Rabu, 03 Agustus 2011

Pemerintah Siap Kucurkan Dana Rp 1,3 T Asal Warga Merapi Mau Direlokasi

Yogyakarta - Pemerintah pusat siap mengucurkan dana Rp 1,3 Triliun untuk rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab rekon) wilayah Merapi yang terkena letusan 2010 lalu. Syaratnya, warga yang tinggal di sembilan dusun di tiga desa yang masuk kawasan rawan bencana (KRB) harus dikosongkan.

Hal itu diungkapkan Bupati Sleman, Sri Purnomo kepada wartawan di kantor di Beran, Sleman, Rabu (3/8/2011).

"Kebijakan relokasi ini yang memutuskan adalah pemerintah pusat. Bukan gubernur lagi, sebab meliputi dua wilayah, Propinsi Jawa Tengah dan DIY," kata Sri Purnomo.

Menurut dia, pihaknya bersama gubernur hanya sebagai jembatan saja antara pemerintah dengan warga yang menolak relokasi. Dia pun juga menghormati aspirasi warga lereng Merapi yang menolak relokasi.

Dia mengatakan hasil dialog dengan warga beberapa waktu lalu, hasilnya akan dilaporkan dan didialogkan dengan pemerintah pusat.

"Kami akan terus menjembatani aspirasi masyarakat. Apapun hasilnya itu semua adalah kewenangan pusat. Kami juga menerima surat tembusan warga Desa Glagaharjo yang menyurati presiden soal tersebut. Jadi tunggu saja hasil komunikasi Gubernur DIY dengan Wapres," katanya.

Dia berharap warga bisa menerima keputusan yang diambil pemerintah dengan akal sehat bukan emosional. Namun juga pemerintah diharapkan juga bisa memahami keinginan warga yang tetap tinggal di wilayah tersebut.

"Kami memahami bila pemerintah ingin warga berada di tempat aman," katanya.

Sampai saat ini sedikitnya ada sembila dusun di tiga desa yakni Umbulharjo, Kepuharjo dan Glagaharjo yang menyatakan menolak direlokasi di lokasi yang telah disediakan. Mereka menganggap batas-batas tanah tidak hilang dan wilayah tersebut merupakan tempat mencari penghidupan dengan beternak dan bertani.

Sedangkan sembilan dusun yang dianjurkan untuk dikosongkan antara lain Pelemsari, Pangukrejo, Srunen, Kalitengah Kidul dan Lor. Sebagian besar warga di dusun tersebut menolak untuk relokasi.

Tidak ada komentar: