Senin, 19 September 2011

Mahasiswa Yogya Tolak Politik Uang Dalam Pilkada Kota

Yogyakarta - Puluhan mahasiswa Yogyakarta tergabung dalam Pemoeda Tamansiswa menggelar aksi damai menolak adanya politik uang dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) di Kota Yogyakarta. Mereka menuntut pilkada yang akan digelar pada tanggal 25 September 2011.

Aksi diawali dari Pendapa Taman Siswa di Jl Taman Siswa, Yogyakarta menuju Simpang Empat Kantor Pos Besar Yogyakarta di Jl Senopati, Senin (19/9/2011). Dalam aksi tersebut massa menutup mulutnya dengan uang kertas tiruan senilai Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu. Uang kertas tiruan tersebut kemudian ditempelan di mulut sebagai sebagai tanda menolak adanya praktek politik uang di pilkada Kota Yogyakarta.

Saat melakukan aksi longmarch, massa di kawal aparat Poltaresta Yogyakarta. Di sepanjang jalan yang di lewati yakni Jalan Taman Siswa, Sultan Agung dan Senopati massa membagi-bagikan selebaran yang berisi imbauan agar warga Yogyakarta menolak segela macam praktek kotor dalam pilkada terutama politik uang.

Salah satu koordinator aksi Indra kepada wartawan di sela-sela aksi mengatakan pilkada Kota Yogyakarta harus berani menyatakan tidak, untuk segala macam politik uang. Sebab hampir di setiap penyelenggaraan pemilihan, para calon maupun tim sukses secara terang-terangan membagi-bagikan uang kepada warga demi memenangkan pemilihan.

"Masyarakat harus berani menolak. Sebab dengan cara seperti ini akan mempersempit langkah para politikus yang akan bermain politik uang," kata Indra.

Dia mengatakan masyarakat Kota Yogyakarta harus disadarkan, jika salah memilih pemimpin akan menambah jumlah pemimpin yang hanya merusak negeri ini. Saat ini banyak mantan bupati, walikota hingga gubernur dan pejabat lainnya yang terseret kasus korupsi.

Menurut dia, pilkada Kota Yogyakarta tidak menutup kemungkinan adanya ajang pencucian uang para koruptor dari Jakarta. Oleh karena itu masyarakat Yogyakarta harus berani menolaknya. "Jadikan Kota Yogyakarta menjadi contoh pilkada yang bersih dan zero money politic," kata Indra.

Tidak ada komentar: