Senin, 08 Agustus 2011

Masjid dan Makam Giriloyo : Kisah Sultan Agung Mencari Makam Keluarganya

Yogyakarta - Cerita berdirinya kompleks masjid dan makam Giriloyo di Dusun Giriloyo/Cengkehan Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Bantul erat kaitannya kompleks Masjid Pajimatan dan makam raja-raja Mataram di Imogiri. Berdirinya masjid dan makam Giriloyo dan Imogiri usianya tidak jauh berbeda sekitar abad 16 M.

Kedua tempat tersebut diperkirakan dibangun saat zaman pemerintahan Sultan Agung. Kedua tempat itu terletak di perbukitan di kawasan Imogiri. Bentuk bangunan masjid kedua tempat tersebut juga hampir sama dengan model atap tumpang dan limasan dengan bahan utama kayu jati.

Di Giriloyo dimakamkan Pangeran Juminah, paman Sultan Agung beserta keluarganya serta ibunda Sultan Agung. Letak makam berada di perbukitan yang ada di atas masjid. Untuk sampai ke makam harus menaiki tangga batu dan semua orang harus melewati Masjid Giriloyo yang berada di bawahnya.

Konon ceritanya, seusai salat Jumat di Mekah, Sultan Agung mengambil beberapa batu kecil dan tanah. Tanah, batu itu kemudian dilemparkan ke arah selatan di perbukitan Imogiri.

Ternyata tanah dan batu itu jatuh di Giriloyo. Karena di tempat itu sudah ada makam pamannya Pangeran Juminah dan ibundanya. Sultan Agung kemudian memindahkannya ke sebelah selatan di Pajimatan Imogiri dan menjadi makam seperti yang sekarang ini.

"Itu cerita rakyat yang berkembang di masyarakat sekitar Imogiri maupun di Yogyakarta. Mau percaya silakan, tidak juga tidak apa-apa," ungkap H. Ahmad salah satu takmir Masjid Giriloyo kepada detikcom.

Menurut dia, kompleks makam Pangeran Juminah juga ada yang mengurusi dan menjaga yakni beberapa abdi dalem kraton yang ditunjuk untuk bertugas. Sebagian besar adalah warga sekitar Dusun Cengkehan Giriloyo. "Sedangkan makam di sekeliling masjid adalah diperuntukkan warga dusun setempat saja," katanya.

Untuk masjid Giriloyo sendiri bagian ruang utama masih utuh seperti semula dengan atap model tumpang atau tajug dengan tiang/saka sebanyak 4 buah terbuat dari kayu jati. Atap tumpang model tajug ini merupakan ciri khas masjid-masjid kuno di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta yang merupakan perpaduan antara arsitektur Islam dan Hindu pada masa itu.

Bangunan tembok masjid berbentuk bujur sangkar dengan luas sekitar 80 meter persegi. Di dalam ruangan tersebut juga terdapat mimbar tempat khatib menyampaikan khutbah. Dinding bangunan terbuat dari batu bata yang diplester. Lantai masjid juga terbuat dari tegel warna hijau tua. Selain itu terdapat bedug, kentongan dan beberapa keranda yang disimpan di samping masjid.

Di sebelah selatan ruang utama terdapat ruang pawestren yang dulu biasa digunakan untuk jamaah putri. Serambi masjid juga masih ada dan berbentuk seperti aslinya. Sedangkan di depan serambi masjid terdapat kolam dengan ukuran 10 x 1,5 meter yang digunakan para jamaah membersihkan kaki sebelum masuk masjid agar bersih dari segala kotoran.

"Semua masih asli dan utuh. Alhamdulillah saat gempa 27 Mei 2006 bangunan tidak rusak tapi hanya retak-retak pada tembok sisi selatan saja," katanya.

Menurut dia, meski sudah ada tiga buah pintu dan empat jendela, ruang utama masji masih tampak gelap dan temaram. Udara di dalam masjid juga sangat sejuk karena banyak pepohonan rindang yang tumbuh di sekeliling masjid.

"Masjid dan makam terutama pada malam hari ramai dikunjungi para peziarah. Biasanya mereka datang pada malam hari dilanjutkan hingga salat subuh di masjid. Untuk bulan puasa paling ramai pada 10 hari terakhir. Orang melaksanakan i'tikaf atau berdiam diri di dalam masjid pada malam hari. Mereka senang ke sini karena tempatnya tenang dan gelap tapi sejuk," katanya.

Tidak ada komentar: