social pressure yang kuat mempersulitr terwujudnya hal ini,” katanya.
Menurut dia, saat ini rokok merupakan salah satu penyebab kematian utama di dunia. Bahkan disebutkan oleh Yayi, sekarang rokok merupakan mesin pembunuh yang legal di dunia ini. Meski kampanye anti rokok terus digencarkan namun jumlah perokok setiap tahun kian bertambah.
Hasil penelitian yang dilakukan pada remaja perokok di Yogyakarta katanya, terjadi peningkatan yang signifikan. Penelitian tahun 1995 jumlah perokok pemula pada laki-laki hanya sekitar 45 persen. Sedang penelitian tahun 2000 meningkat menjadi 60 persen. “Untuk tahun ini baru akan kami lakukan,” paparnya.
Lebih memprihatinkan lagi, kata Yayi, kecenderungan merokok di kalangan remaja perempuan di Jogjakarta juga menunjukkan peningkatan yang besar. Yakni, dari 5 persen pada tahun 1995 lalu meningkat menjadi 15 persen pada tahun 2000.
“Mungkin karena saat ini merokok untuk kalangan wanita sudah tidak menjadi hal yang tabu,” urainya.
Yayi menambahkan, peningkatan jumlah perokok di kalangan remaja ini salah satunya disebabkan gencarnya promosi perusahaan rokok di berbagai media. Seperti baliho, pamflet dan iklan di media cetak maupun televisi. “Dan ini justru menjadi tambang untuk meningkatkan devisa maupun pendapat asli daerah (PAD),” katanya.
.
Selain itu, program coorporate social responsibilty (CSR) yang dilaksanakan pabrik rokok merupakan strategi lain untuk meningkatkan jumlah perokok. “Seperti program peduli sosial atau beasiswa pendidikan. Program ini bukan untuk menjual langsung tapi sebagai image building,” paparnya.
Fakta-fakta mengenai rokok ini menurutnya belum disikapi cepat pemerintah. Bahkan, pemerintah justru menjadikan perusahaan rokok menjadi target pengembangan perekonomian di Indonesia. Akibat perusahaan rokok ini menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar pada APBN dan APBD.
Hal itu diungkapkan Yayi Suryo Prabandari, PhD, peneliti Pusat Kajian Bioetika dan Humaniora Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM, di Fakultas Kedokteran UGM, Senin (5/5/2008).
Dia mengutip laporan WHO, tahun 2008 diperkirakan 5,4 juta orang meninggal per tahunnya karena rokok. Sedangkan di Indonesia sendiri menurut laporan Badan Khusus Pengendalian Tembakau Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (TCSC- IAKMI) diperkirakan 427.948 kematian pertahunnya atau dalam sehari ada sekitar 1.172 orang meninggal karena rokok.
“Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa penghentian rokok merupakan suatu hal u\yang wajib dilakukan. Berbagai penelitian menunjukkan 70-80 persen perokok sebenarnya ingin berhenti merokok, namun berbagai faktor termasuk social pressure yang kuat mempersulitr terwujudnya hal ini,” katanya.
Menurut dia, saat ini rokok merupakan salah satu penyebab kematian utama di dunia. Bahkan disebutkan oleh Yayi, sekarang rokok merupakan mesin pembunuh yang legal di dunia ini. Meski kampanye anti rokok terus digencarkan namun jumlah perokok setiap tahun kian bertambah.
Hasil penelitian yang dilakukan pada remaja perokok di Yogyakarta katanya, terjadi peningkatan yang signifikan. Penelitian tahun 1995 jumlah perokok pemula pada laki-laki hanya sekitar 45 persen. Sedang penelitian tahun 2000 meningkat menjadi 60 persen. “Untuk tahun ini baru akan kami lakukan,” paparnya.
Lebih memprihatinkan lagi, kata Yayi, kecenderungan merokok di kalangan remaja perempuan di Jogjakarta juga menunjukkan peningkatan yang besar. Yakni, dari 5 persen pada tahun 1995 lalu meningkat menjadi 15 persen pada tahun 2000.
“Mungkin karena saat ini merokok untuk kalangan wanita sudah tidak menjadi hal yang tabu,” urainya.
Yayi menambahkan, peningkatan jumlah perokok di kalangan remaja ini salah satunya disebabkan gencarnya promosi perusahaan rokok di berbagai media. Seperti baliho, pamflet dan iklan di media cetak maupun televisi. “Dan ini justru menjadi tambang untuk meningkatkan devisa maupun pendapat asli daerah (PAD),” katanya.
.
Selain itu, program coorporate social responsibilty (CSR) yang dilaksanakan pabrik rokok merupakan strategi lain untuk meningkatkan jumlah perokok. “Seperti program peduli sosial atau beasiswa pendidikan. Program ini bukan untuk menjual langsung tapi sebagai image building,” paparnya.
Fakta-fakta mengenai rokok ini menurutnya belum disikapi cepat pemerintah. Bahkan, pemerintah justru menjadikan perusahaan rokok menjadi target pengembangan perekonomian di Indonesia. Akibat perusahaan rokok ini menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar pada APBN dan APBD.
Jumat, 02 Mei 2008
Distribusi Soal UN SMP Dikawal Ketat
Yogyakarta, Soal Ujian Nasional (UN) SMP hari ini mulai didistribusikan dari percetakan menuju sekretariat sub rayon. Distribusi soal mendapat pengawalan ketat aparat kepolisian agar tidak terjadi kebocoran.
Di Kota Yogyakarta, soal UN didistribusikan ke 5 sub rayon yakni SMPN 5, SMPN 8, SMPN 7, SMPN 2 dan SMPN 8. Ribuan soal dan lembar jawaban yang dibungkus sampul dengan tulisan rahasia langsung diterima koordinator/penanggungjawab sub rayon disaksikan anggota panitia ujian lainnya.
"Pendistribusikan soal sama seperti Unas SMA kemarin. Soal dan lembar jawaban langsung didistribusikan dari percetakan ke masing-masing sub rayon," kata Kepala Bidang Pendidikan Menengah (Dikmen) Kota Yogyakarta, Suyono kepada wartawan di kantor Jl Hayam Wuruk, Sabtu (3/5/2008).
Menurut dia, panitia memutuskan soal didistribusikan langsung ke sub rayon dan tidak disentralkan ke kantor dinas lebih dulu untuk mengurangi kemungkinan terjadi kebocoran dan memutus mata rantai distribusi yang panjang. Dengan demikian tingkat kebocoran semakin kecil dan terkurangai.
"Panitia sub rayon yang ditunjuk dan mendapat surat tugas yang boleh mengambil soal di sub rayon," katanya.
Dia mengatakan UN SMP akan dimulai pada tangga 5 hingga 8 Mei. Setiap hari siswa akan menempuh ujian 1 mata pelajaran meliputi Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris dan IPA.
Dia menambahkan UN SMP tahun ini diikuti 8.059 siswa dari 66 sekolah yang ada di Kota Yogya. Ada sekitar 10 SMP/MTs yang masih menggabung dengan sekolah lain dalam penyelenggaraan Unas, di antaranya SMP Tamtama, SMP Budi Luhur, SMPIT Bias, SMP Perak, MTs Yakatunis, SMP '17' 2, SMP '17' 1, SMP Pembangunan Maarif, SMP Terbuka serta SMPIT Masjid Syuhada.
Di Kota Yogyakarta, soal UN didistribusikan ke 5 sub rayon yakni SMPN 5, SMPN 8, SMPN 7, SMPN 2 dan SMPN 8. Ribuan soal dan lembar jawaban yang dibungkus sampul dengan tulisan rahasia langsung diterima koordinator/penanggungjawab sub rayon disaksikan anggota panitia ujian lainnya.
"Pendistribusikan soal sama seperti Unas SMA kemarin. Soal dan lembar jawaban langsung didistribusikan dari percetakan ke masing-masing sub rayon," kata Kepala Bidang Pendidikan Menengah (Dikmen) Kota Yogyakarta, Suyono kepada wartawan di kantor Jl Hayam Wuruk, Sabtu (3/5/2008).
Menurut dia, panitia memutuskan soal didistribusikan langsung ke sub rayon dan tidak disentralkan ke kantor dinas lebih dulu untuk mengurangi kemungkinan terjadi kebocoran dan memutus mata rantai distribusi yang panjang. Dengan demikian tingkat kebocoran semakin kecil dan terkurangai.
"Panitia sub rayon yang ditunjuk dan mendapat surat tugas yang boleh mengambil soal di sub rayon," katanya.
Dia mengatakan UN SMP akan dimulai pada tangga 5 hingga 8 Mei. Setiap hari siswa akan menempuh ujian 1 mata pelajaran meliputi Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris dan IPA.
Dia menambahkan UN SMP tahun ini diikuti 8.059 siswa dari 66 sekolah yang ada di Kota Yogya. Ada sekitar 10 SMP/MTs yang masih menggabung dengan sekolah lain dalam penyelenggaraan Unas, di antaranya SMP Tamtama, SMP Budi Luhur, SMPIT Bias, SMP Perak, MTs Yakatunis, SMP '17' 2, SMP '17' 1, SMP Pembangunan Maarif, SMP Terbuka serta SMPIT Masjid Syuhada.
Kawanan Perampok Gasak 2 ATM di Yogya
Yogyakarta, Perampokan mesi ATM terjadi di Sleman, DI Yogyakarta. Dua mesin ATM berisi uang ratusan juta digasak kawanan perampok.
Peristiwa itu terjadi di ATM kampus Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) YKPN di Jl Palagan Tentara Pelajar Sariharjo Ngaglik Sleman, Jumat (2/5/2008) pukul 01.00 WIB. Dua mesin ATM yang digasak perampok bersenjatakan pistol dan pedang itu ATM Bank BCA dan Bank BNI yang terleta bersebelahan.
Sebanyak 5 orang satpam yang berjaga di kampus depan Hotel Hyatt Yogyakarta itu berhasil dilumpuhkan kawanan perampok berjumlah lebih dari 4 orang. Mereka menggunakan mobil sejenis Mitsubishi L300 warna gelap.
Salah seorang korban yang juga satpam bernama Wagimun (45) kepada wartawan di Mapolres Sleman Jl Magelang Km 14 mengatakan sekitar pukul 01.00 WIB saat berjaga di pos dekat mesin ATM tiba-tiba didatangi dua orang tidak dikenal.
Mereka masuk ke pos satpam dengan cara melompat pagar besi setinggi 1 meter yang selalu ditutup setelah pukul 22.00 WIB. Mereka langsung menggertak sambil mengacungkan pistol dan pedang agar diam dan tidak berteriak.
Wagimun yang berjaga bersama Sakiman (50) sempat dipukul dibagian muka dan tengkuk serta ditendang. Sebab dia tidak memberitahukan tempat dimana teman-temannya ikut berjaga. "Kamu diam saja, dimana temanmu yang lain berjaga," kata Wagimun menirukan ucapan ancaman di perampok yang menggunakan Bahasa Jawa.
Karena takut ancaman pistol, Wagimun kemudian memberitahukan tempat berjaga 3 satpam lain yakni Darwoko (40) Suwadi (38) dan Suwarjono (40). Kelima orang satpam itu kemudian disekap disebuah ruangan di kampus tersebut. Mereka diikat dengan tali rafia dan di lakban mulutnya.
Setelah itu kawanan perampok yang lain langsung masuk ke ATM. Dua mesin ATM berhasil dijebol dengan cara merusak lantai keramik terlebih dulu. Mesin ATM BCA yang belum sempat dibuka langsung digondol perampok. Sedang mesin ATM BNI berhasil dirusak dan dikuras isinya langsung ditinggalkan.
Sementara itu Kapolres Sleman, AKBP Suharsono mengatakan berdasarkan laporan petugas bank, dua mesin ATM itu diperkirakan berisi uang Rp 475 juta. Mesin ATM BCA yang berisi uang pecahan Rp 50 ribu sebanyak Rp 340 juta. Sedang ATM BNI sebesar Rp 125 juta. "Saat ini kami masih melakukan penyelidikan terhadap pelaku," kata dia.
Peristiwa itu terjadi di ATM kampus Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) YKPN di Jl Palagan Tentara Pelajar Sariharjo Ngaglik Sleman, Jumat (2/5/2008) pukul 01.00 WIB. Dua mesin ATM yang digasak perampok bersenjatakan pistol dan pedang itu ATM Bank BCA dan Bank BNI yang terleta bersebelahan.
Sebanyak 5 orang satpam yang berjaga di kampus depan Hotel Hyatt Yogyakarta itu berhasil dilumpuhkan kawanan perampok berjumlah lebih dari 4 orang. Mereka menggunakan mobil sejenis Mitsubishi L300 warna gelap.
Salah seorang korban yang juga satpam bernama Wagimun (45) kepada wartawan di Mapolres Sleman Jl Magelang Km 14 mengatakan sekitar pukul 01.00 WIB saat berjaga di pos dekat mesin ATM tiba-tiba didatangi dua orang tidak dikenal.
Mereka masuk ke pos satpam dengan cara melompat pagar besi setinggi 1 meter yang selalu ditutup setelah pukul 22.00 WIB. Mereka langsung menggertak sambil mengacungkan pistol dan pedang agar diam dan tidak berteriak.
Wagimun yang berjaga bersama Sakiman (50) sempat dipukul dibagian muka dan tengkuk serta ditendang. Sebab dia tidak memberitahukan tempat dimana teman-temannya ikut berjaga. "Kamu diam saja, dimana temanmu yang lain berjaga," kata Wagimun menirukan ucapan ancaman di perampok yang menggunakan Bahasa Jawa.
Karena takut ancaman pistol, Wagimun kemudian memberitahukan tempat berjaga 3 satpam lain yakni Darwoko (40) Suwadi (38) dan Suwarjono (40). Kelima orang satpam itu kemudian disekap disebuah ruangan di kampus tersebut. Mereka diikat dengan tali rafia dan di lakban mulutnya.
Setelah itu kawanan perampok yang lain langsung masuk ke ATM. Dua mesin ATM berhasil dijebol dengan cara merusak lantai keramik terlebih dulu. Mesin ATM BCA yang belum sempat dibuka langsung digondol perampok. Sedang mesin ATM BNI berhasil dirusak dan dikuras isinya langsung ditinggalkan.
Sementara itu Kapolres Sleman, AKBP Suharsono mengatakan berdasarkan laporan petugas bank, dua mesin ATM itu diperkirakan berisi uang Rp 475 juta. Mesin ATM BCA yang berisi uang pecahan Rp 50 ribu sebanyak Rp 340 juta. Sedang ATM BNI sebesar Rp 125 juta. "Saat ini kami masih melakukan penyelidikan terhadap pelaku," kata dia.
Aksi Demo Hardiknas Tumpah Ruah Di Malioboro
Yogyakarta, Ribuan mahasiswa dari berbagai elemen menggelar aksi demo memperingati Hari Pendidikan Nasional (hardiknas). Massa tumpah ruah di kawasan Jl Malioboro sehingga sempat memacetkan arus lalu-lintas selama lebih kurang 3 jam.
Aksi yang digelar hari ini, Jumat (2/5/2008) mulai pukul 09.30-11.30 WIB di lakukan secara bergelombang dan bergantian. Mereka berangkat menuju kawasan Malioboro dari berbagai titik pemberangkatan seperti dari Tugu Yogyakarta di Mangkubumi, kampus UGM Bulaksumur, kampus UII Jl Cik Ditiro dan Taman parkir Jl Abu Bakar Ali.
Masa pendemo diantaranya berasal dari anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM-SI), KM UGM, HMI MPO Cabang Sleman, HMI Yogyakarta, PMII, Pokja Pendidikan Gratis DIY, Aliansi BEM Jogjakarta, Aliansi Mahasiswa Yogyakarta dll.
Karena sepanjang jalan Malioboro dipenuhi massa, aparat Poltabes Yogyakarta sempat mengalihkan sebagian arus lalu-lintas. Jalur utama untuk kendaraan bermotor dikuasai massa. Akibatnya mobil dan motor terpaksa harus melewati jalur lambat yang digunakan untuk jalur sepeda, becak dan andong.
Sementara itu Kapoltabes Yogyakarta, Kombes Agung Budi Maryoto turun langsung memantau aksi mahasiswa di jalan itu. Ratusan aparat disiagakan di sepanjang Jl Malioboro hingga depan Istana Negara Gedung Agung Yogyakarta, halaman DPRD DIY, kantor Gubernur DIY dan Malioboro Mal.
Selain berorasi di sepanjang Jl Malioboro hingga simpang empat Kantor Pos Besar di Jl Senopati, massa juga menggelar orasi di halaman DPRD DIY. Secara bergantian pula Ketua DPRD DIY Djuwarto dan sejumlah anggota DPRD lainnya menemui mahasiswa.
Isu yang diangkatpun semuanya sama yakni menolak komersialisasi dan liberalisasi pendidikan. Adanya pendidikan gratis dan murah untuk rakyat serta peningkatan jumlah anggaran baik APBN dan APBD bidang pendidikan serta kenaikan gaji guru.
Koordinator Pokja Pendidikan Gratis DIY, Syaiful Bahri dalam orasinya di halaman DPRD DIY mengatakan UU Sisdiknas 2003 dan RUU BHP harus ditolak dan dihapuskan karena akan menghilangkan kesempatan rakyat miskin memperoleh hak pendidikan.
"Standarisasi pendidikan melalui UN juga harus di hapus karena bukan lagi jadi barometer kelulusan. Sebaliknya jadi alat intimidasi dan momok bagi guru dan siswa," tegas Syaiful.
Aksi yang digelar hari ini, Jumat (2/5/2008) mulai pukul 09.30-11.30 WIB di lakukan secara bergelombang dan bergantian. Mereka berangkat menuju kawasan Malioboro dari berbagai titik pemberangkatan seperti dari Tugu Yogyakarta di Mangkubumi, kampus UGM Bulaksumur, kampus UII Jl Cik Ditiro dan Taman parkir Jl Abu Bakar Ali.
Masa pendemo diantaranya berasal dari anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM-SI), KM UGM, HMI MPO Cabang Sleman, HMI Yogyakarta, PMII, Pokja Pendidikan Gratis DIY, Aliansi BEM Jogjakarta, Aliansi Mahasiswa Yogyakarta dll.
Karena sepanjang jalan Malioboro dipenuhi massa, aparat Poltabes Yogyakarta sempat mengalihkan sebagian arus lalu-lintas. Jalur utama untuk kendaraan bermotor dikuasai massa. Akibatnya mobil dan motor terpaksa harus melewati jalur lambat yang digunakan untuk jalur sepeda, becak dan andong.
Sementara itu Kapoltabes Yogyakarta, Kombes Agung Budi Maryoto turun langsung memantau aksi mahasiswa di jalan itu. Ratusan aparat disiagakan di sepanjang Jl Malioboro hingga depan Istana Negara Gedung Agung Yogyakarta, halaman DPRD DIY, kantor Gubernur DIY dan Malioboro Mal.
Selain berorasi di sepanjang Jl Malioboro hingga simpang empat Kantor Pos Besar di Jl Senopati, massa juga menggelar orasi di halaman DPRD DIY. Secara bergantian pula Ketua DPRD DIY Djuwarto dan sejumlah anggota DPRD lainnya menemui mahasiswa.
Isu yang diangkatpun semuanya sama yakni menolak komersialisasi dan liberalisasi pendidikan. Adanya pendidikan gratis dan murah untuk rakyat serta peningkatan jumlah anggaran baik APBN dan APBD bidang pendidikan serta kenaikan gaji guru.
Koordinator Pokja Pendidikan Gratis DIY, Syaiful Bahri dalam orasinya di halaman DPRD DIY mengatakan UU Sisdiknas 2003 dan RUU BHP harus ditolak dan dihapuskan karena akan menghilangkan kesempatan rakyat miskin memperoleh hak pendidikan.
"Standarisasi pendidikan melalui UN juga harus di hapus karena bukan lagi jadi barometer kelulusan. Sebaliknya jadi alat intimidasi dan momok bagi guru dan siswa," tegas Syaiful.
Peringatan Hardiknas di Makam Ki Hadjar Dewantara
Yogyakarta, Sejumlah pejabat di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar acara peringatan Hari Pendidikan Nasional (hardiknas). Mereka melakukan acara ziarah dan tabur bunga di makam tokoh pendidikan Ki Hadjar Dewantara.
Tabur bunga yang dilakukan di pusara Ki Hadjar dan sejumlah tokoh Taman Siswa di Makam Wijayabrata di Kampung Celeban Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta, (2/5/2008) pukul 10.30 WIB. Acara tabur bunga dipimpin Kapolda DIY Brigjen Untung S. Radjab, Sekda Tri Harjun Ismadji, Kepala Dinas pendidikan DIY Prof Dr Suwarsih Madya dan Prof Dr Wuryadi wakil Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa (ML-PTS).
Setelah dilakukan upacara di depan makam, dilanjutkan acara tabur bunga. Bunga ditaburkan pertama kali oleh Untung S. Radjab di makam Ki Hadjar Dewantara, Nyi Hadjar Dewantara yang letaknya berdampingan. Selanjutnya ke nisan anak bungsu Ki Hadjar, Ki Aloysius Syailendra Wijaya disamping kanan.
Nisan makam pendiri Taman Siswa itu terbuat dari batu marmer dan andesit. Letaknya berada di tengah makam dan lebih tinggi dibandingkan makam tokoh-tokoh pendiri Taman Siswa lainnya. Di sekeliling makam Ki Hadjar terdapat relief yang menggambarkan perjuang serta biografi singkat Ki Hadjar.
Seusai para pejabat melakukan tabur bunga, sejumlah anggota Majelis Luhur Taman Siswa, guru dan murid-murid Perguruan Taman Siswa juga melakukan ziarah. Mereka tidak hanya tabur bunga di makam keluarga Ki Hadjar saja tapi juga ke semua tokoh Taman Siswa yang di makamkan di tempat itu. Makam Ki Sarino yang pernah menjabat menteri pendidikan juga di makamkan di tempat itu.
Tabur bunga yang dilakukan di pusara Ki Hadjar dan sejumlah tokoh Taman Siswa di Makam Wijayabrata di Kampung Celeban Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta, (2/5/2008) pukul 10.30 WIB. Acara tabur bunga dipimpin Kapolda DIY Brigjen Untung S. Radjab, Sekda Tri Harjun Ismadji, Kepala Dinas pendidikan DIY Prof Dr Suwarsih Madya dan Prof Dr Wuryadi wakil Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa (ML-PTS).
Setelah dilakukan upacara di depan makam, dilanjutkan acara tabur bunga. Bunga ditaburkan pertama kali oleh Untung S. Radjab di makam Ki Hadjar Dewantara, Nyi Hadjar Dewantara yang letaknya berdampingan. Selanjutnya ke nisan anak bungsu Ki Hadjar, Ki Aloysius Syailendra Wijaya disamping kanan.
Nisan makam pendiri Taman Siswa itu terbuat dari batu marmer dan andesit. Letaknya berada di tengah makam dan lebih tinggi dibandingkan makam tokoh-tokoh pendiri Taman Siswa lainnya. Di sekeliling makam Ki Hadjar terdapat relief yang menggambarkan perjuang serta biografi singkat Ki Hadjar.
Seusai para pejabat melakukan tabur bunga, sejumlah anggota Majelis Luhur Taman Siswa, guru dan murid-murid Perguruan Taman Siswa juga melakukan ziarah. Mereka tidak hanya tabur bunga di makam keluarga Ki Hadjar saja tapi juga ke semua tokoh Taman Siswa yang di makamkan di tempat itu. Makam Ki Sarino yang pernah menjabat menteri pendidikan juga di makamkan di tempat itu.
Peringati Hardiknas, 'Ki Hadjar Dewantara' Dipeluk
Yogyakarta - Memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, ratusan mahasiswa menggelar aksi di Yogyakarta. Dalam aksinya mereka sempat melakukan teatrikal memeluk patung Bapak Pendidikan Ki Hadjar Dewantara.
Aksi peluk Ki Hadjar itu berlangsung di halaman Perguruan Taman Siswa, Jl Taman Siswa, Yogyakarta, Jumat (2/5/2008). Aksi digelar oleh mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa.
Aksi memeluk patung Ki Hajar itu bertujuan untuk mengadukan nasib pendidikan Indonesia. Mereka juga sempat melakukan orasi di depan pengurus Majelis Luhur Taman Siswa.
Koordinator aksi Kurnia menyatakan, pendidikan nasional Indonesia saat ini sudah jauh dari apa yang dicita-citakan Ki Hajar Dewantara. Pendidikan sudah bersifat kapitalis dan semakin diukur dengan uang.
"Komersialisasi dan liberalisasi pendidikan harus dihentikan. Karena akan mengakibatkan rakyat tidak mampu dan tidak bisa mengeyam pendidikan murah. Kami juga menolak RUU Badan Hukum Pendidikan (BHP) versi pemerintah, dan Ujian Nasional (UN)," kata Kurnia.
Perwakilan Majelis Luhur Taman Siswa yakni Panitera Umum Majelis Luhur Taman Siswa Prijo Dwiharso mendukung aksi yang dilakukan mahasiswa di hari Hardiknas. Majelis Luhur juga mengatakan menolak RUU BHP karena semakin mengkomersialisasikan pendidikan.
"Sebagai penerus Ki Hajar Dewantara, kita harus meneruskan perjuangan dan cita-cita beliau. Rakyat Indonesia harus mampu mengeyam pendidikan semua," kata Prijo.
Selain di Taman Siswa, mahasiswa juga menggelar aksi di Tugu Yogyakarta Jl Mangkubumi, dan Gedung DPRD Yogyakarta di Jl Malioboro.
(
Aksi peluk Ki Hadjar itu berlangsung di halaman Perguruan Taman Siswa, Jl Taman Siswa, Yogyakarta, Jumat (2/5/2008). Aksi digelar oleh mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa.
Aksi memeluk patung Ki Hajar itu bertujuan untuk mengadukan nasib pendidikan Indonesia. Mereka juga sempat melakukan orasi di depan pengurus Majelis Luhur Taman Siswa.
Koordinator aksi Kurnia menyatakan, pendidikan nasional Indonesia saat ini sudah jauh dari apa yang dicita-citakan Ki Hajar Dewantara. Pendidikan sudah bersifat kapitalis dan semakin diukur dengan uang.
"Komersialisasi dan liberalisasi pendidikan harus dihentikan. Karena akan mengakibatkan rakyat tidak mampu dan tidak bisa mengeyam pendidikan murah. Kami juga menolak RUU Badan Hukum Pendidikan (BHP) versi pemerintah, dan Ujian Nasional (UN)," kata Kurnia.
Perwakilan Majelis Luhur Taman Siswa yakni Panitera Umum Majelis Luhur Taman Siswa Prijo Dwiharso mendukung aksi yang dilakukan mahasiswa di hari Hardiknas. Majelis Luhur juga mengatakan menolak RUU BHP karena semakin mengkomersialisasikan pendidikan.
"Sebagai penerus Ki Hajar Dewantara, kita harus meneruskan perjuangan dan cita-cita beliau. Rakyat Indonesia harus mampu mengeyam pendidikan semua," kata Prijo.
Selain di Taman Siswa, mahasiswa juga menggelar aksi di Tugu Yogyakarta Jl Mangkubumi, dan Gedung DPRD Yogyakarta di Jl Malioboro.
(
Kamis, 01 Mei 2008
Kuda Betina Mati di Malioboro
Yogyakarta, Seekor kuda betina mati di Jalan Malioboro Yogyakarta. Diduga kuda tersebut mati lemas bersama bayi yang dikandungnya akibat kelelahan setelah menarik andong di musim liburan.
Kuda milik Sutarso warga Desa Bangunharjo Kecamatan Sewon Kabupaten Bantul, Kamis (1/5/2008) di Jl Malioboro. Saat itu, si kuda baru saja menarik penumpang wisatawan berkeliling Yogyakarta.
Namun saat berjalan di depan pusat perbelanjaan Ramayana Departemen Store, tiba-tiba kuda terjatuh dan mengelepar-lepar. Andong yang ditarik kuda juga nyaris roboh.
Begitu mengetahui kudanya terjatuh, sang kusir langsung turun dan memberikan pertolongan. Beberapa pengemudi becak dan kusir andong yang ada di dekat kawasan itu langsung memberikan pertolongan.
Beberapa tali kekang kuda dilepas satu persatu. Andong juga ditarik menjauh dari tempat kuda terjatuh. Namun karena kesakitan kuda terus mengelepar dan meringkik keras. Berkali-kali kaki depan dan belakang menendang-nendang sambil mengeluarkan air kencing dan kotoran seakan nyawanya hampir meregang.
Kusir andong bersama beberapa rekannya memberikan pertolongan dengan menggosokkan beberapa botol minya kayu putih di bagian hidung, leher, peru dan dada kuda. Adapula yang memijat-mijat dibagian leher agar si kuda segera siuman.
Namun setelah selama satu jam diberikan pertolongan kuda semakin lama semakin lemas. Setelah dipegang bagian hidung dan perut sudah tidak ada tanda aenyut nafas, Akhirnya pada sekitar pukul 13.00 WIB, kuda itu mati. Beberapa orang langsung menutupi bagian kepala kuda dengan selembar koran. Saat dilakukan pertolongan hingga mati, kuda itu sempat menjadi tontonan warga yang berada di Malioboro.
Kuda milik Sutarso warga Desa Bangunharjo Kecamatan Sewon Kabupaten Bantul, Kamis (1/5/2008) di Jl Malioboro. Saat itu, si kuda baru saja menarik penumpang wisatawan berkeliling Yogyakarta.
Namun saat berjalan di depan pusat perbelanjaan Ramayana Departemen Store, tiba-tiba kuda terjatuh dan mengelepar-lepar. Andong yang ditarik kuda juga nyaris roboh.
Begitu mengetahui kudanya terjatuh, sang kusir langsung turun dan memberikan pertolongan. Beberapa pengemudi becak dan kusir andong yang ada di dekat kawasan itu langsung memberikan pertolongan.
Beberapa tali kekang kuda dilepas satu persatu. Andong juga ditarik menjauh dari tempat kuda terjatuh. Namun karena kesakitan kuda terus mengelepar dan meringkik keras. Berkali-kali kaki depan dan belakang menendang-nendang sambil mengeluarkan air kencing dan kotoran seakan nyawanya hampir meregang.
Kusir andong bersama beberapa rekannya memberikan pertolongan dengan menggosokkan beberapa botol minya kayu putih di bagian hidung, leher, peru dan dada kuda. Adapula yang memijat-mijat dibagian leher agar si kuda segera siuman.
Namun setelah selama satu jam diberikan pertolongan kuda semakin lama semakin lemas. Setelah dipegang bagian hidung dan perut sudah tidak ada tanda aenyut nafas, Akhirnya pada sekitar pukul 13.00 WIB, kuda itu mati. Beberapa orang langsung menutupi bagian kepala kuda dengan selembar koran. Saat dilakukan pertolongan hingga mati, kuda itu sempat menjadi tontonan warga yang berada di Malioboro.
Langgan:
Entri (Atom)
