Jumat, 26 Agustus 2011

Dekan Filsafat UGM Dinobatkan Sebagai Akademisi Muda Top Indonesia

YOGYAKARTA-Muda, berprestasi, dan penuh karya. Sebutan ini nampaknya tidak salah jika disandang oleh Dekan Fakultas Filsafat UGM, Dr. M.Mukhtasar Syamsuddin,M.Hum. Maka, tidak heran jika dirinya masuk dalam 20 Akademisi Top Indonesia versi Majalah CAMPUS Indonesia terbitan Agustus 2011. Dari sisi usia, Mukhtasar saat ini baru 43 tahun. Ia lahir di Luwu, Sulawesi Selatan, 2 Februari 1968. Di usianya tersebut Mukhtasar telah menjabat sebagai Dekan Fakultas Filsafat UGM selama tiga tahun sejak dilantik pada tahun 2008 silam.

Terkait dengan gelar yang diraihnya sebagai Akademisi Top Indonesia, Mukhtasar mengaku tidak tahu persis survei yang dilakukan majalah tersebut. Ia menilai profil maupun informasi yang diperoleh tentang dirinya banyak diambil dari website.

“Kaget juga. Saya sendiri tidak merasa telah berbuat yang berlebih. Tapi ya itu di dunia jurnalistik khan bisa saja caranya untuk survei misalnya dari website dll,”papar Mukhtasar di ruang kerjanya, Kamis (25/8).

Ia mengaku sebenarnya tidak ada yang spesial atau prestasi prestisius yang diperolehnya. Hanya saja dalam kesempatan itu Mukhtasar banyak bercerita bagaimana usahanya dalam membesarkan dan memajukan Fakultas Filsafat dimana selama ini sebagian masyarakat masih melihat dengan sebelah mata dan hanya sebagai “program studi yang kering”. Namun tidak halnya dengan Fakultas Filsafat UGM. Berkat keuletan dan kerja kerasnya Fakultas Filsafat UGM terus “menggeliat” dan mampu berpartisipasi dalam mencari solusi terhadap persoalan bangsa.

“Selain itu juga bisa dilihat dari jumlah peminat mahasiswa yang masuk Fakultas Filsafat UGM mengalami peningkatan. Tahun 2010 lalu jumlah mahasiswa Filsafat hanya 46 orang, kini bertambah menjadi 92 orang,”urai suami dari Yuli Ismulyati ini.

Selama menjabat Dekan, Fakultas Filsafat menurut Mukhtasar juga banyak terlibat dalam perumusan konsep pendidikan kepribadian bersama Kemdiknas. Melalui peran yang dijalaninya dalam kelompok kerja (pokja) nasional telah berhasil dirumuskan kembali metode pendidikan Pancasila. Bahkan, kemudian pendidikan Pancasila ini dimasukkan kembali sebagai mata kuliah wajib di bangku perguruan tinggi.

“Dulu dalam UU Sisdiknas khan hanya dimasukkan dalam Pendidikan Kewarganegaraan, tapi kemudian ada surat edaran Dirjen Dikti yang mewajibkan lagi mata kuliah Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi. Nah, di Fakultas Filsafat UGM ada mata kuliah pendidikan Pancasila dan pendidikan Kewarganegaraan masing-masing 2 sks yang itu juga dicontoh oleh banyak kampus lain,”kata Mukhtasar.

Tidak itu saja, satu terobosan yang dilakukannya setelah menjabat Dekan Fakultas Filsafat yaitu menjalin banyak kerjasama dengan perguruan tinggi lain di luar negeri. Langkah ini, imbuh Mukhtasar, belum banyak dilakukan oleh Dekan sebelumnya. Sebagai contoh, MoU yang sudah dijalin dengan beberapa perguruan tinggi ternama di AS yang tergabung dalam SIT (School of International Training).

“Kerjasama khususnya terkait dengan pertukaran mahasiswa atau short course misalnya. Mahasiswa AS ini banyak belajar mengenai Pancasila, budaya dan agama,”jelasnya.

Di tahun 2009, Mukhtasar juga sempat mendapatkan beasiswa dari Fulbright untuk mengajar di Northeastern State University, Oklahoma, AS. Mukhtasar juga mengaku banyak menyampaikan presentasi terkait filsafat Keindonesiaan maupun local wisdom ke beberapa negara seperti Korea, India, Thailand, Vietnam, serta Belanda.

“ Prinsipnya misi Fakultas untuk mengembangkan filsafat nusantara di dunia internasional bisa tercapai,”jelas penyandang gelar Ph.D dari Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, South Korea ini.

Dengan predikat yang diraihnya sebagai Akademisi Top Indonesia ini Mukhtasar berharap dirinya bisa terus berkarya secara kreatif sehingga mampu berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan bangsa khususnya melalui bidang pendidikan kepribadian. Mukhtasar juga berharap nilai-nilai Pancasila bisa semakin terinternalisasi dalam diri bangsa Indonesia.

“Saya juga banyak berharap ada perubahan paradigma masyarakat terhadap lulusan Fakultas Filsafat yang banyak dinilai hanya akan menganggur. Ini tidak benar. Lulusan Fakultas Filsafat itu bisa bekerja dan diterima di mana saja,”pungkas ayah dari Taqiyya Tsaqifa, Fazla Syathira, dan Azka Masagena tersebut.

Seperti diketahui, Mukhtasar bersama 19 akademisi lain seperti Eep Saefulloh Fatah (pakar politik Universitas Indonesia), Effendi Gazali , PhD (pakar komunikasi Universitas Indonesia), Prof. Adrianus Meliala (pakar kriminologi Universitas Indonesia), Prof. Ismunandar (profesor termuda/pakar Kimia di Institut Teknologi Bandung) serta Prof. Firmanzah (dekan Fakultas Ekonomi termuda Universitas Indonesia) dinobatkan sebagai 20 Akademisi Top Indonesia versi Majalah CAMPUS Indonesia Jakarta terbitan Agustus 2011. Dalam majalah yang banyak memuat tentang pendidikan ini 20 akademisi ini mereka merupakan sosok yang muda, berprestasi, dan penuh karya. Akademisi tersebut semuanya berusia di bawah 50 tahun

Tidak ada komentar: