Rabu, 30 November 2011

Jelang 1 Desember, Mahasiswa Papua di Yogya Kembali Diteror

Yogyakarta - Pasca terjadi kekerasan di Papua beberapa waktu lalu hingga menjelang peringatan hari kemerdekaan Papua 1 Desember, mahasiswa asal Papua di Yogyakarta kembali mendapat ancaman dan teror.

Ancaman dan teror baik langsung maupun tidak langsung itu telah mengakibatkan banyak pelajar/mahasiswa yang sedang belajar di kota pelajar menjadi resah dan tidak tenang. Sebagian dari mereka yang memilih pulang ke Papua karena orangtua khawatir akan keselamatannya.

"Ancaman dari orang-orang atau kelompok yang kami tidak ketahui sampai menjelang 1 Desember besok masih terjadi," ungkap Martin salah satu pengurus Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) di Kantor LBH Yogyakarta di Jl H. Agus Salim, Rabu (30/11/2011).

Menurut dia, ancaman seperti teror melalui SMS dan telepon paling sering terjadi. Beberapa asrama mahasiswa Papua di Yogya juga sering didatangi orang-orang tidak dikenal dan terus diawasi setiap kegiatan di asrama.

"Kalau ancaman, teror dan intimidasi lewat SMS kami sudah biasa dan tidak takut. Namun akhir ini sudah sampai taraf mengikuti dan membuntuti kemana kami pergi," katanya.

Martin mengatakan masyarakat Papua di Yogya sudah bertemu dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk meminta perlindungan pada pertengahan bulan lalu, namun ancaman itu masih terus terjadi.

"Ancaman yang paling ada beberapa teman kami yang didatangi orang tak dikenal dengan diancam akan dilukai," katanya.

Intimidasi terakhir yang diterima kata Martin adalah saat teman-teman AMP bersama Solidaritas Anak Bangsa untuk Kemanusiaan (SABUK) melakukan kegiatan diskusi di wilayah Bantul.

"Mereka terus mengetahui kami berkegiatan dimana saja. Mereka mengikuti terus. Kami tidak kenal mereka siapa, tapi ada juga yang mengaku orang Papua yang telah 20 tahun tinggal di Yogya, tapi tidak kami kenal," katanya.

Sementara itu anggota SABUK, Ronny Simatupang menambahkan pihaknya meminta LBH Yogyakarta untuk membantu advokasi dan memberikan perlindungan dengan adanya ancaman yang diterima anggota AMP dan SABUK.

Menurut Ronny, SABUK bukanlah organisasi politik namun lebih banyak berkegiatan di bidang kemanusiaan. "Kami berkegiatan di bidang kemanusiaan dan tidak ada urusannya dengan politik tapi terus mendapat ancaman juga," pungkas Ronny.

Tidak ada komentar: