Yogyakarta, Mundurnya masa panen raya berdampak positif bagi perekonomian di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Angka inflasi selama semester I tahun 2009 mencata rekor terendah yakni 0,71 persen.
Atas kondisi itu, hingga akhir tahun Bank Indonesia (BI) Yogyakarta merasa optimis angka inflasi di akhir tahun bisa di bawah satu digit bisa terwujud.
Inflasi di DIY pada bulan Juni 2009 tercatat sebesar 4,50 persen (yoy), lebih rendah dari Maret 2009 dan Juni yang tercatat sebesar 7,91 persen (yoy) dan 10,44 persen (yoy). Sebelumnya, fluktuasi DIY selama periode triwulan II tahun2009 juga berada di posisi rendah yaitu April -0,34 persen dan Mei 0,27 persen.
"Kondisi ini sangat positif, di saat dunia dilanda krisis global. Ini rekor di semester pertama karena menyamai fenomena ekonomi di negara-negara maju," kata Djoko Raharto, Peneliti Ekonomi Madya, Bank Indonesia (BI) Yogyakarta di kantor Jl Senopati, Jumat (3//2009).
Menurut Djoko, dari indikator makro ekonomi regional di DIY pada triwulan II-2009 kinerjanya mengalami perbaikan dengan adanya peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Beberapa perbaikan itu tercermin pada pertumbuhan ekonomi, inflasi, perbankan, sistem pembayaran dan keuangan daerah.
"Inflasi pada bulan Mei didorong oleh kenaikan harga gula akibat kenaikan harga dasar pembelian tebu yang belum memasuki masa giling," katanya.
Selain itu, mundurnya masa panen raya petani yang seharusnya jatuh pada bulan Maret namun mundur pada bulan April dan Mei juga berdampak positif. Kenaikan jumlah kunjungan wisatawan di Yogyakarta juga berpengaruh positif.
"Hotel dan pelaku pariwisata dari survey kami menyatakan fully booked. Sementara itu, dari sisi konsumsi daya beli masyarakat membaik. Bisa dilihat dari Nilai Tukar Petani (NTP) di Yogyakarta lebih tinggi di banding angka nasional, selain adanya kebijakan pemerintah yang cairkan gaji ke-13 dan tingkat suku bunga bank yang rendah," kata Djoko.
Sementara itu Pemimpin BI Yogyakarta, Tjahjo Oetomo menambahkan inflasi bulan Juni relatif rendah. Hal itu terjadi karena beberapa komoditas di kelompok pendidikan yang biasanya naik, justru turun seperti laptop, komputer dan printer. Pasokan dan stok kebutuhan sembako juga relatif stabil.
Berjalannnya proyek-rpyek pemerintah seperti pasir besi, pembangunan interland port di Kulonprogo dan proyek perluasan Bandara Adisutjipto juga memberikan sumbangan positif pertumbuhan ekonomi di DIY," kata Tjahjo.
Jumat, 03 Juli 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar