Kamis, 18 Agustus 2011

Garin Nugroho Filmkan Kisah Kaum Fundamentalis


Yogyakarta - Sutradara Garin Nugroho bersama Maarif Institute memproduksi film berjudul "Mata Tertutup". Film tersebut menceritakan kisah nyata seorang kaum fundamentalis agama di Indonesia.

"Film ini bercerita tentang kisah-kisah yang benar-benar terjadi di tengah masyarakat kita," ungkap Garin Nugroho dalam acara buka bersama sekaligus menyaksikan beberapa penggalan film tersebut di rumahnya di Jayengprawiran, Beji, Pakualaman Yogyakarta, Kamis (18/8/2011).

Menurut dia, kasus fundamentalisme agama telah menghalalkan jalan kekerasan dan memakan korban. Yang mengejutkan justru institusi pendidikan (sekolah) jadi lahan subur tumbuhnya fundamentalisme agama yang menolak keberbedaan, tepa selira dan cenderung melegalkan kekerasan.

"Ini benar terjadi di negeri ini. Fundamentalisme agama telah mengikis semangat ke-Indonesiaan yang multikultur. Sekolah telah kehilangan ruang publiknya sendiri. Tidak hadirnya budaya pendidikan kewargaan yang mengakomodasi ruang-ruang dialog kritis dalam institusi publik merupakan akar masalah fundamentalisme," kata Garin di dampingi Mantan Ketua PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif dan Jajang C. Noer.

Menurut Garin, film "Mata Tertutup" yang berdurasi 90 menit ini menceritakan 3 karakter utama yang diwakili 3 tokoh yaitu Rima, Nanda dan Ibu Asimah. Film ini juga bercerita tentang perpaduan ketidakharmonisan keluarha, kesulitan ekonomi, kefrustasian sosial-politik dan kepicikan pandangan yang merupakan rumput kering yang siap terbakar kapan saja.

"Sudah 75 persen film ini selesai. Setting tempatnya di Yogya dengan sutradara saya sendiri dibantu teman-teman yang masih muda yang berbakat dan enerjik serta mampu bekerja dengan baik dengan dibantu pemain multi talent Jajang C. Noer," kata Garin.

Dalam beberapa penggalan film yang diputar bersama ini, salah satu cerita menceritakan kisah seorang anak muda yang masuk dan direkrut dalam jaringan Negara Islam Indonesia (NII). Di film itu digambarkan dua orang wanita yang naik mobil dengan mata ditutup terlebih dulu untuk di ajak hijrah ke tempat yang lebih mulia di suatu tempat. Di tempa lain, keduanya kemudian dipertemukan dengan seorang ustads yang siap mencuci otak.

Sementara itu Syafii Maarif menambahkan pihaknya sangat mendukung pembuatan film tersebut untuk memberikan sentakan pada masyarakat bahwa Islam itu bukan identik dengan kekerasan tapi agama rahmatan lil alamin. Selain itu agar pemerintah sadar dan peka bila kasus-kasus semacam itu benar-benar ada dan perlu tindakan.

"Pemerintah harus kita tolong. Film ini juga memberi pencerahan agar bangsa ini cepat siuman. Jangan sampai ada harakiri kemanusiaan. Doktrin-doktrin seperti yang difilm itu sudah termasuk pembajakan nabi," kata Buya Syafii.

Tidak ada komentar: