Kamis, 08 Maret 2012

Diponegoro Bukan Pemberontak

Yogyakarta - Sejarawan Inggris, Dr Peter Carey menegaskan sosok Pangeran Diponegoro bukan seorang pemberontak yang melawan Belanda dan tidak diberi tahta di Kraton Yogyakarta serta marah karena tanah di depan rumah leluhurnya di Tegalrejo dibangun jalur kereta api.

Sosok Diponegoro yang mempunyai nama kecil Pangeran Ontowiryo, seorang bangsawan Jawa dari Kraton Yogyakarta adalah seorang yang sederhana, seorang yang taat beragama Islam dan jenius pada zamannya.

"Fakta-fakta yang kami pelajari dia bukan itu, seorang pemberontak terhadap Belanda. Dia itu seorang sederhana, imannya kuat karena banyak belajar agama dari para kiai," ungkap Peter Carey kepada wartawan seusai diskusi buku berjudul‘Kuasa Ramalan, Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855' karya Peter Carey Pendapa Sasana Wiratama, Tegalrejo, Yogyakarta Kamis, (8/3/2012).

Menurut Peter, selama ini sosok Diponegoro ditampilkan seperti itu berdasarkan penulisan atau laporan yang ditulis oleh orang/sejarawan Belanda. Namun ada banyak hal yang bisa didalami dari Babad Diponegoro yang ditulis selama di pengasingan.

"Sebagai seorang yang taat beragama, dia sempat menasehati Sultan saat itu, Sultan saat ini anda seorang raja yang berkuasa. Tapi nanti setelah mati di akhirat nanti anda hanyalah seorang rakyat biasa, tidak beda dengan yang lain," tutur Peter menirukan ucapan Diponegoro yang dikutip dari hasil penelitiannya.

Dia mengatakan perang Jawa (1825-1830) merupakan tonggak perubahan penting dalam sejarah Jawa dan seluruh Nusantara. Saat ini pemerintah Belanda berhadapan dengan pemberontakan masyarakat Jawa yang meliputi sebagian besar wilayah Jawa. Sebagian besar Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta banyak daerah pesisir utara terlibat.

"Dua juta orang Jawa atau sepertiga jumlah seluruh penduduknya menderita akibat perang, seperempat luas seluruh daerah pertanian Jawa rusak, dan sekitar 200.000 orang Jawa menjadi korban," katanya.

Untuk memenangkan peperangan itu lanjut Peter, Belanda telah menghabiskan uang kas sebesar 20 juta Gulden. Sebanyak 7 ribu orang pribumi yang merupakan serdadu pembantu tewas. Belanda kehilangan 8 ribu serdadu.

"Setelah itu Belanda kehabisan tentara baik dari Eropa dan pribumi sehingga muncul tentara bayaran dari daerah Ghana Afrika untuk mencukupi kebutuhan tentara di Jawa," katanya.

Menurut Peter setelah diasingkan atau dibuang ke Sulawesi dan Ambon hingga meninggal, Diponegoro menyusun sebuah buku berjdul 'Babad Diponegoro'. Buku tersebut bertutur mengenai riwayat hidup Diponegoro dengan latar pergolakan akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19, ketika kekuatan imperialisme baru Eropa melanda nusantara.

Dalam buku setebal 1.200 halaman itu, dia mengungkap rahasia tokoh sejarah yang penuh teka-teki dan karisma itu, sosok yang mengakui kelemahannya sebagai penggemar perempuan. Namun dia juga gagah berani dan blak-blakan menghadapi kekejian kolonial.

Menurut dia, dari penelitian itu ternyata Diponegoro itu memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi. Dia telah berjuang untuk membantu rakyat Jawa yang pada waktu itu dililit kemiskinan karena politik pemerasan Belanda. Dia kemudian menjadi sosok seorang ratu adil tanah Jawa.

Dia berjuang untuk meluruskan moralitas yang pada waktu itu dirasa sudah merosot. Karenanya beliau berjuang dibawah panji-panji Islam dan didukung ulama. Tiga kekuatan masyarakat, yaitu rakyat Jawa, sebagian besar bangsawan kraton dan oleh hampir seluruh ulama di Jawa Tengah bagian selatan mendukungnya.

Dia tidak saja merupakan seorang pemimpin dan ahli perang, tetapi juga seorang sastrawan dengan menulis “Babad Diponegoro” sewaktu pengasingan di Manado. Buku yang ditulis dalam 9 bulan, dengan tebal 970 halaman dalam huruf Jawa pegon, dan dalam bentuk syair syair macapat Jawa.

"Kami melakukan penelitian sejerah Diponegoro sejak awal tahun 1970-1980-an. Semua data didapat dari arsip yang otentik dari arsip arsip di Indonesia (Arsip Nasional RI, Perpustakaan Nasinal, arsip KITLV di Belanda," kata Peter.

Tidak ada komentar: