Kamis, 26 Januari 2012

Keluarga Besar Jenderal Soedirman Gelar Haul Ke 62

Yogyakarta - Keluarga Besar Panglima Jenderal Soedirman menggelar acara peringatan haul yang ke 62 di Yogyakarta. Acara haul yang merupakan doa dan dzikir bersama yang ada dihadiri puluhan ribu umat Islam untuk mendoakan Panglima Besar (Pangsar) Jenderal Soedirman dan para pahlawan negeri ini.

"Ini merupakan acara rutin tahunan. Hanya saja untuk tahun ini memang kita buat secara lebih besar dari tahun sebelumnya," ungkap H. Boegiaksi dari Jenderal Soedirman Center (JSC) di Donolayan, Ngaglik, Sleman, Kamis (26/1/2012).

Menurut Boegiakso, acara haul akan di gelar pada hari Minggu (29/1/2012) pukul 07.00 WIB di Lapangan Donolayan, Desa Donoharjo Kecamatan Ngaglik Sleman. Acara yang akan dihadiri puluhan ribu umat Islam dari berbagai wilayah di Pulau Jawa ini digelar bersama Majelis Dzikir Al Khidmah.

Dia mengatakan doa bersama ini untuk mendoakaan almarhum Pangsar Jenderal Soedirman sebagai salah satun pahlawan nasional serta para pahlawan nasional bangsa Indonesia lainnya.

"Tanggal 29 Januari adalah tepat 62 tahun kepergian beliau seusai memimpin perang gerilya mempertahankan Republik Indonesia dari Belanda," katanya.

Menurut Boegi, ada beberapa keteladanan dari beliau yang patut menjadi contoh saat ini yakni sifat pantang menyerah. Saat itu, Jenderal Soedirman memimpin gerilya dari Yogyakarta dalam kondisi sakit setelah operasi paru-paru.

Selama tujuh bulan beliau bergerilya setelah mendapat restu Presiden Soekarno dan meninggalkan Bu Dirman yang waktu itu masih mengandung anak yang kedua. Beliau memakai jas/mantel tebal itu bukan untuk gagah-gagahan, tapi karena badannya masih sakit meriang.

"Sedang ikat kepala itu juga untuk penghangat atau penutup kepala," kata Boegiakso didampingi KH Sirojan Manira dari PP Al Haromain Kulonprogo yang juga anggota Majelis Dzikir Al Khidmah.

Dia kemudian mencontohkan salah satu ucapan Pangsa Soedirman yakni "Tentara kita jangan sekali-kali mengenal sifat menyerah kepada siapapun juga yang akan menjajah dan menindas kita kembali". Ucapan tersebut mengandung makna hendaknya menjadi pemimpin itu harus gigih dan mengutamakan kepentingan orang banyak.

"Selain berdoa bersama, kita ingin menyuarakan kembali keteladanan beliau karena saat ini kita kekurangan sosok pemimpin seperti beliau. Acara ini bukan untuk pemanasan politik menjelang 2014, karena kami lebih berkonsentrasi pada masalah sosial, pendidikan dan kesejahteraan rakyat," pungkas Boegiakso.

Tidak ada komentar: