Rabu, 27 Juli 2011

Masih Minim, Angkutan Kereta Api Barang

Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM, Fajar Saumatmaji, mengatakan penggunaan angkutan kereta api (KA) barang sebagai alat angkut sistem distribusi barang dan logistik belum dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat. Hal itu disebabkan masih minimnya jumlah moda transportasi ini. Disamping proses pengiriman barang yang memakan waktu terlalu lama. “Karena lamanya distribusi membuat banyak orang memilih menggunakan truk untuk mengirim barang,” kata Fajar dalam seminar model angkutan barang berbasis kerea api di pustral UGM, Selasa (26/7).
Dari penelitian Fajar, ada 4 lokomotif yang biasa digunakan untuk sarana moda KA Barang. Sedangkan gerbong yang digunakan meliputi 137 gerbong yang berkapasitas 14 ton yang rata-rata berusia 45 tahun, 29 gerbong berkapasitas 30 ton berusia di atas 30 tahun dan 35 gerbong yang berumur di atas 40 tahun.
Disamping usia yang berumur di atas 30 tahun, gerbong tersebut hampir semuanya kondisinya yang tidak terawat, misalnya dinding gerbong berlubang dan karat dan memiliki kecepatan berajalan yang sangat rendah.
Fajap mengusulkan, ke depan perlu ada pengembangan KA barang. Dengan cara meningkatkan kapasitas angkut dengan peningkatan kemampuan lokomotif dan gerbong. Selain itu, meningkatkan keamanan produk dan kemudahan bongkar muat. “Bongkar muat lebih henat menggunakan sistem mekanis dengan operasional hemat Rp 2,09 M/tahun,” katanya.
Namun demikian perbaikan pola operasi kereta api dan sarana juga diikuti dengan menambah kecepatan perjalanan kecepatan barang meningkat sampai 35 km/jam. Bahkan dengan menggunakan KA barang, menurut fajar, bisa menghemat biaya angkut Rp 8,25 persen dibanding menggunakan truk.

Tidak ada komentar: