Jumat, 18 November 2011

Polda DIY Ungkap Penipuan Investasi Bodong Senilai Rp 194,3 miliar

Yogyakarta - Polda DI Yogyakarta kembali membongkar kasus penipuan berkedok
investasi. Ribuan nasabah/investor dengan nilai sekitar Rp 194,3 miliar digondol
oleh tersangka melalui PT Cahaya Forex Yogyakarta (CFY).

"Tersangka satu orang yakni Nur Sigit Cahyo yang juga pimpinan PT CFY, warga
Magelang yang selama ini tinggal di Kecamatan Piyungan Bantul," kata Dirkrimsus Polda DIY Kombes, Joko Lelono di Mapolda DIY di Ringroad Utara, Sleman, Jumat (18/11/2011).

Menurut Joko, modus penipuan berkedok investasi Forex itu dijalankan tersangka
melalui jaringan online. Nasabah yang tertipu tidak hanya dari Yogyakarta saja
tapi berbagai kota di Indonesia.

Para nasabah yang berinvestasi ditawari keuntungan atau profit sebesar 20 persen tiap bulan dari nilai uang yang diinvestasikan. Namun sampai saat yang telah ditentukan, janji keuntungan tersebut tidak diberikan oleh tersangka. Proses pencarian juga dipersulit.

"Dari ribuan nasabah itu, total investasi yang diduga digelapkan pelaku sekitar Rp
194,3 miliar dan kemungkinan bisa bertambah lagi," katanya.

Selain menahan dan memeriksa tersangka Nur Sigit kata Joko, polisi juga menyita
barang bukti 3 unit CPU, 2 laptop, satu mobil Toyota Yaris, pistol airsoft gun, dua
HP, 7 BPKB, dua sertifikat tanah dan lima buku tabungan. Kantor pusat PT CFY ada
di kawasan Mergangsan Kota Yogyakarta dan 12 kantor cabang di Lampung, Bogor, Bandung, Purwokerto, Purworejo, Temanggung, Solo, Tulungagung, Tuban, Bali dan Palangkaraya.

Menurut Joko terungkapnya kasus ini bisnis investasi dari laporan salah satu
nasabah/korban, Aryo Adhi Nugroho, warga Bumi Serpong Damai (BSD) Tangerang, Banten pada 2 November 2011.

Korban menginvestasikan uang Rp 50 juta dengan janji keuntungan 20 persen tiap bulan dari nilai investasi yang disetorkan. Masa investasi selama 18 bulan dan modal awal baru akan dikembalikan. Apabila sebelum 18 bulan, uang yang diinvestasikan akan ditarik, nasabah hanya akan menerima 50 persen dari nilai investasi awal.

"Korban mulai curiga setelah modal awal tidak bisa diambil meski sudah jatuh tempo," katanya.

Selama ini kata Joko, dalam bertransaksi nasabah dengan perusahaan hanya secara online dan transfer bank. Total investor di seluruh kantor mencapai 19.460 orang dengan nilai investasi Rp 194 miliar. Khusus untuk nilai investasi di Yogya mencapai Rp 38,7 miliar dengan jumlah investor 7.058 orang.

"Setelah kami teliti, kantor cabang tidak memiliki izin pelaksanaan investasi. Saat
ini kami masih mendata jumlah nasabah yang mengadukan kasus ini. Tersangka akan dijerat Pasal 372 dan 378 KUHP tentang penipuan dan penggelapan dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara," pungkas Joko.

Tidak ada komentar: