Selasa, 07 April 2009

Partai Moderat Berpotensi Dapat Dukungan Lebih Besar Pemilih

Yogyakarta - Perolehan suara 38 partai politik dalam pemilu 2009 sulit diprediksi karena perilaku politik dari pemilih sangat dinamis dengan munculnya pergeseran distribusi suara. Dinamika suara pemilih ini disinyalir akan melahirkan kejutan-kejutan dengan munculnya partai baru sebagai partai medioker dan terjadinya perubahan naik turunnya perolehan suara partai-partai papan atas. Meski begitu, sirkulasi suara pemilih hanya berputar dalam spektrum aliran politik yang sama yakni aliran sekuler, moderat dan agama.

Pendapat tersebut dikemukan dosen jurusan ilmu pemerintahan Fisipol UGM Sigit Pamungkas, SIP, dalam diskusi publik dan bedah buku 'Meneropong Peluang Perubahan Pemilu 2009' di ruang multi media gedung Fisipol UGM, Selasa (7/4/2009).

Menurut Sigit, warna aliran dari sebuah partai politik mempengaruhi perilaku pemilih. Kalau pun terjadi suara yang berpindah (swing voter), maka perpindahan suara pemilih tidak akan melintasi antar kluster aliran politik yang ada.

Lebih jauh ia menjelaskan, terjadinya naik turun perolehan suara partai adalah proses menambah dan mengurangi perolehan suara partai dalam satu kluster yang sama. Namun, kanibalisme perolehan suara partai tidak terjadi antar lintas aliran ideologi.

“Apabila suara partai PKS meningkat maka akan mengurangi jumlah suara partai satu kluster seperti PAN, PBB dan PPP dan begitu pun sebaliknya jika suara partai Demokrat naik maka akan menurunkan suara partai Golkar dan PDIP,” kata Sigit.

Sigit menilai, Partai dengan spektrum ideologi ekstrim tidak akan mendapatkan dukungan pemilih dalam jumlah signifikan. Secara linier, spektrum ideologi berada dalam kutub fundamentalis sekuler dan fundamentalis agama. Mereka yang berada dalam kedua kutub ekstrim tersebut adalah minoritas. Sehingga partai yang mendeklarasikan dirinya dalam posisi ini akan terlikuidasi dengan sendirinya. Sementara Partai dengan spektrum ideologi tengah atau moderat mendapatkan dukungan yang besar dari pemilih.

“Partai-partai dengan ideologi moderat memiliki modal dasar untuk mendapatkan dukungan besar dari pemilih, karenanya untuk mengaktualkan potensi itu partai-partai moderat hanya perlu memoles organisasinya untuk dapat dikenal publik secara luas,” katnya.

Sigit juga sempat menyinggung, ketokohan partai mampu mendongkrak perolehan suara partai. Menurutnya, ketokohan partai adalah magnet partai. Sehingga perilaku pemilih dapat berubah terkait dengan eksistensi pemimpin dan kepemimpinan partai. “Apabila di dalam partai terdapat tokoh yang berwibawa dan disegani maka pemilih akan cenderung memilih partai dengan ketokohan partai yang jelas. Apabila partai politik tidak memiliki tokoh sentral maka daya magnetik partai akan berkurang,” tandasnya.

Sebaliknya, penistaan terhadap seorang tokoh atau partai akan melahirkan simpati pemilih untuk memberikan suara kepada tokoh atau partai tersebut. Partai-partai dengan tokoh yang dinistakan oleh lawan politik akan mendapatkan simpati pemilih. Sebaliknya, partai atau tokoh yang agresif atau menistakan lawan politiknya atau tidak santun dengan lawan politiknya cenderung akan dijauhi pemilih.

“Gaya politik kita tidak suka politik agresif, keras dan menistakan,” katanya.

Tidak ada komentar: