Rabu, 26 Oktober 2011

Kesulitan Pakan, Ditemukan Banyak Kasus Sapi Ambruk

Musim Kemarau yang berkepanjangan dalam beberapa bulan terakhir telah menyebabkan Kasus ternak sapi mendadak ambruk ternyata ditemukan di beberapa daerah di pulau Jawa. Staf pengajar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM drh. Surya Agus Prihatna,M.P. meyakini sapi-sapi tersebut mengalami kekurangan nutrisi. Dia menenggarai sekitar 10-15 persen kasus sapi ambruk terjadi di tiap daerah.“Kita perkirakan sekitar 10-15 persen sapi ambruk,” kata drh. Surya Agus Prihatna,M.P. ditemui disela-sela kegiatan workshop Gangguan reproduksi dan Sektio Caesaria pada Sapi di Rumah Sakit Hewan Prof. Soeparwi, Selasa (25/10).

Berdasarkan hasil pantauannya, beberapa daerah yang banyak mengalami kasus sapi ambruk dianyaranya Bantul, Sleman, Blora, Wonogiri. Salah satu gejala sapi ambruk adalah sapi tidak mampu berdiri lagi dan selalu merebahkan badannya. Biasanya tejadi penurunan berat badan yang cukup drastis. “Biasanya peternak langsung menjual sapinya dengan harga murah,” katanya.

Selain karena faktor kesulitan pakan, kata Surya Agus, faktor rendahnya harga jual sapi di pasaran juga menjadi penyebab para peternak enggan mencari pakan bagi ternak sapinya. Bisa jadi, biaya membeli pakan sudah tidak seimbang dengan hara jual sapi.

Ia pun mengusulkan kepada pemerintah dan lembaga terkait untuk membantu peternak dengan menyediakan bantuan pakan terutama pakan hijauan. Pasalnya, sulitnya, sumber pakan hijauan ini juga mendorong peternak menggunakan pakan seadanya. Padahal pakan tersebut terkontaminasi sumber penyakit. “Saya menemukan 10 sapi yang inbreeding, sekitar 60 persen kena jamur aspergillus. Itu semua karena pakan,” imbuhnya. Menurut hematnya, dengan terinfeksi jamur tersebut bahkan tidak mungkin menyebabkan abortus pada sapi betina.

Direktur RSH Prof Soeparwi FKH UGM, Prof. Dr. drh. Ida Tjahajati, M.S., menuturkan banyak sekali ditemukan kasus reproduksi sapi di lapangan akibat masalah pakan sehingga menyebabkan kematian pedet atau bahkan kematian pedet dan induknya. “Tentu saja ini sangat merugikan peternak,” ujarnya.

Untuk mengatasi kasus sapi ambruk dan gangguan reproduksi pada sapi, kata Ida, pihaknya menggelar workshop dengan menghadirkan para praktisi dokter hewan dari berbagai daerah untuk membantu mengatasi gangguan reproduksi pada sapi. Beberapa dokter hewan yang diundang berasal dari DIY, Magelang, Semarang, Demak, Wonogiri, Klaten,Banjarnegara,Jakarta, Bandung, Surabaya dan Riau.

Tidak ada komentar: