Rabu, 24 Agustus 2011

Pemuda Tidak Lepas dari Stigma

Pemuda selalu berada dalam dilema antara cara pandang orang dewasa dan dirinya sendiri. Ketika mereka merasa tidak berperilaku seperti yang diangankan orang dewasa, maka mereka sering dianggap salah dengan pelabelan stigma negatif. Padahal dibalik stigma yang disandangnya itu, mereka berusaha menampilkan sisi sebagai manusia yang cukup kritis dalam membaca kenyataan.
Hal itu disampaikan Dosen Fisipol UGM, Subando Agus Margono, M.Si dalam diskusi ‘Pemuda dan Identitas’ yang diselenggarakan Youth Studies Centre, di ruang seminar pascasarjana Fisipol, Selasa (23/8) sore.
Menurut Subando, berdasarkan hasil penelitianya tentang kehidupan pemuda di kampung sangkrah, Solo diketahui bahwa pemuda ditempat tersebut dianggap oleh pemerintah setempat dan masyarakat sekitar sebagai kampung dengan predikat kurang baik. “Tidak hanya perilaku mereka, namun nama kampun mereka pun dipandang negatif,” tuturnya.
Lebih jauh Subando menuturkan, apa yang dialami para pemuda kampung Sangkrah merupakan hal yang biasa dialami oleh pemuda miskin yang tinggal di pingiran kota-kota besar di Indonesia. “Negara sering kali salah membaca pemuda, sering menganggap pemuda dalam posisi stigma negatif atas perilaku moral yang dibuatnya. Ditambah kondisi ekonomi pemuda yang miskin,” tandasnya.
Stigma yang dibangun pada pemuda saat ini mengalami kemunduran. Bila sebelum kemerdekaan, para pemuda itu dianggap sebagai pemikir. Kemudian pada saat penjajahan Jepang, pemuda dibangun kesadaran untuk melawan penjajah untuk merebut kemerdekaa. “Sayang, sampai saat ini pemuda tidak ditempatkan sebagai agen pembangunan. Negara selalu saja salah membaca,” pungkasnya

Tidak ada komentar: