Jumat, 14 Oktober 2011

Sultan Sendiri Akan Nikahkan Putri Bungsunya

Yogyakarta - Sri Sultan Hamengku Buwono X akan menikahkan sendiri putri bungsunya, GKR Bendara dengan KPH Yudanegara. Prosesi akad nikah/ijab qobul akan dilakukan di Masjid Panepen, Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat, hari Selasa (18/10/2011) pukul 07.00 WIB.

Akad nikah akan dilakukan Sultan HB X sendiri dengan mempelai pria disaksikan kerabat dekat. Prosesi ini sama seperti saat Sultan menikahkan putri-putrinya terdahulu.

Ijab qobul juga akan menggunakan Bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang akan digunakan saat akad nikah juga telah dituliskan dalam berkas di Kantor Urusan Agam (KUA) Kecamatan Kraton. Meski KPH Yudanegara berasal dari luar Jawa (Lampung) menyatakan bisa menghafal atau membaca saat ijab nanti.

Pernikahan tidak dipimpin petugas dari KUA Kecamatan Kraton, namun oleh penghulu/pengulon keraton, H. Mukhsin Kamaludiningrat.

"Petugas KUA hanya mencatat saja. Sultan sendiri yang akan menikahkan putrinya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan beberapa perhiasan," kata penghulu KUA Kecamatan Kraton, Ahmad Sakdiyah, di kantor, Jumat (14/10/2011).

Menurut dia, petugas KUA hanya mencatat dan menyaksikan jalannya akad nikah. Calon penganti juga telah mendaftar di KUA pada tanggal 30 Juni 2011. Semua persyaratan dan data kelengkapan masing-masing mempelai sudah lengkap.

"BP4 juga telah memberikan penasihatan sebelum nikah. Semuanya sudah sesuai landasan hukum yang dijalankan," kata Ahmad.

Seusai prosesi akad nikah mempelai pria kembali ke Gedhong Kesatriyan untuk mempersiapkan mengikuti prosesi panggih. Upacara panggih (temu pengantin) akan dilakukan di Bangsal Kencana pada pukul 10.00 WIB. Beberapa tamu undangan khusus VVIP yang diundang untuk hadir daam acara panggih diantaranya Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres RI Boediono serta sejumlah tamu penting para menteri KIB II.

Upacara pernikahan putri bungsu Sultan Hamengku Buwono X, GRAj Nurastuti Wijareni (GKR Bendara) dengan Achmad Ubaidillah (KPH Yudanegara) akan berbalut kemeriahan, tradisi yang mengakar, dan menjadi pusat perhatian. Perpaduan tradisi dan kemeriahan itu setidaknya bakal tercermin dari kirab pengantin yang melibatkan sembilan kereta kuda.

Ada dua prosesi kirab, yang pertama saat membawa pengantin pria dan keluarga dari Ndalem Mangkubumen menuju Bangsal Ksatrian. Kirab ini dilaksanakan pada Minggu (16/10) menggunakan tiga kereta kuda.

Tidak ada komentar: