Rabu, 21 September 2011

Anggota DEN Desak Pemerintah Pangkas Subsidi Listrik dan BBM 2012

Yogyakarta – Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Prof. Dr. Ir. Tumiran, M.Eng mendesak pemerintah agar memangkas dana alokasi subsidi BBM dan listrik yang diperkirakan mencapi Rp 200 triliun pada tahun 2012. Sebab subsidi tersebut lebih banyak tidak tepat sasaran, karena dimanfaatkan untuk konsumtif masyarakat kaya dan mampu.

"Subsidi secara bertahap harus dikurangi, seharusnya keluarga yang mampu disuruh berhemat, bukan rakyat yang tidak mampu," kata Tumiran yang juga Dekan Fakultas Teknik (FT) Universitas Gadjah Mada (UGM) kepada wartawan disela-sela workshop on development of new and renewable energy, di ruang sidang plaza KPTU Fakultas Teknik, Rabu (21/9/2011).

Menurut Tumiran pemangkasan subsidi tersebut bisa menghemat dana anggaran APBN. Pengurangan dana subsidi tersebut juga bisa dialokasikan untuk melaksanakan program pemerintah yang lain seperti percepatan pembangunan infrastruktur seperti jalan dan listrik sehingga mampu menggerakkan roda perekonomian dan penyerapan ribuan lapangan kerja.

"Dana tersebut juga bisa alokasikan untuk membantu program pengembangan energi terbarukan. Karena untuk program pengembangan energi terbarukan, kita masih kalah jauh dibanding negara lain," katanya.

Dia mengatakan program pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia harus didukung pemerintah dan DPR terutama dalam masalah kebijakan, pengaturan harga, aspek sosial dan politik. Sebab pengembangan energi terbarukan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Selain itu lanjut dia, pembangunan dan pemanfaatann energi terbarukan tidak lagi menjadi tanggung jawab pemerintah pusat namun juga pemerintah daerah. Daerah-daerah harus juga peduli dengan masalah energi," kata staf pengajar jurusan elektronika itu.

Menurut Tumiran pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia masih sangat minim. Padahal pemerintah berencana untuk mencapai target kontribusi energi baru dan terbarukan menjadi 25 persen dari total kebutuhan energi pada tahun 2025 dan 40 persen pada tahun 2050.

Menurutnya, Indonesia perlu belajar dari negara-negara lain yang sudah lebih maju dalam pemanfaatkan energi baru dan terbarukan, seperti negara Swedia. Saat ini produksi energi listrik di Swedia sudah mencapai 50 persen yang berasal dari energi terbarukan seperti tenaga air, biomassa dan sampah organik kota dan tenaga angin.

"Kami saat telah menggandeng Swedia dalam penelitian dan pengembangan energi baru dan terbarukan. Salah satu bentuk kerjasama itu adalah pemanfaatan sampah buah busuk di pasar Gamping untuk diubah menjadi listrik. Pemanfaatan energi terbarukan di pasar gamping ini sudah diinisiasi FT UGM dan Universitas Boras Swedia, Pemkab Sleman dan pemerintah Kota Boras. Hal ini yang pelan-pelan kita coba manfaatkan," pungkas Tumiran.

Tidak ada komentar: