Kamis, 21 Juli 2011

Hindarkan Pendidikan Bias Gender Pada Anak Thursday, July 21, 2011 3:16 PM

Staf pengajar Lembaga Studi Pengembangan Perempuan dan Anak (LSPPA) Yogyakarta, Ifa Aryani mengatakan, saat ini masih ditemui berbagai pembedaan-pembedaan dalam mendidik dan mengasuh anak di tengah masyarakat. Sehingga seringkali merugikan salah satu jenis kelamin dan berdampak pada kehidupan kelak. Oleh karena itu pendidikan anak bias gender sudah saatnya dihilangkan. "Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan dengan jumlah kapasitas otak yang sama, sekitar 150 juta juta se-sel otak. Dengan kondisi demikian setiap anak sesungguhnya memiliki kesempatan yang sama untuk di didik dan diasuh secara adil oleh orangtua, guru dan siapapun," katanya di Auditorium Gedung Masri Singarimbun, Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM, Kamis (21/7).
Menjadi pembicara pada Seminar Implementasi Pendidikan Adil Gender Pada Anak yang digelar PSKK UGM, Ifa menyatakan anak semestinya diberikan kebebasan memilih alat permainan dan cara bermain di lingkungan PAUD dan TK. Baginya perempuan tidak selalu identik dengan permainan boneka dan anak laki-laki identik dengan mobil-mobilan. Selanjutnya perempuan melakukan peran-peran domestik dan laki-laki melakukan berbagai peran publik. "Masih saja kita temui bahan ajar yang menunjukkan bias gender dan pola relasi serta pendekatan guru pada anak yang diskriminatif. Kondisi ini cukup memprihatinkan," terangnya.
Padahal dalam kehidupan nyata, seorang perempuan mestinya bisa juga memperbaiki listrik dan seorang lelaki bisa bekerja di dapur memasak. Sebab tidak sedikit wanita menjadi polisi dan dunia militer dan laki-laki menjadi juru masak bertaraf internasional.
Pembedaan inipun, kata Ifa Aryani, berdampak pula pada pemberian gizi anak. Mentang-mentang anak laki-laki terkadang mendapatkan asupan gizi lebih baik daripada perempuan. Sehingga tak jarang mengakibatkan anak perempuan cenderung lemah, kurang berinisiatif dan pasif. "Anak laki-laki pun lebih sulit berempati dan sulit mandiri untuk berbagai tugas domestik," papar Ifa.
Sebagai solusi, Ifa berharap anak laki-laki dan perempuan dilatih untuk mengerjakan tugas-tugas domestik secara adil, sebab tugas domestik bukanlah kodrat perempuan. Para orang tua bisa melakukan pola komunikasi, pengawasan dan nasehat sesuai kebutuhan karena anak laki-laki dan perempuan secara fisik berbeda, namun memiliki kesempatan yang sama. "Hindari tindak kekerasan baik fisik, mental, ekonomi dan seksual. Tidak selalu jika memperingatkan anak laki-laki harus dengan bentakan, atau sebaliknya anak perempuan dengan kelembutan," katanya.
Dengan demikian mendidik dan mengasuh secara adil bisa dilakukan semenjak hamil. Apapun calon janin mestinya diberikan perhatian yang sama. Pun dalam memilih asesoris, baju dan lain-lain dengan berbagai macam variasi warna tertentu untuk jenis kelamin tertentu. Baik anak perempuan dan laki-laki diberi pilihan pilihan berbagai jenis mainan. "Yang penting juga adalah belajar mendengarkan anak. Mestinya dihindarkan pandangan bila anak cewek selalu identik warna pink dan cowok lebih lebih cocok warna biru," jelasnya.

Tidak ada komentar: