Kamis, 11 Agustus 2011

Masjid Darussalam Pucanganom, Masjid Markas Laskar Hizbullah

Yogyakarta - Masjid Darussalam dipercaya merupakan sebuah masjid kecil berusia lebih dari 200 tahun. Dusun dan masjid dibangun oleh Kiai Pucang salah satu murid Kiai Ageng Gribig dan Kiai Ageng Wonolelo, seorang tokoh penyebar Islam di wilayah Klaten, Sleman dan Yogyakarta.

Masjid Darussalam atau sering disebut Masjid Pucang terletak di Dusun Pucanganom, Desa Murtigading, Kecamatan Sanden, Bantul. Masjid itu terletak sekitar 7 kilometer dari kilometer dari pesisir selatan Pantai Samas atau sekitar 20 km arah selatan Kota Yogyakarta.

Tidak banyak yang tahu kapan persisnya masjid itu ada dan berdiri. Namun warga sekitar mempercayai masjid tersebut telah berusia lebih dari 300 tahun atau berdiri pada abad 17 M. Itu merupakan salah satu masjid tertua di wilayah Bantul, selain Masjid Sabilulrosyad di Kauman Wijirejo, Pandak Bantul yang merupakan peninggalan zaman Panembahan Bodho.

Jejak-jejak Kiai Pucang menyebarkan agama Islam di wilayah selatan Jawa saat ini masih bisa ditelusuri dengan adanya banyak nama dusun Pucanganom yang ditemukan di Bantul, Wedomartani Ngemplak dan Ngijon Moyudan Sleman hingga wilayah Bagelen Purworejo.

Seperti halnya masjid-masjid kuno lainnya di Jawa, di belakang masjid juga terdapat kompleks makam kuno yang dipercaya sebagai keturunan Kiai Pucang. Di sekitar Desa Murtigading juga banyak ditemukan makam kuno dengan nisan batu kapur.

Selain itu di sekitar masjid dulu pernah ditemukan patung Ganesha, jambangan/tempat air dari tanah liat kuno yang merupakan peninggalan zaman Hindu serta mustaka masjid. Mustaka masjid itu kemudian disebut dengan mustaka tiba.

Diperkirakan pada awal berdiri Masjid Pucang/Darussalam masih sederhana bangunannya. Baru pada zaman Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat masjid itu dibangun lebih besar. Masjid ini menempati tanah milik Kraton Yogyakarta seluas 799 meter persegi yang disebut tanah putih atau tanah untuk keagamaan. Bangunan masjid dengan model joglo rangkap menggunakan kayu jati. Satu bangunan sebagai ruang utama masjid. Sedang satu bangunan lagi sebagai serambi.

Dari penuturan salah seorang pengurus masjid, M. Syamsul, masjid ini sudah mengalami renovasi/pemugaran beberapa kali diantaranya tahun 1915,1930, 1948. Pemugaran terakhir kali padatahun 1993 yang diresmikan langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Menurut dia, pada massa agresi militer Belanda II tahun 1948, masjid ini menjadi markas Laskar Tentara Hizbullah Sabilillah untuk wilayah Bantul. Dua tentara gugur saat terjadi perang dengan Belanda yang saat itu berpatroli di Bantul. Dua anggota Laskar Hizbullah yang gugur adalah Sukarno dan Ali sempat di semayamkan di serambi masjid, kemudian di makamkan di Makam Blimbing tidak jauh dari Desa Murtigading Sanden.

"Ini boleh dikata sebagai masjid perjuangan/laskar. Banyak warga yang tua-tua masih ingat peristiwa itu," katanya.

Tidak ada komentar: