Rabu, 10 Juni 2009

Jadi Pemimpin Jangan Suka Marah Kalau Dikritik

Yogyakarta - Menjadi seorang pemimpin hendaknya jangan selalu marah ketika ada orang yang mengritiknya. Seorang pemimpin itu jangan meniru figur "si Enthit", tokoh legenda Jawa dalam lakon cerita Panji Asmarabangun.

Kritikan itu dilontarkan Ketua DPD Partai Golkar Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Gandung Pardiman dalam acara dialog tertutup dengan Jusuf Kalla di gedung Bima di Jl Nyoman Oka, Kotabaru, Kamis (11/6/2009).

"Kalau jadi pemimpin itu jangan seperti si Enthit, suka marah kalau dikritik dan suka mengaku-aku barang yang bukan miliknya," ujar Gandung.

Saat mendengarkan cerita si Enthit pun, semua peserta dialog langsung tertawa dan tersenyum. JK dan tamu undangan juga tertawa ketika melihat gaya orasi Gandung yang berapi-api.

Gandung pun kemudian menirukan tokoh cerita si Enthit dalam serial cerita rakyat Jawa Panji Asmarabangun yang akan menikah dengan Dewi Sekartaji dari kerajaan Kediri masa lampau.

"Enthit, tanaman jagung yang subur itu milik siapa?" katanya. Gandung kemudian menjawabnya sendiri itu miliknya. "Kuwi duwekku, pek no kabeh ya (itu milikku, ambillah semua,ya-red)," kata Gandung menirukan tingkah laku si Enthit.

Menurut dia, meski tanaman jagung itu bukan miliknya namun dengan mendapatkan Dewi Sekartaji atau Candrakirna, dia berjanji akan menyerahkan semuanya. "Itu diklaim miliknya," kata Gandung.

Gandung juga memuji kepemimpinan JK yang berjanji akan meningkatkan kesejahteraan TNI. JK adalah seorang pemimpin sipil selain Bung Karno yang banyak memperhatikan kesejahteraan keluarga TNI. bahkan sanggup menaikkan anggaran sebesar 2 persen untuk pengadaan peralatan TNI.

"Dia tidak ragu-ragu, meski ada seorang tentara yang memim;pin tapi tidak memperhatikan nasib TNI," pungkas Gandung.

Tidak ada komentar: