Kamis, 08 Maret 2012

Keluarga Hashim Djojohadikusumo Ternyata Keturunan Prajurit Diponegoro

Yogyakarta - Keluarga besar Hashim Djojohadikusumo ternyata keturunan salah satu prajurit/pengikut pahlawan nasional Pangeran Diponegoro. Hashim mengaku bangga dan kagum dengan sosok kepahlawanan Pangeran Diponegoro yang mempunyai nama kecil Pangeran Ontowiryo itu.

Hal itu diungkapkan Hashim saat memberikan pengantar diskusi buku berjudul‘Kuasa Ramalan, Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855' karya Peter Carey Pendapa Sasana Wiratama, Tegalrejo, Yogyakarta Kamis, (8/3/2012).

"Eyang cicit saya itu Raden Tumenggung Kertonegoro adalah salah satu prajurit/pengikut Pangeran Diponegoro," ungkap Hashim.

Menurut Hashim, eyang atau kakek cicitnya itu dalam keluarganya disebut Eyang Banyak Wide yang dimakamkan di Gombong Kebumen Jawa Tengah. Dia merupakan salah satu prajurit yang ikut perang Jawa bersama Pangeran Diponegoro tahun 1825-1830.

Hashim mengetahui setelah kakeknya Djojohadikusumo bersama keluarga besar Sumitro Hadikusumo pada tahun 1968 kembali ke Indonesia setelah selama 11 tahun hidup di luar negeri karena bertentangan dengan Soekarno. Saat itu dia baru berumur 14 tahun.

Setelah kembali ke Indonesia, Hashim bersama kakaknya Prabowo Subianto kemudian diajak mengunjungi beberapa di Jawa Tengah untuk berziarah. Salah satunya mengunjungi makam eyang cicitnya Raden Tumenggung Kertonegoro dan eyang buyut Adipati Mangkuprojo di Gombong Kebumen.

"Karena saya lama tinggal di luar negeri selama 11 tahun, Bahasa Indonesia saya juga belum lancar waktu itu," tuturnya.

Selain berziarah ke makam leluhur selama beberapa hari di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang dikunjungi bersama kakeknya diantaraya Dawuhan Banyumas, Candiwula Wonosobo, Sleman Yogyakarta dan Magelang. Saat berada di Magelang, di ajak ke bekas kantor Residen Magelang dan Akademi Militer Nasional atau Akademi Angkatan Bersenjata.

Di museum atau bekas bangunan gedung karesidenan itu, kakeknya bercerita mengenai kepahlawan Pangeran Diponegoro hingga dia ditangkap dan diasingkan. Hashim pun sempat melihat meja dan kursi yang pernah diduduki Pangeran Diponegoro saat perundingan.

"Kakek saya bercerita sejarah kepahlawanan Diponegoro. Saya kagum dengan kepahlawanan beliau. Setelah mengunjungi Magelang dan AMN, kakak saya Prabowo kemudian masuk sana dan jadi tentara," katanya.

Dia menambahkan pihaknya melalui Yayasan Arsari Djojohadikusumo mendukung sepenuhnya penerbitan mengenai buku Kuasa Ramalan, Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855' karya Peter Carey tersebut. Sebab buku tersebut bisa menjadi sarana untuk pembangunan karakter bangsa.

"Ini buku ilmiah, sosok Pangeran Diponegoro dapat ditempatkan pada kedudukan yang senilai dengan kepahlawanan beliau. Beliau memperjuangkan peningkatan dan penguatan moralitas pada zamannya. Ini bisa menjadi inspirasi pada masa kini terutama untuk bahan pendidikan dan pembangunan karakter bangsa," pungkas Hashim.

Tidak ada komentar: