Rabu, 03 Juni 2009

kebutuhan Obat Narkotika Untuk Pasien Tak Seimbang

Yogyakarta -Kepala Pusat Studi Farmokologi Klinik dan Kebijakan obat UGM Dr Sri Suryawati menegatakan penggunaan global opiat untuk medis meliputi fentanil, morfin, dan oxycodone sangat tidak merata, terkonsentrasi di beberapa negara di Eropa Barat dan Amerika Utara saja. Negara-negara tersebut menghabiskan 96 % konsumsi global fentanil, 89 % konsumsi global morfin, dan 98 % konsumsi global oxycodone.

“Artinya kurang dari 10% konsumsi dunia dipakai tersebar di sekitar 190 negara sisanya,” kata Suyawati dalam bincang-bincang dengan wartawan di ruang fortakgama, kantor pusat UGM, Rabu (3/6/2009).

Menurut Suryawati, jumlah penggunaan opium ini ini sangat tidak seimbang dengan kebutuhan. Oleh karena itu dirinya menghimbau pemerintah untuk menaruh perhatian serius agar penggunaan narkotika untuk medis bisa lebih akurat. Diakuinya, Di Indonesia, tablet morfin sudah termasuk daftar obat esensial nasional sejak tahun 2008. Namun dengan berbagai hal, pertimbangan distribusinya di fasilitas pelayanan kesehatan masih dibatasi pada tingkat rumah sakit saja. Akibatnya, pasien kanker dengan nyeri hebat terpaksa berobat ke rumah sakit untuk mendapatkan obat tersebut.

“Yang menjadi masalah, pasien yang sakitnya tidak mampu mengakses ke rumah sakit, mereka tergeletak sakit di rumah dan akhirnya meninggal, karena obat itu tidak tersedia di Puskesmas,” jelasnya.

Menurut pandangan Suyawati, perlu kiranya dicarikan solusi agar pasien tetap terjangkau pelayanan pengobatan, misalnya dengan melakukan kunjungan rumah, pelimpahan atau rujukan balik dari pihak rumah sakit ke puskesmas.

“Adanya mekanisme pelimpahan atau rujukan balik ini mestinya Dinkes bupaten/kota bisa mengadakan kebutuhan tablet morfin untuk puskesmas yang ditunjuk,” paparnya.

Selaku salah satu 13 Anggota Dewan Pengawasan Narkotika Internasional PBB atau UN-International Narcotic Control Board (INCB), Suryawati, menegaskan dirinya tetap berkomitmen untuk selalu meningkatkan akses masyarakat terhadap obat narkotika yang tergolong esensial. Menurutnya, komitmen tersebut merupakan salah satu tuganya untuk memastikan kebutunan medis dan riset obat narkotika terpenuhi. Selain menjaga tidak terjadinya kebocoran obat tersebut ke jalur ilegal.

“Pengawasan jalur ilegal dilakukan secara ketat baik di tingkat nasional maupun internsional,” jelasnya.

Sementara dalam menjalankan tugas, kata Suryawati, INCB bekerjasama dengan pemerintah setempat dan berbagai badan internasional lain seperti WHO, Interpol dan World custom Organization (WC).

Ia menyebutkan, saat ini 95 % dari jumlah negara telah berkomitmen untuk memerangi peredaran ilegal narkoba. Namun di sisi lain, kebutuhan medis terhadap obat narkotika perlu dijamin ketersediaannya. Salah satunya, kebutuhan medis obat tablet morfin untuk mengatasi nyeri hebat oada penderira kanker fase termina

Tidak ada komentar: