Kamis, 30 April 2009

Asap Cair Bermanfaat bagi Pengelolaan Pangan dan Pertanian

Teknologi pengasapan telah lama digunakan dalam pengolahan pangan dan hasil pertanian, baik sebagai penghasil aroma dan rasa pangan, pembentuk warna, maupun pengawet makanan. Proses pengeringan dan pengawetan dilakukan dengan menempatkan hasil pertanian ataupun perkebunan di atas tungku dapur dengan menggunakan bahan bakar kayu. Pengasapan dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi kadar air memberikan efek positif pada keawetan produk. Proses pengasapan terjadi karena adanya senyawa phenol, karbonil, asam, dan komponen lain yang berjumlah ratusan serta merupakan antimikroba, antioksidan, dan disinfektan.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Ir. E. Purnama Darmadji, M.Sc. saat dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP) Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM, di Balai Senat UGM baru-baru ini. “Potensi asap dapat memperpanjang masa simpan produk dengan mencegah kerusakan akibat aktivitas bakteri pembusuk dan patogen,” jelasnya.

Mengenai keamanan produk asapan, Darmadji mengatakan hasilnya sangat bervariasi tergantung pada metode dan tujuan pengasapan. Bila bertujuan untuk pengawetan, perlu dicermati karena membutuhkan intensitas pengasapan yang cukup lama agar senyawa pengawet dalam asap terdifusi secara cukup ke dalam produk asapan. “Namun, deposit senyawa karsiogen dan toksik akan tinggi. Begitu pula dengan aroma dan rasa asap yang dihasilkan sangat kuat,” terang pria yang meraih gelar doktor di Okayama University, Jepang, ini.

Tingkat pencemaran senyawa karsiogen, imbuh Darmadji, juga tergantung pada kayu yang digunakan sebagai bahan asap. Produk asapan dengan bahan bakar kayu apel menunjukkan tingkat pencemaran yang rendah. Sementara pengasapan dengan bahan bakar kayu bergetah akan menghasilkan asap. Produk yang diasapi secara tradisional dan kontak langsung dengan nyala api suhu tinggi menyebabkan pencemaran yang tinggi pula.

Konsentrasi dan lama waktu perendaman juga sangat menentukan keamanan produk yang dihasilkan. Kandungan senyawa toksik dan benzopyren pada produk awetan dan produk bercitarasa asap harus tidak melebihi ambang batas yang ditetapkan.

Dikatakan pria kelahiran Yogyakarta, 29 Maret 1953 ini, proses pemurnian, baik pengendapan, sentrifugasi, redistilas, maupun absorpsi, perlu dilakukan dengan seksama untuk menghasilkan asap cair yang rendah atau tanpa benzo(a)pyren. Selain itu, perlu diperhatikan pula suhu dan waktu prolisa karena sangat berpengaruh terhadap terbentuknya senyawa polimerasi lanjut yang toksik dan karsinogen.

Di samping bermanfaat dalam bidang perkebunan dan pertanian, teknologi asap cair juga dapat dimanfaatkan untuk pengolahan limbah biomassa. Melalui inovasi teknologi asap cair dengan teknologi prolisa, baik lambat, cepat, maupun gasifikasi, dilengkapi dengan teknologi kondensasi menjadikan asap pembakaran sampah yang dihasilkan tidak dibuang di udara secara bebas. Asap pembakaran akan dikondensasi atau didinginkan dan menghasilkan asap cair. “Hasil samping dari teknologi ini berupa arang yang bisa dipakai sebagai bahan bakar tanpa asap dan sebagai bahan baku arang aktif serta filler yang berdaya guna tinggi,” kata staf pengajar FTP ini.

1 komentar:

febri mengatakan...

CV. Riko Jaya
Kami menjual/menyediakan asap cair (liquid smoke) dengan merk Deogreen. Sedia jaringan distribusi ke seluruh Indonesia. Melayani pembelian eceran, partai dan kerjasama agen.
Asap cair (liquid smoke) merupakan pengawet makanan alami pengganti formalin, dan sebagai penghilang bau ramah lingkungan.
Harga :
360 ml = Rp 8.500
1 liter = Rp 12.000

Untuk Pemesanan hubungi:
Herman Hasan
HP : 08164834477
Email : marketing@liquidherbalonline.com atau rentertaint@yahoo.com

website : www.liquidherbalonline.com